Dahulu...
Lama sekali...
Aku melihat sesosok lelaki yang tampan itu
Aku mengagumi sesosok lelaki itu
Bahkan aku mencintainya setelah aku menatap matanya
Tanpa kusadar...
Hatiku direngkuh penuh olehnya
Hatiku dikendalikan penuh olehnya
Dahulu...
Lelaki itu jelas adanya
Dahulu...
Cinta kita sangat jelas terpancar
Namun...
Waktu lah yang mengubah semuanya
Waktu lah yang mempermainkan keadaan
Semua itu telah hilang...
Semua itu telah pergi...
Aku mendapati sosok lelaki itu telah hilang
Aku mendapati sosok lelaki itu telah pergi
Dia memunggungiku...
Dia berjalan dengan pasti kedepan tanpa melihat yang ada di belakangnya
Dia berjalan dengan pasti kedepan tanpa memperdulikan yang ada di sekitarnya
Aku hanya diam...
Aku hanya membisu...
Entah meratapi dia telah pergi
Atau...
Menunggu dia berbalik untuk memelukku
Ya!
Aku tetap diam...
Aku tetap membisu...
Gulir air mata menemani disela-sela tawaku
Raung kemarahan memaksa keluar disela kesabaranku
Kepercayaanku mulai memudar
Kelelahanku mulai terasa
Tapi entah siapa yang lebih pintar
Rasa cintaku padanya masih bersembunyi dengan manis dibelakang harapanku
Harapan yang akan membawa dia kembali padaku
Harapan yang akan membawa kebahagiaan kembali padaku
Dan disaat harapanku mulai sirna
Disaat harapanku mulai sampai pada ambang kelelahan
Disaat harapan itu membuat kakiku tak mampu berdiri lagi
Aku memutuskan untuk pergi
Dan sekali lagi...
Aku menatap tempat dimana kau pergi
Aku menatap sosok yang acuh kepadaku
Air mataku kembali bergulir perlahan
Tangisku pecah layaknya gelas yang terjatuh
Namun aku masih mencoba tetap tersenyum
Aku masih mencoba tetap tertawa mengenangmu
Seakan semua itu telah siap aku lepaskan...
Aku tertunduk tak sanggup melihat
Aku tertunduk karena lelah
Dan...
Ketika aku menengadah menatap jalan itu lagi
Sosok itu...
Sosok lelaki yang kukenal itu...
Melambai-lambai dengan mata lelahnya
Memamerkan senyum yang sangat kurindukan
Aku terperanjat menatap sosok itu
Aku terperanjat akan kedatangannya
Dia kembali...
Berjalan menatapku
Tersenyum kepadaku
Aku pun terkulai lemas seakan ingin mati
Dia merengkuhku...
Dia mengecupku...
Dia mengusap air mataku...
Dan dia menatapku sambil tersenyum dan mengatakan
"Aku rindu padamu"
Entah aku harus menangis atau tersenyum
Entah aku harus teriak atau membisu
Aku memeluknya sambil berkata
"Jangan pergi lagi"
Kami diam membisu melepas rindu
Kamu diam membisu melepas tangis
Dan waktu pun terus berjalan
Dan yang awalnya jelas telah kembali jelas sekarang
Kebahagiaan itu menutup tangisku
Kebahagiaan itru menutup lukaku
Namun...
Kala itu hujan
Dingin melekit menyerbu badanku
Gelap pekat menemaniku
Dan disaat itu juga...
Kau memutuskan untuk pergi "lagi"
Di tempat yang sama...
Kau pergi dengan pasti
Tanpa memikirkanku
Tanpa mengetahui apa perasaanku
Bahkan kau bertanya tentang hatiku pun tidak
Kamu itu engga jelas
Kamu datang
Kamu kembali
Kamu rengkuh kembali badanku
Lalu?
Kau buang begitu saja
Kau pergi begitu saja
Kau acuhkan begitu saja
Hah!
Kau sebut apa aku ini?
Kau anggap apa aku selama ini?
Layaknya tebu...
Yang habis manis sepah dibuang
Aku ingin marah
Aku ingin murka
Namun aku hanya duduk terdiam menatapmu kembali pergi
Entah...
Aku harus apa saat ini
Aku memendam semua itu
Aku membiarkan rasa cinta dan benciku bercampur menjadi satu
Aku memutuskan diam
Melupakan dan tidak ingin mengeluh
Aku hanya butuh sendiri
Ya!
Aku hanya...
Lelah...

