Buscar

Little Author

Sebongkah bara api yang ringkih

Panas...
Menjalar...
Tersulut...
Dengan cepat api itu membakar hatiku
Dengan cepat api itu menguap dengan garang
Api yang menguap semua emosinya
Api yang menjalar semua yang ada
Tak meninggalkan apapun
Api itu melenyapkan semuanya
Meninggalkan butiran debu usang sebagai pemanisnya
Api itu tersulut lagi dan lagi
Membakar
Menghabiskan
Melukai setiap kepingan-kepingannya
Bara api itu tak kunjung padam
Bara api itu tak kunjung habis
Menyisihkan sebuah bongkahan yang nyala dan redup
Menyisihkan detik demi detik waktu untuk lenyap
Api itu menyeruak
Api itu meninggi
Menelan habis semuanya
Menelan apapun yang ada
Nama bongkahan api itu adalah...
Kebencian!
Perasaan yang sangat ringkih
Perasaan yang sangat rapuh
Menjelma menjadi asap pekat yang hitam
Meneteskan titik demi titik kepedihan luka
Mengibaratkan helai demi helai kepedihan
Kebencian itu datang
Menyapa tidur lelapku
Menyapa pagi indahku
Sebuah kebencian yang ringkih
Menerpa menembus sanurbariku
Menjentikan satu tetes penghinaan
Aku membencimu
Melebihi aku mencintaimu
Api panas yang membakar habis hatiku
Api panas yang mematikan setiap sel di otakku
Kebencian itu tak dapat dibendung
Tumpah bagaikan tsunami ganas
Meletus bagaikan gunung berapi
Awan pijar itu mendatangkan debu demi debu luka
Aku tak bisa mencegah
Aku tak bisa memungkiri
Aku pun tak punya alasan
Layaknya aku mencintaimu tanpa alasan
Aku pun membencimu tanpa alasan juga
Entah sampai kapan
Api itu akan padam
Entah sampai kapan
Kebencianku akan memudar
Dan yang kutahu...
Aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa cintaku padamu
Maka...
Aku pun tak akan pernah bisa menghilang rasa benciku padamu

....

Dulu..
Kebahagiaan itu jelas terpangpang di wajahku
Dulu..
Senyum merekah itu jelas terlihat dibibirku
Bagiku..
Dahulu sangat indah
Bagiku..
Dahulu sangat lengkap
Orang-orang itu masih ada
Orang-orang itu masih utuh
Menemani dan hadir
Mencintai dan datang
Aku tak pernah merasa kekurangan
Aku tak pernah merasa kesepian
Tawa itu bagaikan selimut kehangatanku
Senyum itu bagaikan matahari panas yang hangat
Aku terbakar oleh kehangatan
Kehangatan yang sangat indah
Indah sampai aku bahagia
Bahagia karena orang-orang itu
Namun..
Dunia berputar
Kebahagiaan itu tak selalu hadir
Kebahagiaan itu tak selalu ada
Aku bagaikan menembus waktu
Menuju ke zona yang lembam
Tanpa kehangatan
Tanpa matahari
Tanpa cahaya
Semua bagaikan ditelan bumi
Semua berubah
Aku berubah menjadi sosok gagak hitam
Berubah dari seekor burung merpati yang cantik
Dunia yang kala itu putih
Menjadi dunia yang hitam kelam
Orang-orang itu hilang
Pergi meninggalkanku
Meninggalkan aku yang setiap harinya menikmati sepi
Aku takut..
Aku takut akan hal kehilangan
Sudah banyak
Terlalu banyak
Sampai rasa hangat itu berubah dingin
Sampai api itu menjadi beku
Aku hanya bisa menikmati
Aku hanya bisa bisa menerima
Arti dari sebuah kehilangan
Arti dari sebuah kesepian
Dan yang aku tahu..
Rasa kesepian itu tak akan pernah menang
Tak akan pernah menandingi
Oleh rasa sayangku untuk orang-orang itu

-Aku yang selalu merindukan kalian-

Aku

Aku..
Aku berada di tengah keramaian kota
Aku..
Aku berada di tengah banyaknya orang
Aku..
Aku berada ditengah kesibukan manusia-manusia itu
Tatapan mata berbinar namun kosong
Tatapan mata menusuk namun lemah
Aku melihat
Aku mendengar
Aku merasakan
Semua orang melakukan aktivitasnya
Semua orang melakukan perannya
Namun aku..
Aku terlalu bingung
Aku terlalu gelisah
Mungkin ini yang namanya penemuan jati diri
Kakiku menapak
Mulutku berbicara
Tanganku meraba
Namun aku tetap tak merasakan apapun
Otakku tak berjalan
Hatiku tak merasakan
Semuanya...
Aku muak
Aku marah
Aku kesal
Tapi tetap saja aku heran aku ini kenapa
Semua berjalan seperti biasa
Cuma...
Hatiku entah tertuju pada apa
Hatiku entah mencari pada apa
Aku hanya berjalan dengan lambat
Berusaha merasakan jengkal tiap jengkal apapun yang aku lalui
Namun semua sama
Aku tidak menyerah
Aku tetap menyibukkan diriku
Aku tetap tertawa
Aku tetap menangis layaknya manusia biasa
Tapi itu makin membuatku marah
Itu makin membuatku muak
Ingin rasanya aku memaki diriku sendiri
Ingin rasanya aku menampar diriku sendiri
Namun itu hanya fisik
Aku tetap tak menemukan cara untuk mengobati hatiku sendiri
Semuanya hambar
Jujur aku tak merasakan apa-apa
Aku terlalu membenci semuanya
Namun aku mengerti
Aku tak boleh bermain dengan hatiku
Aku tak boleh terlalu dalam merasakannya
Mungkin saat ini
Hatiku marah karena aku terlalu berkhianat
Lubang hitam itu terlalu besar
Hatiku bahkan layaknya sampah yang selalu didaur ulang
Semua kehangatan itu hilang
Semuanya..
Aku lemah
Baru begini saja sudah mengeluh
Aku lemah
Baru begini saja aku sudah tidak kuat
Aku pengecut
Aku menghindari satiap penyimpangan di hatiku
Aku menghindari setiap raungan di hatiku
Aku hanya berjalan sesuai jalurnya
Aku hanya berjalan sesuai mana yang ditempatkan
Keegoisanku menang kali ini
Dan mungkin...
Hatiku menangis karena sudah tidak didengar

Aku melihatmu bahagia

Kala itu...
"Hai, apa kabar"
Tanyaku padamu yang terkesan kikuk
Kamu mendelik melihatku dengan heran
"Sudah lama bukan?"
Tanyaku lagi...
"Semenjak kamu..."
Suaraku terhenti kala aku menyadari itu hal yang paling bodoh
Namun kamu dengan acuhnya menjawab..
"Ya, aku baik..."
Hening beberapa saat
"Maaf, aku tak mengerti. Aku lupa, sudah sangat lama sampai aku benar-benar lupa."
Jelas..
Sangat terlihat kalau kamu baik-baik saja
Aku terdiam mendengar perkataanmu itu
Senyum tipis itu..
Aku melihat dengan jelas kamu bahagia
Dan semua itu kamu lakukan ...
Tanpa aku!
Kamu pergi dengan langkah tegas
Seperti luka yang kau tinggalkan dengan sangat tegas
Kakiku lemas
Badanku lelah
Aku ambruk...
Marah, mual, sedih dan kesal..
Semua bercampur aduk
Namun..
Langkah tegas itu
Suara langkah itu
"Bisa tidak kamu berhenti menjadi sedih?!"
Teriakmu padaku..
Aku menengadah
Mukamu merah padam melihatku
Tatapan membunuh yang sangat aku kagumi
Tapi aku sama sekali tidak takut!
Melihat tatapan itu aku bangkit
Menatap balik sepasang mata yang angkuh itu
"Kamu bilang apa?"
Kataku setengah membentak
Entahlah mengapa aku menjadi setengah berteriak seperti ini
"Berhenti menjadi seseorang yang sedih! Memangnya kamu tidak lihat aku? Aku bahagia tanpamu, wanita bodoh! Dan aku senang tidak ada lagi kamu dihidup aku!"
Menohok..
Tepat pada sasaran..
Aku mundur beberapa langkah
"Karena kamu memang tidak pernah bahagia bersamaku, pria tolol! Bahagia saja! Bahagia tanpa aku kalau itu membuatmu puas!!"
Bentakku tak tahan..
Darah mengalir hebat sampai ke ubun-ubunku
Aku bisa merasakan suhu tubuhku berubah menjadi panas
Kamu tersenyum puas
Aku mendengus sebal melihatmu menang
Kamu mendekat, merengkuh wajahku hingga...
Kamu mencium keningku dengan lembut
"Terkadang kamu harus belajar membahagiakan dirimu sendiri. Lupakan saja kebahagiaan orang lain."
Aku tersenyum kecut tanpa berkata apapun
"Kamu harus bahagia."
Langkah tegas itu kembali pergi
Aku terdiam memikirkan perkataanmu
Otakku tiba-tiba tersendat
Ketika kamu sudah tidak tampak lagi
Barulah aku tertawa...
Bukan karena kamu lucu
Melainkan menertawakan diriku sendiri
"Aku memang bodoh ya? Sudah berapa lama aku tidak memperhatikan kebahagiaanku sendiri? Kamu saja sudah sangat bahagia tanpaku. Lalu aku harus sedih melihatmu bahagia tanpa aku? Aku memang bodoh."
Kataku pada diri sendiri..
Sejak saat itu pula
Aku makin sering melihatmu bahagia tanpa aku
Jujur saja, aku iri!
Aku memang bahagia
Tapi bahagia karena aku tak perlu cemas kau sedih
Aku bahagia karena aku melihatmu bahagia
Munafik..
Namun itu benar
Setidaknya kau membiarkan aku tak cemas
Kau membiarkan aku berjalan bahagia
Layaknya kamu yang bahagia tanpa aku
Seharusnya aku yang cemas pada diriku sendiri
Sampai-sampai...
Oh yaampun aku membiarkanmu mencemaskanku karena aku sedih
Aku benar-benar wanita bodoh!
Pekikku dalam hati
Jadi..
Aku tidak peduli kamu ingat aku atau tidak
Aku tidak peduli kamu mencemaskanku atau tidak
Bagiku adalah...
Aku harus terlihat bahagia!
Setidaknya itu yang kamu lihat...
Jadi kamu tak perlu berpikir aku mengganggumu dengan aku sedih
Benar bergitu kan?
Ya...
Aku harus bahagia
Bahagia layaknya kamu bahagia tanpa aku...

Terikat

Kalau saja aku Tuhan..
Mungkin aku tak akan membiarkan dirimu terikat padaku
Sudah lama sejak kau datang padaku tanpa sebab
Aku merasakan tali itu sangat kuat
Kuat hingga akhirnya tali itu perlahan-lahan merenggang
Aku masih bisa merasakan tali itu 
Tapi kalau kamu bagaimana?
Ikatan itu masih kuat tumbuh di hati kecilku
Ikatan itu aku sembunyikan sampai kamu menyadari talinya hampir putus
Aku mengikat diriku kuat-kuat padamu
Membiarkan kamu melanjutkan apapun yang kamu suka 
Namun aku membiarkan diriku terikat kuat di belakangmu
Ya, hanya dibelakangmu ikatan itu kuat
Bukan di depan ketika kau sadar aku mengikat tali itu
Kau tak menyadarinya ya?
Miris memang...
Tapi itulah yang aku lakukan padamu
Tapi bukannya...
Kamu akan sadar ketika masih ada aku dibelakangmu
Oh tidak aku lupa...
Kamu tak pernah menengok ke belakang kan?
Hidupmu lurus tanpa menjurus sedetik pun ke arah belakang
Tapi pernah, pernah sekali dan hanya sedetik
Kamu menengok ke belakang
Ya...
Kamu melihatku
Aku spontan kaget dan yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum
Kamu bahkan tak sempat melihat senyum tipisku dan kembali menghadap kedepan
Lalu tali itu?
Ya ampun, tali itu hampir putus
Tali itu hampir terlepas
Untung saja aku tersadar dan langsung meraihnya
Tapi mungkin aku akan membiarkan tali itu terlepas dengan sendirinya
Atau mungkin...
Ada seseorang yang melepaskan tali itu?
Aku sangat tidak tahu
Namun..
Tali itu..
Ikatan itu...
Walaupun sudah hampir putus
Bukankah akan selalu terlihat?
Bekas putus itu akan berbekas bukan?
Dan ya, mungkin itu akan menjadi cerita kalau kita pernah...
"Terikat"

Hujan

Awan hitam
Mendung melanda
Gelap menyapa
Gemuruh demi gemuruh dinyanyikan oleh dewa langit
Menjatuhkan tiap tetes kecil air yang gemericik
Indah namun dingin
Indah namun gelap
Dan kau tau namanya apa?
Ya, hujan.
Tetes demi tetes jatuh dengan pasti
Tetes demi tetes jatuh secara perlahan
Membawa setiap kedinginan yang menusuk kalbu
Membawa setiap kegelapan yang membuatku takut
Apalagi suara gemuruh gemuruh yang datang silih berganti
Aku tidak benci hujan
Hanya saja, kalau boleh jujur
Hujan membawa sebuah kerinduan
Kerinduan dimana kamu mampu menjadi payungnya
Kerinduan dimana kamu mampu meneduhkanku
Ketika kita berdua saling menatap dalam hujan
Aku merindukan tatapan matamu yang menghangatkanku
Aku merindukan tatapan matamu yang menemaniku
Rambut basah dan dagu yang tegas
Kamu..
Indah ketika hujan datang
Lalu saat hujan itu berhenti
Akan selalu ada pelangi yang menggantikan kegelapan itu
Hujan yang dingin pekat
Akan digantikan oleh pelangi yang hangat dan terang
Namun kamu..
Kamu adalah hujan dan pelangi itu
Kamu adalah perpaduan yang komplit dari hujan itu
Ketika aku hanya sendiri menikmati hujan yang datang
Rindu itu memaksa masuk ke rongga hatiku
Rindu itu menguap bagaikan embun hujan itu
Kamu adalah hujan yang indah
Hujan yang sangat aku tunggu namun paling kubenci
Aku tunggu karena setiap tetes hujannya membawa kenangan akan kamu
Aku benci karena aku tersadar
Tanpa kamu disisiku
Hujan itu sangat menakutkan 

Mengais sebuah kebekuan

Mati
Tiada
Hilang
Perlahan semua memudar
Perlahan semua menghilang
Perlahan semua berakhir
Titik dimana kehangatan itu pergi
Tak meninggalkan berkas sedikitpun
Sunyi
Sepi
Semua itu masuk dalam tiap tetes keramaian
Semua itu hadir dalam seluk beluk kehiruk pikukan
Temaram sunyi namun pasti
Aku masih mencari celah dimana kehangatan itu datang
Aku masih mencari celah dimana rasa itu hadir
Namun semua hambar tak ada rasa
Semua pahit tak ada manis sama sekali
Aku panik..
Aku bingung...
Merasakan aku tak bisa lagi menelan coklat yang manis
Merasakan aku tak bisa lagi menelan tiramisu yang manis
Semuanya beku dalam satu rasa
Semuanya beku dalam satu cerita
Berpegang pada gula aku masih terus mencoba merasakan manis
Namun aku tetap saja gagal
Berpegang pada mesis aku terus melakukan agar manis itu terasa
Namun tetap saja semuanya pahit
Aku menyerah
Aku lelah
Aku berusaha menikmati tiap tetes pahit itu
Aku berusaha menikmati tiap tetes hitam itu
Dan rasanya..
Demi apapun itu tidak enak
Demi apapun itu tidak nikmat
Rasa manis itu hilang dalam sekejap tanpa meninggalkan senyum
Pahit itu datang dengan kemasaman muka yang pasti
Rasanya kecut...
Rasanya masam...
Tak ada yang mampu membuatku tersenyum puas
Yaaaa.
Aku merindukan rasa manis itu
Aku merindukan rasa senyum yang diberikan manis itu
Aku merindukan tetes demi tetes rasa manis itu
Aku merindukan sensasi yang diberikan manis itu
Yaitu...
Kebahagiaan

Titik jenuh sebuah kesetiaan

Tahukah kamu rasanya dikhianati?
Berjuta alasan orang takut untuk berkhianat
Semua orang yang mengalami pengkhianatan pasti sudah jenuh dan bosan bila masih tetap setia
Lalu aku ini namanya apa?
Setia dengan bodoh itu beda tipis sayang
Yang membedakannya adalah...
Kesetiaan itu untuk apa..
Kalau alasan kesetiaan padahal sudah sangat tersakiti hingga dalam
Apa yang bisa kita harapan kembali dari sebuah kesetiaan
Kalau kesetiaan itu malah akan berujung pada kebodohan dimana sakit itu akan lebih parah
Aku mencoba setia namun tak mau bodoh
Aku mencoba setia namun tak bodoh
Manusia setia bukan berarti bodoh
Dan aku setia untuk melihat...
Sejauh mana kamu mampu bertahan tanpa aku
Kalaupun kamu sangat mampu tanpa aku
Berarti..
Aku lah yang jenuh pada kesetiaan itu
Kamu...
Berkali-kali hadir dalam hidupku
Datang dan pergi sesukamu
Kamu...
Berkali-kali menyakiti hati kecilku
Tanpa memikirkan aku yang sudah disakiti olehmu
Aku mengerti
Aku pahami
Namun aku pun bisa saja bosan, bukan?
Selama ini aku lah yang mencoba merasakan apa arti kesetiaanku ini
Namun hasilnya nihil
Kamu tetap saja datang dan pergi sesukamu
Kamu tetap saja menyakitiku tanpa peduli padaku
Memangnya aku tidak jenuh?
Kamu...
Mulai sekarang aku biarkan semua kesetiaan itu hilang tanpa sebab
Biarkan hatiku menguap memudar dengan perlahan
Rasa yang kutinggalkan untukmu hanyalah sebongkah es beku dalam minuman
Meninggalkan secercah cahaya yang mungkin sudah terlalu redup untuk nyala
Aku melangkah meninggalkan kesetiaan itu untukmu
Meninggalkan satu kesetiaan yang akan kau bawa untuk kau pakai
Ya..
Untuk kau pakai di kemudian hari bilamana kita bertemu lagi
Suatu hari kesetiaan itu akan merekah kembali
Tanpa atau adanya kamu
Kesetiaan itu akan selalu ada namun tertutup oleh rasa jenuh yang kau tinggalkan untukku
Kamu adalah...
Titik jenuh sebuah kesetiaanku

Gemuruh itu...... dendam

Awan hitam pekat menyapa
Petir menyanyikan sebuah lagu untukku
Guyur hujan datang melanda
Aku terpaku dalam serangan awan kelabu
Menjerit layaknya manusia yang kesetanan
Lenyap hilang bagaikan ditelan waktu
Lenyap musnah bagaikan ditelan bumi
Awan mendung datang menyapa
Sinar terang yang hangat itu sirna
Musnah digantikan hawa dingin menusuk kalbu
Menusuk jantung hingga menghancurkan semua kepingannya
Gunung berapi yang sudah lama pasif itu pun
Menderu layaknya mobil tua yang baru sembuh
Menyemburkan larva panas yang menyeruak untuk murka
Api itu terselimut kabut dingin yang membeku
Membekukkan setiap perasaan walaupun aku sedang merekah
Menampakkan riuh gemuruh pelan di relungku
Api itu dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru
Menapak hingga semua orang takut melihatnya
Gemuruh itu....
Jeritan itu...
Sudah lelah hingga tak bisa terkontrol
Semua mati dalam satu amarah saja
Marah hingga aku ingin meledak
Marah hingga aku ingin hancur
Tak ada tetes air mata yang mampu mendinginkannya
Tak ada senyum tipis yang mampu menyembunyikannya
Kekesalan itu dalam sekejap terlihat tanpa topeng
Dendam itu...
Sangat terlihat namun tipis
Dendam itu..
Sungguh aku benci mengakui kalau aku menyimpannya
Aku mampu menahan semua itu
Tapi aku muak untuk menyembunyikannya
Aku sudah lelah berpura-pura
Kamu... 
Membuatku merasakan kebahagiaan sekaligus kepedihan yang akan selalu aku ingat
Kamu...
Hal yang paling aku cinta dan paling aku benci yang pernah kukenal

Tanpa judul

Malam menyapa gelap menampar
Aku terdiam lalu tangisku pecah
Dan...
Ketika aku kembali mengharapkanmu (lagi)
Itu artinya aku harus kembali hilang dalam bayang semumu
Kesunyian membunuh perlahan
Menemani hati yang pecah lalu hancur seketika
Tiap langkah aku tergopoh dalam jalan yang rusak
Menyeret kaki kecilku untuk menapak dengan angkuh
Tanpa adanya kamu...
Aku membawa rindu itu dengan ringkih
Menjadi butiran debu tanpa arti
Debu yang terkikis oleh angin dan terbang tinggi
Meninggalkan secercah harapan yang menangis akan rindu
Menjerat menusuk terlalu dalam hingga sulit terlepas
Tanpa arah dan lenyap ditelan sang waktu
Namun...
Aku tetap membisu melihat semua itu hilang
Aku tetap diam membeku melihat semua itu pergi
Tetapi...
Diam-diam gulir air mata itu jatuh perlahan
Membawa setiap tetes kesakitan yang menderu di hati
Hitam pekat tanpa warna
Gelap dingin tanpa cahaya
 Tangis itu diam
Tangis itu sunyi
Dan aku pun masih bisa tersenyum merasakan itu semua

created by : Rahmanita Destiatanti dan Nadya Permata Indrasari