Agustus... Dulu bulan ini adalah bulan terbaik dari 12 bulan yang pernah ada. Dimana bulan ke-8 ini adalah bulan kelahiranku. Disamping aku menyukai angka genap dan kebetulan agustus adalah bulan genap, aku makin mencintai bulan agustus ini. Itu dulu... sekarang semua sudah berubah. Setahun yang lalu. Tepat pada tanggal 12 agustus. Semua hal tentang kue, kado, orang tersayang, itu tak akan pernah hadir kembali. Tanggal 12 yang genap itu pula juga menjadi awal aku memnbenci hari ulang tahunku. Tak ada yang ingat, tak ada kado, tak ada kue, tak ada orang yang kuharapkan. Itu pertama kalinya ulang tahunku tanpa mama. Dan tepat pula setahun yang lalu aku memohon menunda akhir dari sebuah hubungan bersama lelaki yang amat kusayang. Dan entah, sehari setelahnya kita benar-benar mengakhiri hubungan kami. Pahit.. Namun itu hidupku. Apalag, setelah tanggal 12 itu adalah tanggal 13. Oh tuhan... Mengapa? Mengapa bahkan di hari yang selalu kunantikan aku tak mendapatkan apa yang kuinginkan. Kalau kerjaanku hanya mengeluh.. sebenernya wajar gak sih? Memikirkannya saja sudah membuat mual. Sungguh memang tidak adil. Di tahun ini... Di usia ke-16.. Aku bertekat tak mau banyak meminta. Sudah seharusnya aku lebih mendewasakan diri. Meminta hanta keinginan anak kecil. Aku memang tak meminta. Namun aku masih berharap. Kasihan yah? Memang.. Hidup tak pernah adil . Tapi kalau ada yang bertanya apa yang aku inginkan, aku hanya butuh kesan. Kesan yang akan membuatku tertawa untuk mengingatnya. Kenangan yang akan menemaniku seperti layaknya perapian. Kenangan yang akan menemaniku disaat sendiri. Aku mau itu.. Karena belum ada yang melakukannya. Sungguh, aku ingin. Pada dasarnya tidak dipentingkan dalam hidup seseorang memang lebih pahit ketimbang patah hati. Rasanya sedih. Tak ada yang menginginkanmu. Mungkin ada, tapi kecil. Kalian tahu? Aku menangis menulis curhatan ini. Menulis memang caraku mengungkapkan isi hati. Aku lelah berpura-pura. Aku lelah. Satu orang saja. Satu orang yang benar-benar tulus membuatku mengerti kalau hidupku berharga. Itu sudah cukup. Setidaknya aku tidak bingung memanfaatkan hidupku hanya untuk diriku sendiri. Tapi aku sadar. Aku terlalu kerdil untuk memanfaatkan hidupku untuk orang lain. Aku terlalu takut. Tapi sudahlah. Berhenti. Tuhan pasti ingat aku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar