Buscar

Little Author

Secangkir coklat di jendela





Kala itu aku sedang menyesap secangkir coklat disamping jendela. Melihat pemandangan diluar jendela bagaikan dipenjara di tempat gelap. Titik panas coklat yang kusesap meninggalkan butiran manis di lidah. Tak terlihat namun benar adanya. Coklat panas itu meninggalkan hangat yang merasuk di dada. Begitu hangat sampai aku hanyut dan ingin menyesapkannya lagi. Didepan sebuah rak buku yang berdiri...
 



Aku menulis kata demi kata yang dengan gaib begitu saja masuk ke otakku. Masih dengan secangkir coklat panas yang kutinggalkan di meja. Aku memupuk sebuah untaian rasa yang diselingi pedih menghujam kala aku rasakan.





Kutiup kincir angin yang bertengger dengan manis di penaku., merasakan sepi demi sepi disaat paling kurasa. Rindu...


Rindu itu bagaikan coklat panas yang sudah kutinggalkan namun masih menyisakan beberapa butiran hangatnya. Sudah kulupakan namun masih tak dapat diabaikan. Coklat yang hangat itu menyapa sanubariku. Hangat menusuk untuk menemani setiap detik demi detik jam di meja yang mulai berlalu. Aku memandang secangkir gelas yang tersisa di meja. Bekas secangkir coklat yang meninggalkan noda coklat yang manis.

Layaknya sebuah kotak kenangan yang meninggalkan sekaset video tentang masa lalu. Yang hanya ditaruh tak dibuka. Sampai saatnya benda itu akan dibuang layaknya waktu yang habis secara percuma. Bahkan coklat itu masih panas ketika kusesap. Sama seperti kotak kenangan itu yang masih hangat akan kenangan yang tersimpan rapi di dalamnya. Menyisipkan rasa suka maupun duka didalamnya. Kotak rindu dengan berbagai rasa itu kubiarkan tergeletak manis di sudut jendela. Bersama gitar tua untuk menemani alunan sebuah cerita dari masa lalu...

Yang tak akan hilang meski dilupakan...

Aku sesakit ini


Aku pernah mencintai begitu dalam
Aku pernah tersakiti begitu kuat
Aku limbung
Namun aku tetap bertumpu pada sebuah harapan
Setiap tawa jenaka yang merangkak masuk
Diselingi air mata yang mengendap di hati 
Tak terlihat namun abadi
Keheningan yang bagaikan jantung itu pun
Berdenyut satu per satu
Bagaikan membawa apa yang tak terucap
Rasa sepi yang bagaikan paru-paru itu pun
Bernapas perlahan
Bagaikan membawa rasa demi rasa yang tak terlihat
Menapak jalan, aku pastikan
Meniti asa, aku inginkan
Menanti sebuah harap, aku berdoa
Untukmulah, aku mencinta..
Mencintai pada sebuah kesempurnaan
Bahkan bukan kamu yang aku kagumi
Melainkan rasa cinta itu sendiri yang aku rasai
Namun apa daya
Kekuatan itu lenyap
Tak sebutir air mata pun sanggup dibendung
Dan memutuskan untuk membiarkan segalanya mengalir
Apa adanya...
Karena hanya bersama kamu
Segalanya terasa dekat
Segala sesuatunya ada
Segala sesuatunya benar
Segala hal yang kunamai itu..
Cinta..

(ps: beberapa kata dikutip dari perahu kertas)
 

Sebuah mimpi yang terenggut


Ketika bersama kamu
Banyak yang ingin aku lakukan
Banyak yang ingin aku capai
Ketika bersama kamu
Canda dan tawa saling bersautan
Tangis dan sendu adalah penawar kebahagiaan
Ketika bersama kamu
Api panas pun mampu menjadi dingin
Bunga kuncup pun mampu menjadi mekar
Kebahagiaan yang tak luput dari senyuman
Senyum kemenangan yang sangat lebar
Namun itu semua tak berlangsung lama
Kala itu kamu memutuskan pergi
Kala itu kamu memutuskan menjauh
Membawa kepedihan untukku
Membawa luka demi luka yang tak bisa terobati
Kamu membawa seorang malaikat
Malaikat yang mampu merenggut semua mimpiku
Malaikat yang mengambil semua anganku
Seakan mimpi itu lebih layak olehnya
Kamu pergi bersama malaikat itu
Membawa semua asa yang telah kutanam
Kamu cabut hingga menyisihkan lubang yang menganga
Pedar pedih berterbangan
Pedar pedih kau torehkan
Impian yang hanya menyisikan debu untuk dihembuskan
Aku..
Tatkala meratapi lubang yang menganga itu
Tatkala menatap nanar lubang yang menganga itu
Aku...
Hanya bisa menaruh buih terakhir
Yang mungkin akan menumbuhkan kebahagiaan 

Tokoh utama itu masih kamu

Malam menyapa...
Pukul berapa sekarang? kataku dalam hati. Malam itu tepat hari ke 120 dimana kamu mulai tidak ada di duniaku, Ah sudahlah , semua itu membuatku mual memikirkannya. Malam itu pukul sepuluh dan aku belum bisa terlelap juga. Balik sana balik sini sudah kulakukan tapi hasilnya nihil. Kau tau kenapa? Ketika aku memejamkan mataku, sosok itu hadir. Sosok yang tengah berdiri menatap ku dengan senyum tampannya. Ya, kamu itu jahat. Sudah meninggalkanku tapi masih berani hadir di mimpiku. Dulu aku memang senang ketika ingin tidur. Namun tidak kali ini, rasanya aku ingin sekali tidur tanpa bermimpi. Oh bukan, aku ingin tidur dengan mimpi yang bukan kamu tokoh utamanya. Entahlah aku bingung, bagaimana kamu masih bisa masuk dengan sembrono ke dalam mimpiku. Padahal jujur saja, aku pun sudah tak ingat kenangan bersama kamu tempo dulu. Tapi mungkin mimpi itu belum siap kehilangan aktor utamanya. Ibarat film, mimpi ini terus memainkan lakonmu dengan apik. Tanpa cacat sekalipun, kau tetap tampan dalam mimpiku. Tapi tidak malam ini.
Waktu itu pukul dua belas. Seperti biasa aku tetap tidak bisa tidur kalau jam belum menunjukan pukul 2 pagi. Shubuh. Aku bangun dan seketika aku ingat. Tadi aku tidak bermimpi apapun. Oke aku heran. Heran karena kok bisa aku tertidur tanpa memimpikanmu? Entahlah aku harus mengucapkan selamat atau belasungkawa. Tapi tepatnya semua itu terasa aneh. Selama ini aku memang sudah terbiasa membiarkanmu hadir dalam mimpiku, atau mungkin dalam khayalanku sampai aku benar-benar terlelap. Bahkan kadang ketika aku sudah capek pun bayangmu dengan senang hati muncul untuk memberikan senyum yang entah apa namanya sangat kukagumi. Senyum yang mampu membuatku teduh. Tapi tahu tidak? Malam kesekian kalinya aku bingung kenapa kau tidak hadir adalah... wajahmu disitu... memudar.. Atau mungkin sudah tidak tampak seperti kamu, walaupun tetap kamu yang jadi tokoh utamanya. Wajahmu pelan-pelan kabur... Aku harus senang atau sedih? Jawabannya aku benar-benar tidak tahu. Aku tak mau memohon banyak. Tapi yang jelas, suatu hari mimpi itu pasti akan berubah. Layaknya hidupku yang berubah sesaat kau pergi. Mimpi itu kelak akan berubah, tapi entah kapan. Aku pun ketika tertidur... 
"tak tahu menginginkan tokoh utama lain atau tidak, tapi pasti ada kamu yang hadir dalam mimpiku"

11 Juli 2012

Here I go.
Jam 16.00-23.00
Anak X.1 mengadakan sebuah perpisahan kecil-kecillan dirumah Gusti Muhammad Rizky. Oke bukan perpisahan terpatnya hanya sebuah pesta kecil karena Gusti pun ulang tahun pada tanggal 8 Juli. Pestanya cukup lengkap, karena datangnya Andini Putri Utami pastinya. Kita berpesta semalaman suntuk. Acara dimeriahkan oleh kekonyolan anak-anak yang mengocok perut. Seperti Bobby, Adhi, Deny, Budi, Nicholas, Andre, Putra, Robby, Fauzan dan Wahyu. Ohya Zaenal yang baru pulang dari Brebes pun ikut memeriahkan acara karena dia adalah cowok paling tampan dikelas (bagi gue) setelah Aldo Diwantara (yang sebenernya hanya ganteng diliah dari belakang :Dv) Anak-anak cewek pun juga gak kalah heboh, ada si idung Hilma, Tere, Desti, Lusi, Dwi Putri Andini, Lia, danCitra. Yang pasti malam itu adalah malam paling bahagia. Ternyata Bahagia itu sederhana kan? Hanya bermain bersama sahabat-sahabat yang paling gokil. konyol aja sudah mampu membuat kita merasakan kalau "hidup itu terlalu keras dilalui sendiri" jadi gak perlu punya pacar agar kalian merasa lengkap, mempunyai banyak teman dan tertawa bersama mereka aja itu sudah suatu kenikmatan dari Tuhan kan. So... Jaga terus sahabat kalian ya guys :)


Nah, sekian dulu deh foto-foto narsisnya hahaha belum semua sih tapi cukup kan buat menjadi "bahagia dengan caramu sendiri?" ^^
I love you more than you know :)