Kala itu seperti biasa
hujan tidak dapat berhenti dengan seenaknya. Nasha masih menunggu manis di
sudut halte dengan tas biola kesayangannya. Ya, dia baru saja selesai les biola
di ujung gang sana. Dengan bosan ia menunggu sambil mengetuk-ngetuk tas biolanya.
Menghitung rintik hujan yang turun dengan kompak dan seirama. Andai saja bunyi
hujan itu indah, pastilah banyak orang yang dengan senang hati menunggu hujan,
pikirnya kala itu. Andai saja rasa hujan itu manis, pastilah banyak orang yang
dengan senang hati hujan-hujanan untuk menikmati manisnya air hujan, pikirnya
lagi disaat ia memang sedang lapar. Dengan sabar dia menunggu, namun ditengah
lamunan Nasha saat berpikir apa yang bagus dan tidak bagus tentang hujan. Saat itulah
seorang pemuda jangkung kurus bertopi tengah turun dari bus dibantu oleh sang
kenek, lucunya adalah saat itu hujan dan dia membawa payung namun payung itu
bukannya dipakai tetapi malah dipakai untuk menuntun jalannya. Pada saat pemuda
itu duduk dengan susah payah, Nasha baru menyadari kalau pemuda itu adalah
seorang tuna netra. Gemes, Nasha pun bertanya spontan. “Kamu, tadi sadar kalau
lagi hujan?” tanyanya dengan lugu. Pemuda itu pun kaget karena diajak bicara
oleh seorang perempuan asing “Eh, kamu bicara sama saya ya?” liat pemuda itu ke
segala arah. Jengkel, namun Nasha menunggu jawabannya. “Iya, saya sadar kok ada
air yang jatuh banyak banget di badan saya. Gak tau saya lagi masuk angin apa
yaa, kan saya bisa tambah sakit kalau diguyur air banyak banget gini. Tadi kamu
bilang apa? Namanya hujan yaa?” kata pemuda itu. Sontak, Nasha termangu menatap
pemuda dihadapannya. Bingung bercampur aneh, Nasha mulai bertanya lagi “Jadi
kamu gak tau kalau itu namanya hujan?” sekarang Nasha yang bingung dengan
pertanyaannya sendiri, “Iya, saya mah yatim piatu. Terlahir sudah buta, di
panti asuhan kan anaknya banyak jadi gak khusus ngasih tau saya aja. Kamu tau
warna hujan tidak? Aku penasaran sama warna hujan yang kamu bilang itu.”
Bagaikan tersambar petir, Nasha lagi lagi termangu akan pemuda ini. “Warna
hujan? Menurutku warnanya putih karena hujan itukan air. Kalau kamu berani
nebak, hujan itu warnanya apa? Kalau merah berarti darah dong.” Jawab Nasha
dengan asal. Sang pemuda berpikir sejenak dan jelas-jelas dia tertarik akan
omongan tentang si hujan ini. “Kalau saya boleh milih sih lebih baik warna
hujan itu pink.” Nasha melongo, tau lawan pembicaranya bingung, si pemuda
meneruskan pembicaraannya. “Ya, biar sesuai warna yang artinya penyayang jadi
kalau hujan dateng lagi gak usah bikin orang tambah sakit tapi malah bikin kita
makin sayang sama hujan.”
Pagi
hari itu cerah, hari ini Nasha bertekad untuk menunggu sang pemuda itu datang
lagi. Dia masih penasaran dengan pemuda yang diajak bicaranya kemaren mengenai
hujan, kali ini Nasha ingin berbicara tentang awan yang cerah. Nasha menunggu
hampir selama 3 jam, sambil memandangi awan biru indah diatasnya. Akhirnya sang
pemuda turun dari bus seperti kemaren dibantu sang kenek dengan membawa sebuah ukulele
berwarna biru toska dilabel nama cantik disana. Memandang sang pemuda itu,
Nasha sangat antusias untuk berdiskusi lagi. “Cewek yang kemaren ya?” kali ini
Nasha membantunya untuk duduk di sudut halte. “Kita mau berdiskusi tentang apa
lagi?” senyum sang pemuda yang kali ini membuat hati Nasha mencelos. “Kali ini
aku mau tau mengenai awan.” Sang pemuda tersenyum dan mulai berpikir. “Ada satu
hal yang membuat aku sadar tentang awan, mereka bergerak. Seolah-olah mengikuti
langkah kita kemana pun kita pergi, terkadang aku merasa dilindungi oleh awan.
Tapi kalau sang hujan itu mau datang, aku merasa awan sangat sedih untuk
datang. Makanya sekarang aku membawa ukulele karena awan pagi ini cerah.
Rasanya aku ingin bernyanyi bersamanya.” Sahut pemuda itu yang diamini oleh
Nasha. “Ngomong-ngomong, aku belum tau nama kamu.” Tanya si pemuda. “Eh, kamu
mau tau nama aku? Nama asli atau nama samaran?” jahil Nasha. “Ya nama asli
dong, masa aku nanti mau nyariin kamu pake nama samaran kamu.” Kata sang
pemuda. “Hahaha, emang kamu mau nyariin aku kemana? Nama aku Nasha, kalau kamu
namanya siapa?” sapa Nasha. “Nama yang bagus. Kalau aku namanya Bintang.”
Mereka pun berjabat tangan berkenalan. Sekilas Nasha dapat merasakan desiran
aneh di lubuk hatinya akan Bintang, namun ia tak berani menilik lebih jauh
bagaimana perasaan yang sesungguhnya kepada Bintang. “Nasha, aku boleh tanya
sesuatu gak sama kamu?” tanya Bintang tiba-tiba. “Ya, boleh. Nanya apa?”
“Hmm...diantara mata, tangan, dan hidung. Kamu lebih suka yang mana?” tanya
Bintang dengan serius. Nasha bimbang, banyak orang yang bilang kalau matanya
indah. Ada lagi yang bilang kalau tangannya mungil imut menggemaskan, dan kalau
hidung, jangan ditanya Nasha mempunyai hidung mancung khas keturunan orang
Jerman. Lalu Nasha pun menjawab sekenanya “Aku bersyukur atas apa yang aku punya
Bintang dan aku menyukai semua yang Tuhan kasih.” “Walaupun nantinya matamu itu
akan buta seperti aku?” sahut Bintang tiba-tiba. Nasha tersinggung, dia terdiam
dan merasakan darah mengalir deras di dadanya. “Maksud kamu? Kamu gak suka
punya mata buta?” raut wajah Nasha berubah menjadi merah padam, entah kenapa
dia bisa semarah ini kepada orang yang baru beberapa kali diajaknya mengobrol.
“Kamu kenapa tidak suka sama matamu? Aku ingin mengobrol sama kamu bukan karena
kasian atau apa Bintang. Sumpah, kalau itu maksudmu mengatakan aku hanya kasian
kepadamu, kamu gila! Aku...aku aku hanya ingin mengobrol kepadamu!”bentak Nasha
hampir menangis. Nasha sudah berubah posisi dari duduk menjadi berdiri, dia
menunggu reaksi Bintang atas ketidaknyamanannya itu. “Nasha, kamu kenapa marah?
Aku hanya bertanya. Itu aja kok, aku mohon jangan marah. Maafin aku.” Pinta
Bintang yang ikutan berdiri juga, dengan susah payah Bintang berusaha mencari
tangan Nasha untuk memohon maaf. Namun Nasha sudah naik pitam dan memilih pergi
meninggalkan Bintang mencarinya. Sungguh ini bukan kemauan Nasha, namun dia
hanya kecewa mendengar hal tersebut dari mulut orang yang menurutnya hebat,
kuat, dan dia dapat merasakan air mata mulai menetes perlahan ketika melihat
Bintang masih berusaha mencari dimana Nasha berada.
Nasha
masih berpikir mengapa ia marah pada Bintang waktu itu,Nasha masih bertanya
ucapan apa yang membuatnya bisa marah sampai pergi meninggalkan Bintang
mencarinya. Sudah hampir dua minggu Nasha selalu menghindar dari sudut halte
itu, menjauhi seorang Bintang yang masih menyempatkan diri datang hanya untuk
duduk diam lalu pergi lagi. Nasha tau, Nasha melihat sosok Bintang di halte
itu. Dari jauh, Nasha mengamati apa yang dilakukan Bintang disana. Entah saat
sedang hujan, entah saat pelangi menyinari, bahkan dihari terpanas pun Bintang
masih hadir disana. Ingin rasanya Nasha melangkah mendekati Bintang, namun
hatinya masih sakit atas perkataan Bintang tempo lalu. Perkataan yang bagaimana
bisa melukai hati seorang yang jelas jelas tidak buta, apakah itu maksudnya
Bintang menyumpahi Nasha buta seperti dirinya? Atau Nasha hanya tersinggung
mendengar kata-kata yang begitu lemah dari seorang Bintang? Nasha tidak tahu.
Namun jelas, Nasha merindukan sosok Bintang. Merindukan percakapan ringan
mengenai hal-hal yang belum pernah dipikirkan. Tawa canda Bintang yang begitu
jujur dan mampu membuat Nasha nyaman. Luluh, Nasha pun melangkah menghampiri
Bintang. “Nasha, itu kamu? Benar kan?” kali ini Bintang berdiri mencari sosok
Nasha dan mulai meraba-raba udara. “Iya aku disini Bintang, maaf telah pergi
begitu saja waktu itu.” Nasha meraih tangan Bintang dan menggenggamnya. “Ya, ya
tak apa Nasha tak apa. Aku yang harusnya minta maaf padamu, bukan maksudku
berkata begitu maaf.” Senyum Bintang tulus, membuat Nasha ingin memeluk pemuda
jangkung itu. Ia menangis. “Loh, loh kamu kenapa nangis? Aku salah apa lagi
Nasha? Sudah jangan menangis yaa, aku minta maaf.” Sahut Bintang sambil
mengelus rambut Nasha dengan lembut. Tangis Nasha pun mereda, Nasha mengeluarkan
sebuah juntaian gantungan kunci berbentuk lumba-lumba dari saku ranselnya. “Ini
aku kasih kamu oleh-oleh, ini favorit aku jadi gak boleh ilang ya.” Nasha
menaruh gantungan itu di tangan Bintang. “Terimakasih ya Nasha, kamu orang yang
sangat baik.”
Hampir
tiga bulan Nasha berhenti les biola, hampir tiga bulan jugalah Nasha sudah
tidak bertemu Bintang. Hari-harinya disibukkan dengan tugas perkuliahan yang
makin hari semakin banyak. Membuat Nasha ingin meledak akhir-akhir ini. Bahkan,
Nasha pernah hampir meminta temannya untuk mengantarnya ke tempat les biolanya
itu hanya untuk melihat apakah Bintang ada disana atau tidak. Namun beberapa
kali Nasha melewati tempat itu, sosok Bintang pun tidak ada disana. Cemas,
akhirnya Nasha bertekad untuk bolos kuliah hanya untuk melihat keadaan sudut
halte tersebut. Dan ternyata benar, Bintang tidak ada disana. Langit pun seakan
tahu bagaimana keadaan hati Nasha, hujan datang sama seperti awal Nasha dan
Bintang bertemu. Nasha pun menunggu bus yang biasanya menurunkan Bintang di
halte itu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Bahkan hampir lima jam Nasha menunggu.
Disaat harapan Nasha telah sirna, datanglah bus yang membawa Bintang datang.
Namun hanya sang kenek yang turun dari bus itu dan datang menghampiri Nasha,
Nasha pun berdiri. “Neng, maaf neng. Neng yang namanya Nasha bukan yaa?” tanya
sang kenek dengan ramah. “Iya mang, saya Nasha. Ada perlu apa ya? Kok kenal
sama saya?” “Ini neng, saya ini pamannya Bintang. Ituloh pemuda yang sering
turun disini dan duduk di halte ini. Inget kan neng?” kata sang kenek lagi.
Senang, Nasha pun antusias menjawabnya. “Ah, iya mang iya. Saya lagi nunggu dia
ini mang, kemaren-kemaren saya sibuk kuliah jadi gak kesini. Bintang kemana ya
mang?” tanya Nasha dengan cepat. “Atuh kumaha teh si eneng? Si neng gak tau
yaa? Bintang udah meninggal neng sebulan lalu, ketabrak busway waktu nunggu
neng disini.” Sahut sang kenek yang bukan lain adalah sang paman Bintang. Nasha
kaget mendengar kabar itu, tangisnya pecah tak percaya mendengar berita bahwa
Bintang sudah tiada. “Mang, aduh jangan bercanda atuh. Bintangnya diumpetin
dimana mang? Saya gak suka dikerjain begini.” Hibur Nasha pada dirinya sendiri.
“Loh mamang mah gak bercanda, jadi ceritanya Bintang itu lagi nunggu si neng
disini malem malem. Ohya, dia itu abis dapet donor mata neng beberapa minggu
sebelum meninggal. Makanya buru buru kesini buat ngasih tau eneng, katanya udah
pergi kelamaan takut si neng nunggu gak balik balik. Eh taunya mah, malah
Bintang yang pergi duluan. Waktu kecelakaan, di tas Bintang ada surat ini atas
nama Nasha. Mamang tau soalnya cuma neng satu-satunya temen Bintang. Bintang
teh orangnya pendiem dan gak bisa bergaul neng, gara-gara mamang suruh dia
nunggu disini sampe mamang selesai narik aja jadi kenal dan akrab sama neng.
Maaf ya neng, mamang mau lanjut narik lagi. Permisi atuh.” Katanya seraya
meninggalkan Nasha sendiri. Nasha masih bengong tak percaya dengan omongan sang
kenek tadi, sambil memegang amplop yang ditulis sendiri oleh Bintang. Dengan
hati-hati, Nasha membuka amplop tersebut. Isinya agak berat, dan memang bukan
hanya kertas disana. Di dalam amplop itu juga tertera kalung berbentuk Bintang
yang sangat indah. Pelan-pelan Nasha membaca isi surat dari Bintang:
“Hay
Nasha, coba tebak bagaimana aku bisa menulis dengan luwes disecarik kertas ini?
Ya, aku sudah bisa amelihat loh sekarang:D senang yaa ternyata bisa melihat
Sha. Maaf kalau aku sempat menghilang beberapa minggu, aku takut kamu mencariku
Nasha. Namun kemaren aku melakukan operasi pendonoran mata, makanya aku harus
bedrest dirumah sakit terlebih dahulu. Aku bingung harus memberitahumu kemana,
akhirnya aku hanya berharap kamu masih mau menungguku. Sebagai imbalannya, aku
mau membalas gantungan kunci yang kamu beri waktu itu. Aku mendapatkannya dari
keluarga pendonor, karena warna dan bentuknya sangat indah, aku teringat olehmu
Nasha. Aku ingin kamu memakai kalung ini dihadapanku nantinya, aku ingin
melihat wajahmu Nasha. Kamu dimana? Semoga kamu selalu dalam keadaan baik-baik
saja yaa. Aku merindukanmu disini. Seperti layaknya mata yang selalu dapat
melihat. Aku pun sama layaknya dengan kita yang selalu membutuhkan mata.
Bedanya, aku mampu melihatmu walaupun aku menutup mataku kala itu. Sama halnya
seperti saat aku buta dulu, aku dapat melihatmu didalam lubuk hatiku Nasha.
Terimakasih karena telah menjadi mata untuk pengelihatanku yang sementara ini.
Oleh temanmu, Bintang.”
Air
mata Nasha mengalir sangat deras kali ini. Nasha pun terisak sambil memeluk
surat dari Bintang, ia memanggil nama Bintang dengan pelan sambil memohon bahwa
ini hanyalah mimpi. Nasha melihat surat itu sekali lagi, tulis tangan Bintang
rapi bagaikan baru ditulis pertama kali oleh tangan kekarnya. Nasha merindukan
sosok Bintang sekarang, dipakainya kalung berbentuk bintang di lehernya.
Dilihatnya lagi, dan dia pun berkata “Bintang, kalau kamu melihat aku sekarang.
Aku udah memakai kalung darimu, kalung ini sangat indah sekali. Terimakasih
Bintang, akan kujaga kalung ini. Maafin aku karena aku penyebab kamu hilang
Bintang. Maaf, aku menyayangimu.” Isak Nasha sekali lagi di sudut halte tersebut,
ditemani hujan yang kian malam kian deras. Menjadi awal dan akhir dari kisah
Nasha dan Bintang. Nasha pun, membaca lagi surat itu. Barulah kini dia sadar
dibalik surat itu terdapat dua bait puisi mengenai mereka berdua, puisi yang
membuat isak tangis Nasha semakin menjadi. Ditemani oleh hujan yang selalu
menemani.
Pertemuan
ini didasari oleh takdir
Dan
takdir ini pula yang nantinya akan mengakhiri
Tadinya
aku tak tahu apa artinya cinta
Sampai
akhirnya kamu datang mengartikannya
Hujan lah yang membawa
kita untuk bersatu
Lalu awan datang sebagai
pelengkap langkah kita
Namun biarlah.. biarlah
mata ini menuntun jejak kita
Sampai nantinya kita kan
kembali bertemu
Nadya Permata Indrasari


0 komentar:
Posting Komentar