sebuah jalan yg menghadapkanku pada sebuah pilihan. pilihan dimana sesuatu akan terjadi baik atau buruk nantinya. semua berjalan begitu real tapi sangatlah perih. berlalu dengan sangat lambat tapi pasti dan nyata. semua seakan seperti air bah yg begitu cepatnya menyapu pipiku. cinta hanya sebuah untaian kata yg sangat sulit diterka. ketika sebuah cinta mematahkan sebuah teori, teori yg sudah tersusun secara sistematis dan rinci, hancur seketika dengan pasti. apa sih cinta? apasih teori? apakah logika dan perasaan akan berperan nantinya? apakah dengan waktu semuanya akan terbayar dengan impas? ketika seseorang jatuh kenamanya cinta, semua pun indah pada saatnya, sakit pun indah pada akhirnya. tapi apa iya perasaan cinta akan mengantarkan kita pada rasa sakit? bukankah cinta itu perasaan kasih sayang yg amat begitu lembut yg terlalu sayang untuk disakiti? sebuah cinta. cuma kata cinta? cinta yg mematahkan sebuah teori fiksi ataupun non fiksi. ketika sebuah cinta itu harus ditinggalkan, apakah kita yg pergi? atau cinta itu sendiri? semua berlalu begitu cepat, menghempaskan badan ini jatuh tersungkur ke tanah, membuat badan penuh luka dan baretan. ketika sebuah cinta jatuh tanpa bunyi, apa akan ada cinta lain yg akan membantu untuk bangkit?
Ketika sebuah cinta mematahkan sebuah teori
lebih perasa, lebih PEKA
Halo sekali lagi :D Pertama, saya ingin mengucapkan selamat hari Minggu dan selamat beribadah bagi siapapun yang melaksanakannya pada hari ini. Tuhan memberkati :)
Pagi ini, saya bangun dengan mata benar-benar mengantuk. Seusai doa pagi dan saat teduh, saya membaca inbox handphone saya. Tidak ada message baru. Pheww.. saya harus membiasakan diri untuk mengahadapi sepinya handphone akhir-akhir ini :D
Tidak ada yang saya lakukan, menatap langit-langit kamar, dan suara arina ephipania memenuhi kamar saya, This Conversation. Saya mengingat suara mas GG yang kemarin saya dengar dari handphone 2 hari yang lalu. Mas GG, mas yang pernah saya ceritakan, pria yang tidak jenuh untuk mencintai ayahnya secara penuh.
Kami bercerita panjang lebar. Tentang keluarganya, perkembangan adiknya, dan beberapa poin yang sempat tidak dijelaskan tapi akhirnya dijelaskan juga. Tapi poin yang paling saya sukai adalah saat saya bertanya : "ada 2 individu, dulu saling mencintai dan saling memprotective-kan, setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan masing-masing. Si wanita masih benar-benar mencintai pria tersebut tapi pria tersebut dengan cepat sudah naksir dengan wanita lain. Apa tampang benar-benar menjadi jaminan? Semua laki-laki itu sama ya! Heran!" Mas GG berpikir lama sekali. Rasakan! Skak mat! :D
Beberapa menit kemudian..
Dia berkata, "Gini lho dek".
Saya menjawab, "Apa?"
"Setelah semua berakhir, akan ada banyak orang yang keluar masuk dalam hidup kita, entah itu menyenangkan atau tidak, tapi orang-orang yang keluar masuk tersebut pasti meninggalkan kesan dan rasa. Jadi mungkin, kemampuan untuk melupakan yang lalu itu agak cepat walaupun harus perlahan-lahan. Rasa itu bisa macem-macem, termasuk perasaan naksir dengan yang lain." Kata-katanya sih ga pasti kayak gini, tapi intinya sama seperti yang dia katakan.
"Oh" Saya menjawab pendek. Jawabannya tidak sesuai dengan yang saya mau. Dia menjawab secara umum. Padahal yang saya mau, dia juga mejelaskan kenapa dia (mas GG) melakukan hal yang sama? Mengakhiri dan naksir pada yang lain dengan begitu cepat.
Tapi kalau boleh saya berpendapat. Pendapat mas GG ada benarnya, ada benarnya jika dirasakan oleh orang yang KURANG PEKA. Hidup seseorang itu ya memang begitu. Ada yang datang dan pergi, lari dan berhenti, dan memang akan ada banyak orang yang mengisi. Tapi bagi seorang wanita, melupakan sesuatu yang pernah "mengisi" hidupnya itu tidak semudah pria mengganti pakaian atau mungkin pasangan. Dan akan teramat sulit untuk melupakan seseorang jika wanita itu tidak hanya mencintai pria tersebut tapi juga mencintai keluarganya. Wanita ya memang seperti itu, sulit melupakan dan sulit moving on. Wanita bukannya bersikap lebay, tapi mereka memang lebih perasa dan peka.
Dikamar, 281110
07:33
With love :)
Dwitasari
Pagi ini, saya bangun dengan mata benar-benar mengantuk. Seusai doa pagi dan saat teduh, saya membaca inbox handphone saya. Tidak ada message baru. Pheww.. saya harus membiasakan diri untuk mengahadapi sepinya handphone akhir-akhir ini :D
Tidak ada yang saya lakukan, menatap langit-langit kamar, dan suara arina ephipania memenuhi kamar saya, This Conversation. Saya mengingat suara mas GG yang kemarin saya dengar dari handphone 2 hari yang lalu. Mas GG, mas yang pernah saya ceritakan, pria yang tidak jenuh untuk mencintai ayahnya secara penuh.
Kami bercerita panjang lebar. Tentang keluarganya, perkembangan adiknya, dan beberapa poin yang sempat tidak dijelaskan tapi akhirnya dijelaskan juga. Tapi poin yang paling saya sukai adalah saat saya bertanya : "ada 2 individu, dulu saling mencintai dan saling memprotective-kan, setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan masing-masing. Si wanita masih benar-benar mencintai pria tersebut tapi pria tersebut dengan cepat sudah naksir dengan wanita lain. Apa tampang benar-benar menjadi jaminan? Semua laki-laki itu sama ya! Heran!" Mas GG berpikir lama sekali. Rasakan! Skak mat! :D
Beberapa menit kemudian..
Dia berkata, "Gini lho dek".
Saya menjawab, "Apa?"
"Setelah semua berakhir, akan ada banyak orang yang keluar masuk dalam hidup kita, entah itu menyenangkan atau tidak, tapi orang-orang yang keluar masuk tersebut pasti meninggalkan kesan dan rasa. Jadi mungkin, kemampuan untuk melupakan yang lalu itu agak cepat walaupun harus perlahan-lahan. Rasa itu bisa macem-macem, termasuk perasaan naksir dengan yang lain." Kata-katanya sih ga pasti kayak gini, tapi intinya sama seperti yang dia katakan.
"Oh" Saya menjawab pendek. Jawabannya tidak sesuai dengan yang saya mau. Dia menjawab secara umum. Padahal yang saya mau, dia juga mejelaskan kenapa dia (mas GG) melakukan hal yang sama? Mengakhiri dan naksir pada yang lain dengan begitu cepat.
Tapi kalau boleh saya berpendapat. Pendapat mas GG ada benarnya, ada benarnya jika dirasakan oleh orang yang KURANG PEKA. Hidup seseorang itu ya memang begitu. Ada yang datang dan pergi, lari dan berhenti, dan memang akan ada banyak orang yang mengisi. Tapi bagi seorang wanita, melupakan sesuatu yang pernah "mengisi" hidupnya itu tidak semudah pria mengganti pakaian atau mungkin pasangan. Dan akan teramat sulit untuk melupakan seseorang jika wanita itu tidak hanya mencintai pria tersebut tapi juga mencintai keluarganya. Wanita ya memang seperti itu, sulit melupakan dan sulit moving on. Wanita bukannya bersikap lebay, tapi mereka memang lebih perasa dan peka.
Dikamar, 281110
07:33
With love :)
Dwitasari
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2010/11/lebih-perasa-lebih-peka.html )
Membunuh Masa Lalu
Mataku sembab, menangisimu
Setiap kali mengingatmu
sama saja mengundang air mata membasahi pipiku
Pertemuan kita yang indah memang tak seindah cerita akhirnya
Aku masih menyimpan barang pemberianmu
menyekap mereka dalam kardus agar aku tak lagi melihatnya
Bahkan aku masih memikirkanmu saat kutahu kau tak lagi memikirkanku
Semudah itu kau datang
semudah itu kau tinggalkan
Semudah itu kau mengendalikan hatiku
semudah itu kau merusak dan mengobrak-abriknya
Jangan tanyakan mengapa hingga saat ini aku masih merindukanmu
Mengapa dalam rentan waktu tanpamu
aku merasa perasaanku mati seketika
Aku tak dapat membedakan mana tangis dan mana tawa
mana amarah dan mana cinta yang membuncah
Dunia semakin terlihat gelap dimataku
Bagaimana aku bisa merasa tersiksa jika kutahu kau bahagia?
Mustahil bagiku
mengosongkan otak kiri dan kananku
hingga tak ada lagi kamu yang mengisinya
Sulit bagiku
saat harus membunuh masa lalu
masa dimana ada kamu
Hanya ada kamu
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/06/membunuh-masa-lalu.html )
hanya karena dia.... MENCINTAIMU
"Mungkin, kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU."
Aku baru tahu ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh pria-pria lainnya, membuat mata wanita bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kau sebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, cinta.
Kedatanganmu begitu sempurna, kaumembawa bekal yang katanya cinta, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati. Lalu, kita mencoba untuk berjalan bersama, "menutup telinga" dari banyak cemooh dan hujatan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kita.
Beberapa bulan berlalu, kamu terlalu sibuk dengan sesuatu yang harus kaukejar dan kauraih, kariermu. Kaumelupakan seseorang yang selalu berada disampingmu. Kaumelupakan seseorang yang beberapa bulan terakhir bersedia menyiapkan telinganya untukmu, hanya untuk mendengar ceritamu. Kaumelupakan seseorang yang menjadi pelampiasan amarahmu, yang kausakiti hatinya saat kaulelah dengan semua rutinitasmu. Kaumelupakan seseorang yang berusaha meluangkan waktunya hanya untuk memastikan bahwa kesehatanmu terjaga dengan baik. Kaumelupakanku yang berusaha bertahan untukmu.
Sebenarnya, aku ini kau anggap apa? Sesekali kau mengemis, sesekali kau berlaku sadis. Seringkali kau baik, seringkali kau picik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kau sakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kau bodohi kapanpun kau mau.
Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kau hargai. Kau berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui.
Aku sadar bahwa kau lebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kau lebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu.
Aku hanya masa lalu yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENCINTAIMU.
with love :)
Dwitasari
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/07/hanya-karena-dia-mencintaimu.html )
Perpisahan?
"Ketika TUHAN mengambil seseorang yang kau cintai, maka TUHAN akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."
Perpisahan itu selalu hadir disaat kita belum siap kehilangan seseorang. Saat kita masih sangat mencintai seseorang. Dan, saat kita masih membutuhkan orang itu dalam banyak hal. Kenyataan terburuk yang harus kita terima adalah orang yang kita cintai itu akan hilang, untuk sementara atau mungkin selamanya.
Pernahkah terpikir dalam benak kalian? Bahwa perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terencana, yang telah disiapkan oleh Tuhan agar kita bertemu dengan seorang mahluk ciptaanNYA. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Kenyataan terburuk yang harus kita ketahui dari sebuah pertemuan adalah sesuatu yang tak kita duga, bahwa pertemuan sebenarnya adalah kata selamat tinggal yang belum terucapkan. Terkadang, mereka yang memutuskan untuk saling pisah adalah mereka yang masih saling jatuh cinta.
Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka. Saya pernah mengalami perpisahan dengan seseorang atau banyak orang yang saya cintai, kalian pun juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Ketika perpisahan membuat suatu pribadi jatuh di titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi untuk berdiri, hanya ada satu kata yang ingin kita ucapkan kepada dia yang telah pergi yaitu "KEMBALILAH!"
Yang belum pernah terpikirkan dari suatu perpisahan adalah akan ada sebuah pertemuan lagi yang akan menyadarkan kita, bahwa kehilangan adalah tanda kita segera menemukan. Menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan. Bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Berkenalan dengan suatu pribadi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Di luar sana, perpisahan didefinisikan dalam berbagai hal. Ada yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah akhir hidup dan ada juga yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah awal perjumpaan. Bagaimana dengan kalian? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menangis semalaman? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menutup diri dan menutup hati dari orang-orang baru yang berusaha masuk dalam hidup kita?
Bagaimanapun jawaban kalian, ketahuilah perpisahan itu sama seperti aksi reaksi. Terjadi lalu menyebabkan akibat. Perpisahan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat kita lebih dewasa. Percayalah, Tuhan melihat kita dari jarak yang tidak kita ketahui, dalam tanganNYA, DIA telah merancang rencana khusus untuk saya dan anda. DIA itu Maha Adil. Ketika DIA mengambil "emas" yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan "berlian". "Ketika DIA mengambil seseorang yang kau cintai, maka DIA akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."
Pernahkah terpikir dalam benak kalian? Bahwa perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terencana, yang telah disiapkan oleh Tuhan agar kita bertemu dengan seorang mahluk ciptaanNYA. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Kenyataan terburuk yang harus kita ketahui dari sebuah pertemuan adalah sesuatu yang tak kita duga, bahwa pertemuan sebenarnya adalah kata selamat tinggal yang belum terucapkan. Terkadang, mereka yang memutuskan untuk saling pisah adalah mereka yang masih saling jatuh cinta.
Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka. Saya pernah mengalami perpisahan dengan seseorang atau banyak orang yang saya cintai, kalian pun juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Ketika perpisahan membuat suatu pribadi jatuh di titik terlemahnya, ketika perpisahan menjadikan seseorang tak mampu lagi untuk berdiri, hanya ada satu kata yang ingin kita ucapkan kepada dia yang telah pergi yaitu "KEMBALILAH!"
Yang belum pernah terpikirkan dari suatu perpisahan adalah akan ada sebuah pertemuan lagi yang akan menyadarkan kita, bahwa kehilangan adalah tanda kita segera menemukan. Menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan. Bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui. Berkenalan dengan suatu pribadi yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Di luar sana, perpisahan didefinisikan dalam berbagai hal. Ada yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah akhir hidup dan ada juga yang mendefinisikan bahwa perpisahan adalah awal perjumpaan. Bagaimana dengan kalian? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menangis semalaman? Apakah perpisahan masih menjadi alasan kita untuk menutup diri dan menutup hati dari orang-orang baru yang berusaha masuk dalam hidup kita?
Bagaimanapun jawaban kalian, ketahuilah perpisahan itu sama seperti aksi reaksi. Terjadi lalu menyebabkan akibat. Perpisahan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membuat kita lebih dewasa. Percayalah, Tuhan melihat kita dari jarak yang tidak kita ketahui, dalam tanganNYA, DIA telah merancang rencana khusus untuk saya dan anda. DIA itu Maha Adil. Ketika DIA mengambil "emas" yang kita miliki, maka DIA akan menggantinya dengan "berlian". "Ketika DIA mengambil seseorang yang kau cintai, maka DIA akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan lebih kau cinta."
with love :)
Dwitasari( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/07/perpisahan.html )
Terbiasa Kau Sakiti?
"Entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku"
Aku selalu kehilangan kamu, lalu kembali menemukanmu. Maksudku, apakah kamu tak bisa benar-benar tetap tinggal? Sehingga saat aku membutuhkanmu maka aku tak perlu lagi mencarimu, maka aku tak perlu lagi repot-repot menunggumu untuk meninggalkan kesibukanmu.
Aku selalu bersabar dengan sikap dan tindakanmu, ketika kamu bahkan tak pernah ada disaat seseorang bertanya siapa seseorang yang enjadi sandaran hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu ketika kamu bahkan tak akan kembali hari itu. Sebegitu tak berhargakah aku dimatamu? Sebegitu tidak bernilaikah aku dihidupmu?
Aku tidak pernah berkata BOSAN dan MALAS dengan sikapmu. Aku tak pernah berkata LELAH dengan semua perlakuanmu. Tapi, mengapa kau selalu berkata BOSAN, MALAS, dan LELAH dengan sikapku? Apakah dari semua kesabaran dan keikhlasanku ada hal tersembunyi yang membuatmu resah dan risih? Yang membuatmu tak ingin ditunggu dan tak ingin diharapkan lagi. Aku hanya ingin meminta sedikit saja pengertianmu, sedikit saja perhatianmu agar kau tetap menganggapku ada, seperti aku yang selalu menganggapmu ada.
Aku tahu, mungkin kesibukanmu telah mengubah cara berpikirmu, yang juga ikut mengubah perasaanmu. Mungkin, kamu tidak lagi mengharapkanku seperti dulu. Mungkin, aku bukan siapa-siapa lagi dihatimu. Dan, kemungkinan yang tidak pernah ingin kuketahui bahwa kamu tak ingin lagi diingatkan agar tidak telat makan olehku, bahwa kamu tak ingin lagi diperhatikan kesehatannya serta pola makannya olehku, bahwa kamu tak ingin lagi membagi semua kesedihan dan kebahagiaanmu untukku satu-satunya.
Ternyata, kata BOSAN itu sangat berpengaruh dalam suatu hubungan, seiring berjalannya waktu, seiring dengan datangnya orang-orang baru di lingkunganmu sehingga sedikit demi sedikit mereka telah menggantikan tugas wajibku untuk memperhatikan dan mencoba mengerti keinginanmu. Kamu yang sekarang, kamu yang telah berubah, kamu yang tidak lagi aku kenal.
Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan agar terus menjagamu? Tahukah kamu bahwa aku berkali-kali mengucap namamu dalam setiap doaku? Meskipun berkali-kali Tuhan memperingatkan bahwa "kasih itu lemah lembut" tapi entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku. Entah karena hatiku yang mulai buta, atau karena aku yang terlalu terbiasa kau sakiti .
with love :)
Dwitasari
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/08/terbiasa-kau-sakiti.html )
Kau Pikir Aku Bodoh?
"Aku juga punya cinta baru, dia menungguku diujung jalan. Aku tidak akan membiarkan cinta palsumu membuatku berjalan di tempat!"
Aku masih berpikirian tak menentu, aku masih menganggapmu pria idiot dengan sejuta alasan, alasan yang bisa dengan mudah kau selipkan disudut bibirmu. Tanpa rasa berdosa, seakan-akan kau tak menyadari kesalahanmu. Boleh aku meneriakan sebuah kalimat ditelingamu? "Aku tidak SEBODOH yang kamu kira!"
Kalau kau mengira aku sama seperti wanita yang pernah kau dekati, kau salah besar! Tolong reparasi otakmu dulu, sebelum kau mengajakku bicara, sebelum kau basa-basi soal cinta. Dengan otak sedangkal itu, kau tidak akan bisa mencerna tajamnya lidahku.
"Aku mencintaimu tapi aku juga mencintai dia. Jadi, aku tidak akan memberimu status karena aku masih sibuk mengejar cintanya. Tapi, jangan kuatir, aku mencintaimu. Aku tidak memberimu status yang jelas karena aku merasa aku bukan yang terbaik untukmu, tapi semua tetap bisa berjalan dengan normal. Kita bisa saling menggunakan panggilan sayang. Percayalah, aku mencintaimu." Jelasmu pelan-pelan dengan nada ragu, kutahu kau sedang berbohong. Kau terus mengulang kalimat "aku mencintaimu" tanpa bisa mempertanggung jawabkan kalimat itu. Want to know something? Saat itu, kau semakin terlihat buruk dimataku, menjadi sangat buruk. Persepsiku tentangmu menjadi berubah, dari seseorang yang harus kucintai menjadi seseorang harus kujauhi.
Kali ini, aku menutup telinga, mencoba tak mau tahu alasan-alasan barumu. Berusaha untuk tak peduli dengan semua perkataan dan rayuanmu yang terlihat realita tetapi sebenarnya mengandung bencana!
Kau boleh meninggalkan aku sekarang, kau boleh menghilangkan namaku dari otakmu dan hatimu, kau boleh jauhi aku sekarang juga, dan kau sangat boleh untuk mengejar cinta barumu. Ketahuilah, aku tak mau tahu lagi tentangmu. Kau hanya pengganggu yang tidak menghasilkan rindu. Tanpamu, hidupku masih berjalan dengan normal. Jadi, pergilah! Aku juga punya cinta baru, dia menungguku diujung jalan. Aku tidak akan membiarkan cinta palsumu membuatku berjalan di tempat!
with love :)
Dwitasari
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/07/kau-pikir-aku-bodoh.html )
Cinta. Agamamu. Agamaku
"Apakah seseorang yang kau cintai harus memeluk agama yang sama denganmu?"
Aku duduk terdiam di depan tempat ibadah itu. Tempat ibadah yang mungkin tidak akan pernah kumasuki seumur hidupku. Tempat ibadah yang selamanya tak akan kubiarkan kakiku menginjak dan merasakan lantai dingin yang mungkin sedikit memberi kesejukan itu, masjid. Aku menunggunya dengan sabar, menunggu kekasihku selesai beribadah. Terlintas pikiran nakal kala itu, "Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang yang tempat ibadahnya tak sama denganku?" Tiga menit kemudian, beberapa orang telah meninggalkan tempat ibadah itu. Aku menyibukan kepalaku dengan menggerak-gerakannya, celingak-celinguk kanan kiri mencari sosoknya. Lalu, beberapa detik kemudian seorang pria berlari-lari kecil ke arahku, kekasihku, Idlan.
"Sayang, nunggunya lama ya?" Dengan nafas terengah-engah Idlan menyapaku.
"Enggak kok, tenang aja. Dimuka kamu masih ada air wudhu tuh, aku ada tissue, mau dilap dulu enggak?" Ungkapku sambil memeriksa isi tasku.
"Boleh deh." Jawabnya singkat sambil memerhatikan wajahku dengan seksama, aku terheran.
"Kenapa ngeliatin aku terus sih?" Tanyaku sinis memelototi matanya.
"Kamu cantik, kenapa enggak pake jilbab aja?" Gurau Idlan dengan tawa khasnya.
"Emangnya kalau aku pakai jilbab malah tambah cantik ya?" Tanyaku balik sambil mengacak-acak rambutnya.
"For sure, yes!"
"Cantik itu dari hati kok, bukan dari jilbab." Ujarku pelan sembari menarik tangannya agar melanjutkan perjalanan kita dengan berjalan kaki.
"Iya, Sayang. Tapi..."
"Lagian juga, yang harus dijilbabkan bukan cuma fisik, tapi juga hati." Timpalku memotong pernyataannya.
"Kok jadi dibawa serius sih?" Idlan menahan langkahnya, menarik tanganku agar memberhentikan langkahku.
"Siapa yang bawa serius? Aku cuma enggak suka aja, kalau kamu enggak bisa terima aku yang enggak pakai jilbab ini yasudah. Kalau kamu enggak bisa terima agamaku, maka kamu enggak bisa mencintai aku kan?" Pembicaraan menjadi panas, aku berjalan meninggalkannya. Seperti biasa, dia tak pernah mengejarku, dia tak pernah menahanku untuk tetap tinggal.
***
Ibu menunggu di depan rumah. Wajahnya temaram kelam layaknya menunggu seseorang. Aku menghampiri beliau dengan langkah terburu-buru.
"Mama, kok di luar?" Aku menghampiri mama sambil mengajak beliau memasuki rumah.
"Pulang sama siapa?" Tanya mamaku singkat.
"Sama, Idlan, Ma." Jawabku, juga dengan pernyataan yang singkat.
"Kamu masih sama dia, Nak?"
"Iya, Ma."
"Enggak inget nasehat, Mama?"
"Inget, Ma."
"Yang pertama?"
"Gelap tak mungkin bersatu dengan terang."
"Yang kedua?"
Aku terdiam sejenak, menatap ibuku yang memegang bahuku. Dengan paksa aku melepaskan tangannya, sambil bangkit berdiri aku berkata, "Semua agama itu sama, Ma. Hanya cara menyembahNYA saja yang berbeda!" Bentakku ketus. Mama terdiam.
Dengan kesal aku membanting penting kamar. Aku benci dijejeri pertanyaan sampah seperti itu. Apa salahnya jika aku menjalin hubungan lebih dari teman dengan seseorang yang tidak seagama denganku? Inilah Indonesia, perbedaan harus dianggap sebagai sesuatu yang tak akan pernah bisa disatukan.
***
Seusai ibadah, aku iseng melihat ke celah-celah pintu gereja, ada seorang pria yang sepertinya tengah menunggu seseorang, ia duduk di atas sepeda motornya. Setiap beberapa detik ia selalu melihat ke arah gereja, seakan-akan matanya menyusuri setiap celah-celah kecil gereja itu. Aku seperti mengenal raut wajah pria itu, "Seperti Idlan." Ucapku dalam hati, lirih.
Sekitar pukul 14:00 siang, dengan langkah santai aku meninggalkan tempat ibadahku, gereja. Ternyata benar dugaanku, pria yang sejak tadi bertengger di depan gereja adalah Idlan. Aku mempercepat langkahku, tapi Idlan tetap menghampiriku.
"Zuriel, maaf ya kemarin." Dengan wajah tersipu malu, Idlan menghampiriku.
"Aku selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf." Aku menghentikan langkahku, menatap matanya dan tersenyum sendu saat melihat wajahnya. "Tapi, hubungan kita cukup sampai disini."
Seakan-akan ribuan pedang menghujam Idlan, matanya berair, dia menatapku dengan serius, "Kamu beneran?"
"Ya." Jawabku singkat, sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain. Matanya berair, aku tak pernah suka pemandangan itu. Cowok kok sukanya nangis?
"Sesingkat ini?"
"Sesingkat? Hubungan kita sudah satu tahun! Dan, mau tahu hal yang selalu kutahan? Kamu selalu memperlakukanku seperti temanmu bukan kekasihmu. Kamu tidak pernah berusaha menjaga perasaanku. Kamu tak pernah berusaha mentolerir agamaku, maka kamu tidak akan pernah menerima cintaku." Jelasku panjang lebar, membiarkan hatinya teriris.
"Maaf, Riel."
with love :)
Dwitasari
( via : http://dwitasarii.blogspot.com/2011/08/pakah-seseorang-yang-kau-cintai-harus.html )
Langganan:
Komentar (Atom)

