Lima Tahun Kemudian
Kehidupan yang tak kunjung berhenti……….
Sudah lima tahun berlalu. Aku dan Edward berada di London.
Kabar baiknya adalah aku sudah menjadi seorang pianis handal sementara Edward sudah menjadi seorang dokter yang hebat, memang kami dibilang semua orang cocok sebagai pasangan tapi kami berdua tak punya komitmen dalam apapun untuk menempuh hidup sebagai pasangan karena aku dan Edward hanya belahan jiwa yang menempati ruang yang ada diantara kami. Selain aku manggung menjadi seorang pianis aku juga bekerja membantu Edward di rumah sakit kakaknya; Corner dan kadang aku menjadi dokter hewan di salah satu rumah sakit hewan disana.
Kabar buruknya adalah penyakitku tak kunjung sembuh walaupun aku sudah melakukan berbagai pengobatan yang canggih di London dan bolak-balik masuk kerumah sakit karena jantungku tak kuat memompa tapi aku dan Edward tak pernah putus asa. Edward malah yang memberiku semangat untuk bertahan hidup padahal aku sudah tak kuat merasakan berkali-kali jarum suntik itu menusuk kulitku yang sudah lemah ini. Tapi pada suatu ketika, Edward agak menyerah melihat kondisi yang belum juga stabil.
“Edward.” kataku yang berbaring lemah dikasur rumah sakit,
“Apa Sayang?” tanyanya dengan sorot matanya yang layu,
“Kau lelah..” aku memegang tangannya yang dingin karena kelelahan,
“Tidak… Aku kuat.” katanya sambil membelai lembut rambutku,
“Aku mau pulang.” kataku dengan suara yang agak parau.
“Kau belum boleh pulang. Kondisimu belum stabil.”
“Kapan aku boleh pulang?” tanyaku padanya “Dan kau tak kerja?” lanjutku lagi,
“Seminggu lagi. Sayang, aku ingin menjagamu dan aku sudah bilang pada kakakku kalau aku mau cuti selama dua minggu untuk menemanimu.”
“Edward.. Terima kasih.” entah apa yang terjadi kalau tak ada Edward disampingku, aku pun membelai wajahnya dengan lembut. Ada seseorang dipintu masuk, Corner; kakaknya Edward masuk membawa hasil tes darahku.
“Pagi. Aku membawa hasil tes Nadya.” katanya dalam bahasa Indonesia, tanpa berpikir panjang Edward langsung merampas hasil tes-ku tanpa memberikannya padaku,
“Kau mau makan apa?” Tanya Corner padaku
“Apa aja, Dok.”
“Baiklah, kau harus segera sehat dan sembuh supaya kau bisa melantunkan lagu yang merdu untukku.” katanya sambil tersenyum dan Corner pergi keluar untuk bekerja lagi.
Hening…
“Edward… Boleh aku lihat hasil tes-ku?” tanyaku padanya,
“Kau yakin ingin lihat?” suara Edward menegang dan terlihat sorot cemas di matanya, aku pun mengangguk. Lalu dia menyerahkan hasil tes-ku padaku, sebelum aku melihat hasilnya. Aku sudah siap apa pun resikonya dan aku memejamkan mataku dan menghembuskan napas yang panjang. Kubuka mataku dan kulihat hasil tes itu. Air mata mengalir di pipiku karena hasil tes itu sangat buruk.
“Tak akan lama lagi untuk bertahan hidup”
Kata-kata itu membuat aku shock dan air mataku mengalir cukup deras. Edward menghampiriku dan langsung memelukku berusaha menenangkanku.
“Ssst…. ssstt… Itu hanya hasil dokter… Kau kuat… Kau kuat.” aku meraung cukup keras dan aku memeluk Edward dengan sangat keras.
Seminggu Kemudian
Aku berhasil keluar dari rumah sakit dan sesuai perkataan Edward benar-benar cuti untuk menemaniku. Sepulang dari rumah sakit aku hanya berdiam diri di kamar dan sesekali memandangi langit, Edward masuk kekamarku sebelum tidur.
“Hai.” sapanya sambil menghampiriku, mataku sembab karena aku menangis seharian, Edward langsung masuk kedalam selimut dan merangkulku disana. Kutaruh kepalaku di dadanya dan aku kembali menangis di dadanya. Edward mulai mencium rambutku dan aku merasa nyaman didalam pelukannya.
“Sampai kapan aku bisa bertahan?” tanyaku dengan suara parau,
“Kau kuat… Itu hanya hasil dokter… Kau tak boleh percaya dengan dokter 100%, takdir di tangan Tuhan.” kata Edward padaku sambil menenangkanku,
“Ed. Jangan kasih tahu siapa-siapa mengenai kondisiku. Please.”
“Kenapa? Mereka berhak tahu, Sayang.”
“Aku mohon, aku belum siap memberitahukan mereka. Belum saatnya.”
“Baiklah, tapi jangan disimpan terlalu lama.” katanya dengan suara yang lembut, “Kau mau aku temenin tidur?” tanyanya padaku dan aku hanya bisa mengangguk karena kelopak mataku sudah terasa berat.
Paginya aku benar-benar tidur di dadanya Edward.
“Pagi.” katanya sambil menguap, “Wah, kita beneran tidur satu kasur.” lanjutnya penuh semangat,
“Kapan kita bisa kembali ke Indonesia?”
“Kau mau kapan? Inikan sudah bulan Juli.” tanyanya sambil membuka jendela dan korden,
“Akhir Juli yah, aku kan ulang tahun tanggal 10 Agustus.” kataku sambil tersenyum,
“Oke, tuan puteri. Aku buatkan sarapan dulu, mandi sana.” katanya sambil mengecup keningku.
Dua minggu terakhir ini kondisiku sangat baik, jauh melebihi baik bahkan. Aku sudah bisa melakukan rutinitas sehari-hariku. Ditemani Edward aku melakukan wisata mengelilingi London, karena Edward tahu aku suka dengan Harry Potter. Edward membawaku mengunjungi tempat-tempat yang dijadikan syuting Harry Potter.
Aku mengunjungi King’s Cross Station, London. Leadenhall Market, London. Alnwick Castle, Northumberland. Australia House, The Strand, London dan Chist Church, Oxford. Aku sangat senang berkunjung kesana, sejenak aku bisa melupakan beban di dalam hidupku. Aku bisa merasakan ketawa lepas bersama Edward dan bersenang-senang bersama Edward. Aku juga senang bisa melihat-lihat kota London pada malam hari, udara disana sangat dingin tapi juga menyenangkan. Sampai-sampai malamnya aku tidur pulas sambil tersenyum.
Paginya aku bangun lebih awal dan aku membuatkan sarapan untuk Edward. Kami memang tinggal berdua di apartemen milik Edward untuk mengirit ongkos, kalau dipikir-pikir kami seperti suami-istri. Berangkat bareng dan pulang bareng, makanan aku semua yang buat dan dia seperti mencari penghasilan untuk hidup kami. Selama lima tahun ini memang Edward yang mencukupi makan tapi terkadang hasil manggungku dibagi menjadi dua untuk kehidupan bersama, bahkan gossip di rumah sakit menggossipkan kalau kami sudah menikah. Edward hanya tersenyum kalau ada orang mengatakan ‘Dimana istrimu, si Nadya?’ Ya, ampun. Aku saja sampai tertawa geli begitu Edward menceritakannya padaku. Bagiku Edward memang tampan dan baik, dan banyak juga penggemar dia di rumah sakit. Tapi entah apa yang ada dipikiran Edward karena kami berdua selalu tampil mesra kalau bersama dan Edward selalu memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’ tapi hal itu tak pernah aku gubris, toh itu juga tak merugikan aku bahkan kalau itu membuat Edward bahagia aku malah senang melihatnya. Tapi sampai sekarang Edward bahkan tak pernah mencari seorang pendamping, sampai usia kami hampir 25 tahun, apa dia masih menungguku? Apa aku memberinya kesempatan? Entahlah, jawabannya adalah belum ada jodoh yang mampir dihati. Selalu saja jodoh yang menjadi jawabannya. Selama kami di London, tak ada yang menghubungi kami disini. Hanya Mama dan Papaku saja dan jarang sekali anak Pelangi menelponku. Sesekali memang mereka menanyakan kabarku. Tapi Ichi dan Rio tak pernah menelponku. Aku terpaksa tak menelpon mereka karena aku tak mau mengganggu pekerjaan mereka, aku kangen sekali dengan Indonesia. Aku kangen dengan Mama, Papa, dan Adikku. Aku kangen Pak Sule, Viona, dan klinik-ku. Aku kangen sahabat-sahabatku, Gita, Ran, Doni, Harry, Ichi, dan terutama Rio. Bahkan di email-ku tak ada pesan darinya, tapi terkadang Ichi chatting denganku. Aku sudah jarang menulis di blog-ku, makanya malam ini aku mulai menulis di blog-ku.
Paginya seperti biasa aku membuatkan sarapan untuk Edward.
“Nad. Hari ini aku ada rapat jadi aku pulangnya agak malam, kalau ada apa-apa telpon aku ya.” kata Edward sambil membetulkan dasinya “Iya, sini aku bantu.” kataku sambil membantunya membetulkan dasinya dan memakaikan jas-nya. “Nah, sudah ganteng sekarang.” kataku sambil tersenyum.
“Coba aja aku punya istri kayak kamu.” katanya padaku, “Kamu nie, udah nanti terlambat sarapan dulu sana.” Edward selalu membuatku migren dan salah tingkah. Setelah selesai sarapan, sebelum pergi Edward sempat-sempatnya mencium tepat di bibirku. Dasar, aku dibuat mabuk lagi. Kadang aku tertawa dengan sikap Edward yang seperti suami untukku tapi aku senang kalau dia senang walau terkadang aku sempat miris melihatnya. Karena aku tak punya kerjaan hari ini, aku memutuskan untuk membuka email dan blog-ku lagi. Kubuka dua dinding di laptop-ku, semoga aku mendapatkan email dari Rio.
Rio says : Hai…
Ternyata keberuntungan mendatangiku, Rio lagi online. Dan sekarang aku bisa chatting sama dia. Tuhan, terima kasih karena aku udah kangen banget ama dia. Aku pun menjawab dengan senang.
Nadya says : Hai juga…
Nadya says : Apa kabar?
Rio says : Aku baik, kamu??
Nadya says : Sangat baik…
Nadya says : well, kemana aja.
Rio says : Aku sibuk,
Nadya says : Well, aku kangen ma kamu.
Nadya says : Aku udah jadi pianis handal lhoo…
Rio says : Ooh, bagus…
Entar dulu, kenapa nie anak? Apa dia udah berubah? Apa yang terjadi padanya? Aku salah lagi ya.
Nadya says : Kamu kenapa?
Rio says : Aku lagi kacau….
Nadya says : Kacau kenapa?
Nadya says : Mau cerita???
Rio says : Aku kangen berat sama kamu….
Rio says : Gimana hasil kesehatan kamu???
Nadya says : Ohh, bagus. Tapi kadang kondisiku drop, jadi sering bolak-balik rumah sakit. Tapi aku sehat kok walau belum sembuh total.
Rio says : Kapan pulang?
Nadya says : Akhir bulan Juli, tunggu yaa….
Rio says : Oke.. Aku cinta kamu … forever !!!
Rio says : Gimana kabar “cowok itu” ??
Nadya says : Makasih
Nadya says : Dia tambah ‘ganteng’… :p
Rio says : oh…
Rio says : Jadi nikah???
Nadya says : Emm… Aku gak tahu…
Nadya says : Cemburu yuaa… :p
Rio says : Pikir aja :-x
Nadya says : Rio, udah dulu ya.
Nadya says : Aku mau pergi dulu, bye.. Miss youu…
Rio says : Bye.. Love you..❤❤
Aku baru ingat kalau aku harus ke supermarket untuk membeli persiapan makan malam sekalian aku harus ke teater untuk latihan pentas. Malamnya aku membuat spageti untuk makan malam, dan dua chees burger. Edward memang pulang malam, untung aku udah siapkan air panas tepat dia pulang. Setelah makan malam, Edward langsung menuju ruang keluarga untuk nonton TV sementara aku mencuci piring bekas kami makan. Setelah itu aku langsung bergabung dengannya di ruang keluarga.
“Bagaimana pekerjaanmu?” aku duduk disampingnya dan seketika itu juga Edward merangkulku.
“Lelah…” aku bisa merasakan Edward mencium rambutku,
“Besok aku ada pentas. Datang ya.”
“Oke, aku akan datang. Besok kita makan malam diluar ya.”
“Kenapa?” aku berhenti sejenak karena sepertinya aku melewatkan sesuatu yang aku lupa “Aha.. Besok kau ulang tahun.” kataku baru ingat besok tanggal 28 Juli, Edward pun tersenyum. “Edward, besok hari special. Kita harus merayakannya.” aku bahkan belum menyiapkan hadiah untuknya.
“Tak perlu. Besok aku yang siapkan, hanya sesuatu yang ingin kulakukan. Besok kau harus tampil sempurna.” katanya lagi sambil mencium rambutku.
“Malam ini kau mau apa?” tanyaku penuh harap pada Edward,
“Hmm…” Edward langsung menggendongku dan tubuhku dibawa olehnya kekamar. Ditaruhnya badanku di atas kasur, Edward langsung menindihku dia atas tempat tidur. Jantungku berdetak sangat kencang, bahkan aku bisa mendengarnya berdetak sangat kencang. Mudah-mudahan Edward tak mendengarnya.
“Aku tak akan melakukan apapun.” tapi setelah dia mengatakan hal itu, bibir Edward langsung melumat bibirku sampai ke leher dan dia berhenti tepat diatas perutku.
“Tidurlah.” Edward keluar dari kamarku dan aku terpaku atas kejadian barusan. Aku bahkan masih memejamkan mataku dan belum bernapas, setelah aku yakin dia keluar aku baru menarik napas dan terduduk. Karena kaget, aku masih shock dengan perlakuannya tapi karena lelah juga akhirnya aku berusaha tidur.
Keesokkannya aku bangun agak terlambat, tapi aku masih sempat membuatkan sarapan padanya.
“Pentasku jam delapan.” kataku mengingatkannya,
“Iya, Sayang.”
Setelah sarapan Edward pun berangkat ke rumah sakit dan aku siap-siap untuk pementasan nanti malam. Sebelum pementasan aku harus melakukan latihan atau gradiresik terlebih dahulu, karena masih menyisakan waktu yang lama sebelum latihan. Aku pergi untuk membelikan kado untuk Edward bahkan tadi pagi aku sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Aku membelikannya sebuah jam tangan yang cukup mahal tapi aku senang bisa membelikannya untuk Edward kuharap dia bisa suka. Karena dia suka warna hitam jadi aku membeli jam tangan yang berwarna hitam.
Pementasan sudah hampir dimulai.
Aku sedang bersiap-siap untuk memainkan lagu untuk para penonton. Aku memainkan dua lagu dengan piano, yang pertama Close dari Westlife dan yang kedua aransemen bikinan Carter Burwell yang pernah dijadikan soundtrack Twilight. Aku memakai gaun berwarna merah terang dengan tataan rambut yang tergerai ikal kebawah dengan hiasan sedikit dibelakang rambut. Waktuku untuk tampil sudah mau dimulai, aku membawakan lagu Close dari Westlife dengan permainan piano-ku. Sekilas aku melihat kearah Edward duduk, sorot matanya penuh kegembiraan. Aku senang memainkan piano untuk semua orang. Waktu pentas hampir selesai, sebagai penutup aku memainkan permainan piano-ku yang di-aransemen oleh Carter Burwell dengan hikmat dan tenang. Tepuk tangan orang-orang memenuhi studio, aku sangat senang mendengarnya. Di belakang panggung, aku diacungkan jempol oleh rekan-rekanku yang lain. Setelah aku ganti baju dengan gaun malam warna biru dan rambut masih digerai tanpa melunturkan make-up, aku langsung keluar dan menemui Edward. Tanpa pikir panjang aku langsung melumat bibir Edward,
“Happy Birthday.” kataku setelah melepas ciumanku,
“Baru kali ini kau berinisiatif menciumku.” kata Edward, tanganku masih merangkul lehernya.
“Emang tidak boleh, aku lapar nih.”
Kami berdua pergi pun menuju restoran Perancis dan makan malam bersama. Setelah selesai makan malam aku memberikan Edward jam tangan yang sudah aku belikan untuknya. Dan Edward sangat senang menerimanya.
“Terima kasih, Honey.” katanya padaku,
“Sama-sama. Selamat ulang tahun yah, Sayang.”
“Wow, kau kenapa? Tiba-tiba..” aku menempelkan jariku di bibirnya untuk menghentikannya berbicara.
“Aku punya kejutan.” kataku padanya,
Kami pun pergi dari restoran itu dan aku dibiarkan menyetir sementara Edward duduk dengan mata tertutup. Aku memang punya kejutan untuknya, memang tidak bagus tapi aku harap ini akan menjadikan suasana romantis. Kuajak Edward ke atap gedung salah satu sekolah dengan sebuah lagu kesukaan Edward siap untuk diputarkan. Aku berniat mengajak Edward berdansa di atap gedung.
“Kau siap?” tanyaku padanya dan Edward pun mengangguk. Aku melepaskan penutup matanya dan membiarkan Edward melihat sekitarnya.
“Kita dimana? Dan apa yang kau lakukan?”
“Kau suka lagu Flightless Bird kan? Aku mau kita berdansa sampai kau puas.” kataku padanya,
“Oh, ya. Baiklah. Bolehkah saya mengajakmu berdansa, Tuan Puteri?”
Lagu pun dimainkan, aku meraih tangan Edward dan tangan Edward sudah merangkul pinggangku. Kami berdansa di malam hari yang dingin dan hanya ditemani cahaya sinar bulan dan gemerlap bintang-bintang. Kami berdansa dalam diam. Edward benar-benar bahagia malam ini.
“Happy Birthday.” kataku lagi padanya,
“Trims…”
Kami berhenti berdansa dan Edward langsung menciumku dengan lembut. Aku merespons ciuman itu lagi, kami pun kembali berdansa lagi. Mungkin sampai lagunya habis atau entah sampai kapan. Kami benar-benar terbuai dengan lagu yang diputar.
“Lagunya sudah habis.” aku memberitahukan Edward,
“Aku masih mau berdansa denganmu.”
Kami pulang larut malam. Karena keasyikan berdansa kami sampai lupa waktu. Karena kelopak mataku tak kuat terbuka lagi, akhirnya Edward membopongku dari mobil hingga ke apartemen kami di lantai 22. Edward menaruhku dengan sangat hati-hati di kamar dan aku bisa merasakan walau samar-samar Edward membelai rambutku dengan lembut.
“Terima kasih untuk malam ini.”
Edward mencium keningku dan sampai di bibirku. Aku sangat lelah sampai-sampai tak bisa memberontak. Masih dengan balutan gaun aku tertidur pulas hingga pagi hari…
Pagi harinya, aku bangun masih dengan balutan gaun dan make-up. Tapi anehnya pagi ini sangat sepi. Kemana Edward? Apa aku bangun telat? Apa dia udah berangkat? Akhirnya aku mandi dan keluar ke teras atas. Tahu-tahunya ada Edward disitu, kukira hari ini dia kerja.
“Edward.”
Tapi anehnya Edward tak merespons panggilanku, kupeluk dia dari belakang sampai dia mau melihatku. “Edward?” panggilku lagi. Edward membalikkan badannya dan melihatku juga. Tapi Edward langsung mencium bibirku, aku hanya bisa berdiri terpaku. Setelah dia melepaskan ciumannya, aku pun mengkalungkan tanganku ke lehernya.
“Aku bodoh ya?” tanyanya, aku mengernyitkan dahi karena pertanyaan itu tak masuk akal,
“Maksudmu?”
“Aku bodoh. Aku tak bisa menjagamu, aku tak bisa membuatmu sembuh. Aku bodoh.”
“Hei.. Kau tidak bodoh. Aku malah berterima kasih padamu karena ada kau aku jadi seperti ini.”
“Aku mau kita menikah.” kata-katanya barusan membuatku tersentak kaget, perutku langsung mulas.
“Rio?” tanyaku padanya,
“Lupakan dia. Kita bisa membuat hidup baru disini.”
“Edward… Nyawaku sudah tak lama lagi, aku tak bisa membuatmu bahagia dengan menjadikan aku istrimu.”
“Kau harus memilih antara aku atau Rio.” perutku serasa jungkir balik, kayak ada yang menonjokku dengan sangat keras.
“Edward…” belum sempat aku mengakhiri kata-kataku Edward sudah melumat bibirku lagi dan sekarang dengan antusias dan ganas dia melumat bibirku dengan marah, napasku terpingkal-pingkal. Tapi Edward tak mau melepaskan ciumannya. Baru ada orang yang membunyikan bel baru dia menghentikan ciuman itu dan pergi untuk melihat siapa tamu yang datang.
pelangi dengan tujuh sahabat (part 12)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar