Married…
Akhir dari sebuah perjalanan
Bulan dan Bintang
Bagi semua orang pernikahan adalah hal yang paling sacral dan hal itu sangatlah membahagiakan tapi menurutku tidak. Menikah dengan orang yang membuatku bingung dan aku sadar cintaku telah pudar adalah suatu hal paling buruk yang pernah kulakukan. Bagi semua orang menikah dengan kekasih adalah suatu hal yang menakjubkan, tapi bagiku tidak. Karena aku menikahi orang yang salah. Pagi-pagi sekali aku harus berdandan dengan ala barat, karena sesuai ajaran Mamanya Rio dia ingin aku tampil secantik mungkin dengan gaun menjuntai kebawah. Aku dirias oleh Ran dan stylish handal. Dengan rambut dikepang ke atas dan make-up yang tak lagi biasa aku menatap diriku ke cermin. Tak ada sorot kebahagiaan di mukaku yang ada hanya kesedihan dan penyesalan yang tergambar. Dengan memakai gaun menjuntai panjang ke bawah dengan motiv batik modern dan sebuah sepatu kaca dengan pita aku berdiri menatap cermin. Aku sengaja memakai kalung dan gelang pemberiaan Edward, coba saja Edward yang berada di sebelahku untuk mengucapkan ijab Kabul aku pasti sangat senang sekali.
“Setelah ini kau akan mendapat kejutan besar.” kata Ran padaku, aku tak peduli kejutan apa yang akan mereka berikan padaku, yang aku mau sekarang adalah melihat Edward. Setelah aku selesai dirias, aku menatap diriku di kaca lagi. Dan sekarang air mata jatuh kepipiku hampir saja menghapus make-upnya. Semua tamu sudah hadir sekarang, karena semua sudah siap aku disuruh menunggu untuk memasuki tempat ijab Kabul. Tapi kata Mamaku sebelum ijab Kabul aku disuruh memainkan lagu yang menggentarkan, dan aku menyetujuinya. Aku masuk ke dalam gedung dengan Papaku di sebelahku. Aku berjalan dengan anggun menuju panggung tapi mataku tetap terfokus mencari-cari keberadaan Edward. Aku sampai di panggung dan sebuah piano besar telah menungguku, aku duduk dan mulai memainkan lagu My Valentine. Ternyata tak hanya memainkan lagu aku juga menyanyi. Air mata jatuh pelan-pelan terpendam suaraku. Setelah selesai semua tamu yang hadir bertepuk tangan riuh, ada yang bersiul-siul dan aku mendapati Rio berjalan menyambutku untuk menuju meja ijab Kabul. Aku menyambut tangannya dengan senyum kecil tapi di dalam hatiku sangatlah sedih dan rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Keluargaku, keluarga Rio beserta saksi-saksi tidak ketinggalan penghulu telah menunggu kami. Aku duduk di samping Rio yang sudah siap menjabat tangan dengan Pak Penghulu. Pak Penghulu sudah selesai membacakan janji yang akan diulang oleh Rio. Kumohon! Edward… kataku dalam hati, dan aku memejamkan mata tak mau menyaksikan,
“Saya terima nikahnya Nadya Daniarti binti…”
“TUNGGU….”
Ada seseorang yang berusaha mengganggu jalannya pernikahan, aku masih tak berani membuka mataku.
“NADYA… AKU CINTA PADAMU, AKU TAK RELA KAU MENIKAH DENGANNYA.”
Aku memberanikan membuka mataku, dan kulihat Edward berada di depan pintu dengan balutan jas putih dan kemeja putih dengan dasi hitam didalamnya, semua sunyi melihat Edward yang berusaha menggagalkan pernikahanku. Menggagalkan… yah aku tak jadi menikah dengan Rio. Karena semua terdiam, aku langsung berdiri dan berlari menuju Edward. Air mata jatuh lebih deras dan jantungku sakit dan perih. Aku langsung memeluk dan mencium bibir Edward dengan senang. Bulan-ku telah kembali, aku akan bersinar kembali bersama bulan-ku. Aku terbebas dari semuanya. Dan aku janji akan terus bersinar sampai batas waktu telah habis. Aku berjanji akan terus menjadi bintang yang paling bersinar, paling terang yang pernah ada di langit. Dan aku berjanji akan terus mencintai Edward sampai kapanpun.
“Aku cinta kau, selamanya. Seperti bulan dan bintang, dan aku janji tak akan meninggalkanmu lagi dan kita akan terus bersinar bersama. Maukah kau menikah denganku? Bintang-ku.” Aku mengangguk pelan dan masih berpelukan dengan Edward. Aku memejamkan mataku dan semua sunyi dan gelap. Sebuah ruang kosong dengan jalan dipenuhi cahaya telah menunggguku. Aku tak bisa merasakan detak jantungku, aku tak bisa membuka mataku. Kau tahu rasanya mati? Kematian datang kepadaku dengan sangat indah, aku mati di pelukan orang yang sangat kucintai. Dan aku akan membawa nama NADYA dan EDWARD ke langit yang indah dan mengukir nama kami sebagai bulan dan bintang yang akan terus bersinar sampai kapan pun. Walau tubuh ini lemas tak berdaya tapi aku akan membawa tubuh ini tetap kuat, walau detak jantung ini tak lagi berdetak aku akan terus mendetakkannya di jantung Edward, walau mata ini akan tertutup selamanya tapi aku akan terus membuka mataku untuk melihat langit yang biru. Sekarang aku bisa bersinar di dalam hati dan jiwa Edward sebagai mana Ibunya dulu telah terukir lama di hatinya. Maafkan aku Edward, aku tak bisa menjadi bintang di depan matamu tapi aku akan menjadi bintang yang selalu berada di hatimu. Aku percaya aku akan terus bersinar dimana pun dia berada. Inilah akhir dari perjalananku, akhir yang sangat indah tapi menguras air mata. Aku tahu air mata ini tak akan lagi mengalir tapi setiap air mata yang mengalir dulu menggambarkan pengorbanan dari setiap langkah kaki yang kuinjakkan ke bumi. Waktu memang telah memisahkan kami menjadi dimensi yang berbeda tapi hati kami tak akan mungkin terpisahkan. Aku benar-benar mati sekarang, mati tak bernyawa. Terkulai lemas dalam pelukan Edward, tapi aku tersenyum bisa merasakan kehadiran Edward-ku lagi.. Aku tersenyum untuk terakhir kalinya aku mendapatkan seorang Edward lagi, menatapnya, memeluknya, dan menciumnya. Itu akan jadi kenangan terindah yang pernah ada. Kami bukan Romeo adan Juliet yang romantis dan dengan gampang meninggal mengharukan tapi kami hanya Edward dan Nadya yang mengukir kisah kami sendiri di langit. Bagiku ini akhir perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi aku sadar setelah hujan ada pelangi, dan pelangi itu akan menuntunku ke langit yang sangat biru dan indah sebagaimana mestinya. Pelangi itu adalah orang-orang yang kucintai, pelangi dengan tujuh sahabat yang menuntunku ke langit yang sangat indah. Keluarga sebagai kata pengantar dalam sebuah buku dan sahabat sebagai daftar isi dalam sebuah buku yang menceritakan perjalanan hidup seorang Nadya. Hanya seorang Nadya Daniarti yang penuh liku untuk mencapai hidup yang aku inginkan. Aku hanya Nadya Daniarti yang mencari sebuah pelangi di balik terpaan hujan yang sangat deras, dengan petir menghiasi setiap perjalan. Inilah akhir dari perjalananku yang sangat lelah tapi membawaku pada bentuk kedewasaan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk menikmati hidup dengan sebaik-baiknya tapi di balik itu semua, kehidupan yang sesungguhnya adalah ketika kita meninggal. Meninggalkan hidup yang sempurna dan menjalani kehidupan yang lebih sempurna setelah kematian. Kehidupan yang membawa kita pada pembentukan jati diri, tapi aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tuhan memang baik, beliau telah memberikanku apapun yang tidak aku miliki setelah aku hidup dalam kematian, seorang keluarga dan para sahabat yang tak akan kumiliki setelah itu. Aku bersyukur karena aku telah mendapatkan semuanya sebelum aku mati dan aku juga sadar kalau semua yang telah beliau ciptakan akan kembali kepada-Nya. Dan aku akan berjalan kembali pulang kepada-Nya. Meninggalkan dunia tapi masih membawa cinta kepada orang-orang yang aku cintai. Akhir perjalanan yang sangat indah bukan. Dan aku akan terus mengukir setiap perjalananku di atas langit dengan berbagai pernak-pernik kecil menghiasi background-nya. Dengan sebuah aransemen lagu yang menghiasi perjalanannya, dan tidak ketinggalan sebuah prolog dan epilog untuk mengakhiri semuanya. Aku akan terus ada di hati kalian, seperti bintang yang bersinar terang di atas sana yang akan selalu bersinar di hati kalian semua. Walaupun bintang ini telah meninggalkan bulan sendirian tapi bintang ini percaya dan yakin kalau bulan ini akan tegar dan bintang ini yakin kalau suatu saat nanti bulan ini akan mendapatkan sebuah bintang yang cukup terang untuk menggantikan bintang yang telah redup untuk selamanya. Redup didepan mata tapi akan terus bersinar di hati, bintang yang selama ini telah menyinarkan hari-hari seorang bulan. Bintang yang selama ini telah berusaha menyalakan lagi sinarnya yang paling terang, tapi percaya atau tidak. Karena bulan-lah yang telah menerangkan hari-hari bintang ini supaya tak kalah terang dengan bintang-bintang yang lainnya. Berbagai tata surya lain yang tak kalah indah belum bisa mengalahkan indahnya bintang ini untuk bersinar. Sebuah pelangi dengan ketujuh warnannya yang cantik belum bisa menyamai kecantikan dari sinar bintang ini, bahkan matahari pun tak akan pernah bisa seterang bintang ini. Tapi seorang Nadya yang berjuang melawan gagal jantung ini tak akan mampu bertahan tanpa seorang Edward…
Bintang yang paling terang…
Edward
Aku masih tak percaya sekarang aku bisa menggagalkan pernikahan Nadya dengan Rio. Bahkan sekarang aku bisa memeluk dan mencium Nadya bintang-ku yang paling terang.
“Aku cinta kau, selamanya. Seperti bulan dan bintang, dan aku janji tak akan meninggalkanmu lagi dan kita akan terus bersinar bersama. Maukah kau menikah denganku? Bintang-ku.” kataku padanya, dan Nadya mengangguk pelan. Aku semakin mempererat pelukanku padanya. Tapi ada yang aneh dari Nadya, badannya lemas dan aku tak bisa mendengarkan detak jantung Nadya lagi. Jangan… Jangan katakan kalau Nadya sudah tak bernyawa. Aku menggeletakkan badan Nadya di lantai dan aku membenamkan telingaku di jantungnya. Tak berdetak… air mata langsung keluar begitu saja dari mataku tapi aku belum putus asa aku berusaha memompa jantung Nadya supaya mau kembali berdetak, tak ada respons. “Nad… please… jangan tinggalkan aku disini, jangan mati.” tangisku semakin keras sekarang dan aku masih berusaha terus memompa jantung Nadya sesekali membuatkan napas buatan padanya, tak ada respons… lagi… matanya akan tertutup selamanya sekarang tapi aku bisa melihat Nadya tidur dengan sangat tenang dan senang, wajahnya terlihat sangat cantik dan aku bisa melihat senyuman yang kecil menemaninya dalam tidurnya… tidurnya untuk selamanya… Semua orang yang sayang dengan Nadya sudah mengerumuniku dan aku mendengar suara Mamanya Nadya, Ichi, Ran dan Gita menangis menatap Nadya pergi, sementara Rio meraung berusaha mendekat dan berteriak histeris sampai-sampai Harry dan Doni harus berusaha sekuat tenaga menenangkannya. Aku menggendong tubuh Nadya yang terkulai lemas tak berdaya. Aku tahu kalau Nadya bahagia meninggal dengan cara seperti ini, dan aku percaya kalau sinar yang Nadya terangkan saat ini akan selalu bersinar dengan terang dan akan selalu bersinar di hatiku…
“Apa tak bisa tertolong lagi?” Tanya Papa Nadya padaku,
Aku tersenyum “Tak ada lagi Oom, ini sudah jalannya. Tapi Oom dan Tante tak perlu khawatir, Nadya bahagia dengan akhir seperti ini.”
“APA MAKSUDMU BAHAGIA TOLOL…” raung Rio menjadi-jadi,
“Rio, dia meninggal dengan senyuman yang tercantik yang belum pernah aku lihat. Apa kau tak bisa melihatnya?” tanyaku pada Rio dan aku memperlihatkan wajah Nadya kepadanya,
“Dia… sangat cantik Edward.” kata Ran yang melihat wajah Nadya, “Jauh lebih cantik.” katanya sambil tersenyum.
“KALIAN SEMUA SUDAH GILA, ORANG SUDAH MATI DIBILANG CANTIK. KALAU MENURUTKU DIA MENDERITA MATI SEPERTI INI.” raung Rio lagi, dan kali ini Harry yang dari tadi menahannya menampar keras-keras pipi Rio.
“Kau memang tak cinta dengannya Rio, apa kau tidak bisa lihat. Wajah Nadya jauh lebih cantik sekarang, tergambar senyum yang bahagia dibibirnya. Kau yang tidak bisa melihatnya, dasar otak udang.” kata Harry yang menjauhi Rio,
“JADI MAKSUD KALIAN AKU HARUS MENIKAH DENGAN MAYAT BEGITU.” kata Rio sambil tertawa,
“JAGA MULUTMU RIO SAPUTRA.” sekarang Mama Nadya murka dan menampar muka Rio lebih keras dari tamparan Harry sampai darah keluar dari mulutnya.
“Mudah-mudahan itu bisa menyadarkanmu.” kata Papa Nadya kali ini.
Pemakaman…
Keesokkannya adalah hari pemakaman Nadya. Walaupun berat bagiku tapi aku tahu dia bahagia meninggalkan kami karena dia tahu dia akan selalu bersinar untuk mereka. Semua keluarga dan sahabat Nadya yang dia sayangi menginap di rumah dari semalam sampai proses pemakaman. Nadya sudah bersih sekarang, Nadya sudah dimandikan dan sudah dikain kafani dan sekarang tertidur di peti mati. Dari semalam ayat suci al-quran selalu dipanjatkan olehnya. Tak lebih dari orang tua Nadya, aku, Harry, Ichi, Ran, Rio, Gita dan semua tetangga berhubung Doni beragama Kristen dia hanya bisa memanjatkan doanya kepada Nadya. Nadya akan dimakamkan siang ini jam 10.00 di TPU Jeruk Purut. Aku tak hentinya memandangi wajah Nadya yang harum dan cantik, malahan banyak pelayat memfoto wajah Nadya yang kelewat cantik dan tenang yang sedang berbaring menghadap ilahi. Tapi Rio sampai sekarang tak pernah bisa melihat sorot bahagia Nadya yang tertidur nyenyak padahal semua orang bisa melihat kecantikan itu.
“Dia sangat cantik bukan?” kata Harry,
“Eh… iya, itu sudah pasti.” aku tersenyum mendengarnya.
“Kau memang sangat mencintainya.” kata Harry padaku,
“Semua orang sayang padanya, kau juga kan.”
“Tapi aku aneh kenapa dia tak bisa melihatnya.” kata Harry yang menunjuk Rio yang sedang menangis tersedu-sedu…
“Dia bukannya tak bisa tapi dia tak mau melihatnya, dia terlalu shock.”
“Lantas kenapa kau tak shock?”
“Karena aku percaya kalau Nadya akan selalu ada dihatiku, dan aku juga percaya kalau Nadya bahagia.”
“Kenapa kau bisa yakin kalau Nadya bahagia?”
“Karena dia sudah memiliki semuanya.”
“Kau benar, aku yakin Nadya juga menyadarinya.”
Siang ini kami sudah berada di pemakaman dan Nadya sudah terkunci rapat di dalam peti mati. Sebuah liang lahat sudah menganga menunggu Nadya. Secara perlahan peti mati dimasukan ke dalam makam, dan Rio di sebelahku makin meraung sangat keras. Aku hanya bisa berdoa dan menitikkan air mata untuknya, selamat jalan Nadya, semoga kau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Liang lahat sudah ditutup dan karangan bunga dan tebaran bunga-bunga sudah berada di atas makam Nadya, Nadya benar-benar pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali. Semua para pelayat sampai orang tua Nadya dan para Anak Pelangi sudah meninggalkan makam setelah memanjatkan doa hanya tinggal aku dan Rio di makam itu. Rio tak henti-hentinya menangis dan memegangi tanah makam Nadya. Akhirnya aku menepuk pundka Rio untuk menenangkan.
“Rio, biarkan dia pergi.” kataku padanya, Rio hanya bisa terdiam mendengar perkataanku.
“Edward, kenapa aku belum bisa melihat wajah cantiknya?” Tanya Rio padaku,
“Karena kau belum merelakannya, biarkan dia tenang berada disana. Kau harus melihatnya dari hati bukan dari Nadya yang selama ini kau kenal.” kataku padanya,
“Aku merasa bersalah padanya, ternyata aku salah besar padanya. Kaulah yang dia cintai bukan aku, Ran pernah bercerita mengenai kau dan Nadya, mengenai bulan dan bintang tapi aku menganggap kalian sudah gila, maafkan aku… Aku tak melihat kedalam hatinya.” akhirnya Rio bangkit dan memelukku dengan akrab.
“Ayo kita pulang, Nadya masih sedang tersenyum melihat kita sedang berpelukan.” kataku sambil menohok bahunya dengan ramah. Sebelum kami pulang ke rumah Nadya, kami menyempatkan memanjatkan doa pada Nadya dan mencium batu nisan yang akan menemani tidur Nadya di dalam sana.
pelangi dengan tujuh sahabat (the end)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar