Kala itu aku sedang menyesap secangkir coklat disamping jendela. Melihat pemandangan diluar jendela bagaikan dipenjara di tempat gelap. Titik panas coklat yang kusesap meninggalkan butiran manis di lidah. Tak terlihat namun benar adanya. Coklat panas itu meninggalkan hangat yang merasuk di dada. Begitu hangat sampai aku hanyut dan ingin menyesapkannya lagi. Didepan sebuah rak buku yang berdiri...
Aku menulis kata demi kata yang dengan gaib begitu saja masuk ke otakku. Masih dengan secangkir coklat panas yang kutinggalkan di meja. Aku memupuk sebuah untaian rasa yang diselingi pedih menghujam kala aku rasakan.

Kutiup kincir angin yang bertengger dengan manis di penaku., merasakan sepi demi sepi disaat paling kurasa. Rindu...

Rindu itu bagaikan coklat panas yang sudah kutinggalkan namun masih menyisakan beberapa butiran hangatnya. Sudah kulupakan namun masih tak dapat diabaikan. Coklat yang hangat itu menyapa sanubariku. Hangat menusuk untuk menemani setiap detik demi detik jam di meja yang mulai berlalu. Aku memandang secangkir gelas yang tersisa di meja. Bekas secangkir coklat yang meninggalkan noda coklat yang manis.
Layaknya sebuah kotak kenangan yang meninggalkan sekaset video tentang masa lalu. Yang hanya ditaruh tak dibuka. Sampai saatnya benda itu akan dibuang layaknya waktu yang habis secara percuma. Bahkan coklat itu masih panas ketika kusesap. Sama seperti kotak kenangan itu yang masih hangat akan kenangan yang tersimpan rapi di dalamnya. Menyisipkan rasa suka maupun duka didalamnya. Kotak rindu dengan berbagai rasa itu kubiarkan tergeletak manis di sudut jendela. Bersama gitar tua untuk menemani alunan sebuah cerita dari masa lalu...
Yang tak akan hilang meski dilupakan...









