Awan hitam pekat menyapa
Petir menyanyikan sebuah lagu untukku
Guyur hujan datang melanda
Aku terpaku dalam serangan awan kelabu
Menjerit layaknya manusia yang kesetanan
Lenyap hilang bagaikan ditelan waktu
Lenyap musnah bagaikan ditelan bumi
Awan mendung datang menyapa
Sinar terang yang hangat itu sirna
Musnah digantikan hawa dingin menusuk kalbu
Menusuk jantung hingga menghancurkan semua kepingannya
Gunung berapi yang sudah lama pasif itu pun
Menderu layaknya mobil tua yang baru sembuh
Menyemburkan larva panas yang menyeruak untuk murka
Api itu terselimut kabut dingin yang membeku
Membekukkan setiap perasaan walaupun aku sedang merekah
Menampakkan riuh gemuruh pelan di relungku
Api itu dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru
Menapak hingga semua orang takut melihatnya
Gemuruh itu....
Jeritan itu...
Sudah lelah hingga tak bisa terkontrol
Semua mati dalam satu amarah saja
Marah hingga aku ingin meledak
Marah hingga aku ingin hancur
Tak ada tetes air mata yang mampu mendinginkannya
Tak ada senyum tipis yang mampu menyembunyikannya
Kekesalan itu dalam sekejap terlihat tanpa topeng
Dendam itu...
Sangat terlihat namun tipis
Dendam itu..
Sungguh aku benci mengakui kalau aku menyimpannya
Aku mampu menahan semua itu
Tapi aku muak untuk menyembunyikannya
Aku sudah lelah berpura-pura
Kamu...
Membuatku merasakan kebahagiaan sekaligus kepedihan yang akan selalu aku ingat
Kamu...
Hal yang paling aku cinta dan paling aku benci yang pernah kukenal


0 komentar:
Posting Komentar