Panas...
Menjalar...
Tersulut...
Dengan cepat api itu membakar hatiku
Dengan cepat api itu menguap dengan garang
Api yang menguap semua emosinya
Api yang menjalar semua yang ada
Tak meninggalkan apapun
Api itu melenyapkan semuanya
Meninggalkan butiran debu usang sebagai pemanisnya
Api itu tersulut lagi dan lagi
Membakar
Menghabiskan
Melukai setiap kepingan-kepingannya
Bara api itu tak kunjung padam
Bara api itu tak kunjung habis
Menyisihkan sebuah bongkahan yang nyala dan redup
Menyisihkan detik demi detik waktu untuk lenyap
Api itu menyeruak
Api itu meninggi
Menelan habis semuanya
Menelan apapun yang ada
Nama bongkahan api itu adalah...
Kebencian!
Perasaan yang sangat ringkih
Perasaan yang sangat rapuh
Menjelma menjadi asap pekat yang hitam
Meneteskan titik demi titik kepedihan luka
Mengibaratkan helai demi helai kepedihan
Kebencian itu datang
Menyapa tidur lelapku
Menyapa pagi indahku
Sebuah kebencian yang ringkih
Menerpa menembus sanurbariku
Menjentikan satu tetes penghinaan
Aku membencimu
Melebihi aku mencintaimu
Api panas yang membakar habis hatiku
Api panas yang mematikan setiap sel di otakku
Kebencian itu tak dapat dibendung
Tumpah bagaikan tsunami ganas
Meletus bagaikan gunung berapi
Awan pijar itu mendatangkan debu demi debu luka
Aku tak bisa mencegah
Aku tak bisa memungkiri
Aku pun tak punya alasan
Layaknya aku mencintaimu tanpa alasan
Aku pun membencimu tanpa alasan juga
Entah sampai kapan
Api itu akan padam
Entah sampai kapan
Kebencianku akan memudar
Dan yang kutahu...
Aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa cintaku padamu
Maka...
Aku pun tak akan pernah bisa menghilang rasa benciku padamu


0 komentar:
Posting Komentar