Hidup…
Keesokkannya aku bangun dengan hati yang sakit. Kenapa aku belum mati? batinku. Apa aku harus merasakan hari-hari yang tak berarti? Apa aku harus terus menunggu sesuatu yang tak pasti? Aku lelah, aku sakit merasakan ini semua. Setelah mandi dan minum susu. Seperti biasa aku duduk di kursi rodaku dan memandang ke jendela. Kulihat anak-anak kecil bermain, aku ingat masa kecilku dulu. Bermain riang dengan tawa yang lepas, bermain bersama sampai lelah. Aku tersenyum memikirkannya, tapi hatiku sakit membayangkannya. Tak bisa kutahan air mataku jatuh, jika aku bisa bertanya. Kapan kematian akan datang? Hanya itu yang kutunggu. Seseorang mengetuk pintu kamarku, belum sempat aku jawab, pintu itu sudah terbuka dan sahabat-sahabatku masuk. Mereka menyapaku tapi aku tetap tidak menggubrisnya, akhirnya hanya Rio yang ada disampingku dan yang lainnya memutuskan untuk menunggu di luar.
“Hai.” sapanya padaku, aku diam.
“Aku akan memenuhi permintaanmu.” aku kaget dan aku tersadar dari lamunanku “Apa?” tanyaku padanya “Jalan-jalan.” katanya lagi. Aku tersenyum mendengarnya “Tapi sebelum itu, maukah kau berjalan. Aku tahu kakimu sudah sembuh.” langsung saja kuubah sorot mataku menjadi kesal, hanya dia yang tahu aku sedang berpura-pura.
“Aku tidak mau.” kataku lagi, tapi Rio masih tetap memaksaku. Aku menghela napas dan aku bangun dari kursi rodaku.
“Gitu dong. Ganti baju sana, aku dan yang lain akan menunggu di luar.” katanya lagi, dia langsung keluar kamarku dan aku langsung memilih baju yang tepat.
Aku sudah siap untuk pergi sekarang, dengan memakai celana jens belelku dengan kemeja putih dan jaket coklatku. Aku turun ke bawah, dibawah sudah menunggu yang lainnya.
Ketika aku turun, mereka semua tersenyum padaku tapi aku tidak memberi senyumanku. Rio menghampiriku “Siap.” aku pun mengangguk, aku pamitan ke Mamaku. Kami memakai tiga mobil, punya Rio, Harry, dan Ichi. Ran, Gita, dan Doni menaiki mobil Ichi, Harry dan Ichi memakai mobil Harry dan aku dan Rio memakai mobil Rio. Aku langsung duduk dibangku depan dengan tatapan kosong tapi Doni, Rio, dan Harry sedang mendiskusikan sesuatu di luar, aku penasaran tapi aku bersikap biasa saja. Pukul 08.30, kami berangkat. Aku hanya diam selama di dalam mobil, tiba-tiba Rio membangunkanku dari lamunanku.
“Kau tidak penasaran kemana kita pergi?” tanyanya, aku hanya menggeleng tanpa memerhatikannya. Mobil kami semua melaju sangat lama, aku mulai jenuh sekarang. Kupikir kita sudah jalan selama dua jam, lalu aku bosan diam terus.
“Kemana kita?” tanyaku pada Rio, tapi Rio hanya diam saja dengan senyum sinisnya. “Rio.” aku langsung mencubit lengannya.
“Baik—baik.” katanya kesakitan, “Kita ke daerah Cibubur.” lanjutnya lagi,
“Apa?” tanyaku balik,
“Kau pasti belum pernah kesana.” katanya, aku hanya bisa memasang tampang heran sekarang. Lalu aku kembali diam dan aku mulai dengan lamunanku lagi.
Pukul 11.00 tepat mobil kami semua berhenti di salah satu tempat. Menurutku ini taman rekreasi atau apalah namanya. Seperti perumahan tapi banyak pepohonan dan taman disana. Aku keluar dari mobil diikuti dengan yang lain, aku melihat sekelilingku. Aku bingung dengan tempat itu, tidak terlalu banyak orang memang tapi aku merasa asing di tempat itu.
Tiba-tiba Rio memeluk pinggangku. “Kau pasti suka.” katanya lagi, tapi bagaimana aku bisa suka tempat itu kalau aku saja merasa asing di tempat itu. Aku hanya bisa mengangkat bahuku, dan kami berjalan menyusuri jalan raya. Kakiku terasa pegal, kami semua jalan di sebuah jalan setapak dengan aku dan Rio berjalan didepan. Kami terus berjalan ketika kami tiba di sebuah tempat yang terdapat rumah-rumah seperti rumah kurcaci. Aku tambah bingung, “Ayo, kita foto-foto.” kata Doni senang. Aku dan Rio berdiri di tempat, kami berdua hanya ingin melihat mereka berforo-foto ria.
“Kalian tidak ikut.” kata Ran yang mengajak kami, tapi Rio malah melihat ke arahku. Aku bingung harus begaimana. Akhirnya aku dan Rio ikut berfoto-foto bersama mereka. Sekilas hatiku sangat senang tapi di satu sisi aku ingin menangis, kadang aku tersenyum kecil melihat tingkah laku yang lain. Rio masih memeluk pinggangku dan terkadang Rio memandangku sambil tersenyum.
Kami melanjutkan perjalanan kami lagi, sekarang seperti masuk perkampungan. Dan kami keluar ke sebuah jembatan yang sangat besar, disana ramai dengan para pengunjung. Ada yang bersama keluarganya, kekasihnya, dan ada pula seperti kami, bersama teman-teman. Yang lainnya sudah berpencar sekarang. Ichi, Ran, Gita, Harry, dan Doni sudah menjelajah sambil berfoto-foto. Di bawah jembatan itu terhampar danau kecil yang lumayan dalam. Kalau kita berjalan lurus ada sebuah taman bemain anak-anak lengkap dengan danau dan segala permainan air. Aku memutuskan untuk memandangi danau itu dan duduk di salah satu ayunan yang tepat mengarah ke danau.
“Kau suka?” Tanya Rio tiba-tiba, tapi aku masih saja diam. Dan aku yakin Rio pasti tak mau menyerah. Akhirnya Rio pergi meninggalkanku sendiri, aku merasa lega tapi aku juga merasa sendirian. Tiba-tiba Rio datang lagi dengan membawa dua buah es krim di tangannya. Dia memberiku satu buah es krim rasa coklat. Aku menerimanya lalu aku ingin berbicara sekarang.
“Aku suka.” kataku padanya,
“Sudah kuduga kau akan suka.” dia tersenyum,
“Dimana ini?” tanyaku lagi, “Di Cibubur, tepatnya di Kota Wisata.” katanya padaku “Ini belum puncaknya, ini masih permulaan.” katanya lagi, dan hal itu membuatku kaget. “Ayo.” ajaknya.
Kami semua berjalan lagi, lagi, dan lagi. Aku yakin sudah jauh tempat kami dari tempat mobil kami parkir. Aku mulai lelah, tapi aku melihat yang lainnya masih bersemangat berjalan. Ran, Gita, dan Ichi seakan kagum dengan tempat ini. Aku berhenti sejenak, lalu Rio juga ikut berhenti.
“Mau kugendong?” tawarnya padaku, tapi hal itu tidak aku tolak melainkan itu adalah tawaran yang menguntungkan. Aku naik ke punggungnya dan kami melanjutkan perjalanan. Rio berhenti dan mengerlingkan matanya kepada yang lain, aku dibuat bingung olehnya. Yang lainnya pergi meninggalkan kami berdua dan Rio berjalan melewati bukit dan masuk ke hutan. Aku hanya bisa diam, “Kemana kita? Dan mana yang lain.” tanyaku padanya tapi hal itu tidak digubris olehnya.
Aku bisa mendengar suara air terjun dari tempat kami, Rio menurunkanku tiba-tiba. Dan Rio terus berjalan ke arah tebing yang tinggi.
“Rio.” kataku yang mulai takut, Rio membentangkan tangannya dan menutup matanya. Lalu dia berkata, “Kau tahu artinya hidup?” dia bertanya padaku, “Apa?” tanyaku balik.
“Hidup--- adalah sesuatu dimana kebahagiaan dan kesakitan tumbuh jadi satu. Dan kau harus merasakan hal itu karena itulah kehidupanmu yang sebenarnya.” aku kaget dengan penjelasan itu.
“Aku tahu apa yang kaupikirkan selama ini.” lajutnya lagi,
“Kau memikirkan bagaimana dan kapan kematian akan datang menjemputmu.” aku tambah kaget karena Rio seperti sedang membaca pikiranku.
“Kau tidak pernah—dan tak akan pernah tahu apa yang kupikirkan.” aku meraung dan air mataku tumpah. Rio menghampiriku, dia menatapku lekat-lekat.
“Aku tahu—semua yang kau pikirkan.” jawabnya lagi,
“Kau---tidak… tahu.” aku menatapnya balik, lalu Rio memegang tanganku erat-erat.
“KAU SELALU BERFIKIR, KEMATIAN AKAN LEBIH BAIK UNTUKMU, KEMATIAN ADALAH JALANMU. TAPI KAU SALAH NADYA—KAU SALAH. KAU SEKARANG BERTAHAN HIDUP KARENA KEMATIAN TAK RELA KAU MENYIA-YIAKAN KEHIDUPANMU YANG SEKARANG.
“COBALAH MERASAKAN KEHIDUPANMU YANG SEKARANG. MERASAKAN KASIH SAYANG, KEHANGATAN, PERLINDUNGAN, KEBAHAGIAAN YANG TAK AKAN PERNAH KAU DAPATKAN SETELAH KAU MATI.” Rio benar-benar murka sekarang, dia mengguncang-guncang tubuhku sampai kepalaku sakit. Aku menangis menjadi-jadi, tapi derasnya suara air terjun menahan kerasnya suara tangisku.
“KALAU AKU INGIN MATI KENAPA? AKU CAPEK DENGAN SEMUANYA, AKU LELAH. HIDUPKU TAK BERARTI BAGIKU.” aku ikut murka saat ini,
“TAPI KEHIDUPANMU SANGAT BERARTI BAGI KAMI.” Rio menatapku tajam sekarang. Aku duduk untuk menenangkan diri dan aku mulai menangis sesegukkan.
“Aku hanya lelah.” kataku lebih tenang.
“Kalau begitu berusahalah menikmatinya, kalau kau tahu kematian akan datang cobalah untuk merasakan kehidupan yang sedang kau jalani saat ini bersama keluarga dan sahabatmu.
“Kau pantas menerimanya, kita terlahir di dunia ini adalah untuk merasakan kehidupan yang bahagia. Tapi kebahagiaan itu tak akan lepas dari rasa sakit dan itulah hidupmu, itulah jalanmu. Dengan kau merasakan kehangatan itu kau akan mengerti.” Rio menatapku dengan tenang sekarang. Aku pun memeluknya sambil terus menangis, perkataan Rio menyadarkanku. Tiba-tiba Rio menarikku untuk bangun dan menghapus air mataku, lalu dia menggendongku.
“Rio—turunkan aku.” aku berusaha lepas tapi hal itu tidak berhasil, Rio terus berjalan mengarah ke ujung tebing. Aku meronta lebih keras sekarang, pada saat sampai di ujung tebing Rio berhenti sejenak. Aku melihat ke bawah tebing itu sangatlah tinggi, derasnya air dan danau di bawah siap menangkap kami. Aku kembali melihat Rio, dan dia juga melihatku. Aku memeluk lehernya agak keras sekarang.
“Apa yang—apa yang akan kau lakukan?” tanyaku cemas, tapi dia malah tersenyum padaku.
“Aku akan melepaskan kesakitan itu darimu.” katanya, lalu dia mengambil ancang-ancang siap melompat.
Rio benar-benar melompat dari atas tebing, aku teriak sekencang-kencangnya dan tetap memeluknya dengan erat lebih erat sekarang. Kami jatuh kedalam air, napasku sesak.
Aku terlepas dari pelukan Rio, arus sangat kencang membawaku. Paru-paruku berdetak sangat kencang, aku bisa merasakan darah mengalir tanpa henti. Aku kehabisan napas, semua hitam, jantungku sakit rasanya. Aku merasa aku tenggelam tapi aku berhasil keluar ke atas air. Aku menghirup udara, mataku sakit.
Lalu ada yang memelukku dari belakang, aku kaget dibuatnya tapi untunglah itu Rio. Aku langsung memukul badannya tapi dia malah tertawa.
“Kau takut?” tanyanya lagi, aku sebal sekarang. Aku berenang ke tepi meninggalkan dia di air, setibanya di tepi aku langsung tiduran. Mataku masih sakit dan kepalaku pusing, jantungku berdetak keras napasku terpingkal-pingkal. Aku menutup mataku, begitu aku tahu aku tak sadarkan diri.
Ada seseorang menciumku tapi itu semua adalah usaha untuk mengeluarkan air dari mulutku, setelah terbangun Rio menatapku dengan cemas, air danau keluar dari mulutku. Ternyata aku pingsan, mukaku pucat, badanku beku kedinginan.
“Kau tidak apa?” tanyanya lagi aku pun menggeleng pelan dan aku berusaha berdiri.
“Maafkan aku.” katanya lagi, aku pun tersenyum. “Aku membawa baju gantimu,” dia lalu mengangkatku, aku langsung ganti baju dibalik pepohonan dengan baju yang sudah dia bawa. Setelah ganti baju bukannya hangat aku makin kedinginan, aku duduk dibawah pohon sambil menunggunya ganti baju. Setelah kami berdua berganti pakaian, Rio mengajakku jalan-jalan.
“Aku bodoh ya.” katanya padaku,
“Sangat.” aku memasang tampang sebal, lalu aku ketawa.
“Kau—marah?” tanyanya,
“Tidak,.” kataku padanya, lalu Hp Rio berbunyi.
“Kita harus pulang sekarang.” katanya setelah menutup telponnya.
Kami tiba di tempat parkir. Disana sudah menunggu yang lain, aku tersenyum pada mereka. Malam menyapa, aku duduk dibelakang dengan Ran. Lalu Ran mengajakku berbicara.
“Senang?”
“Ya, kau?”
“Tentu, aku senang kau sudah menjadi dirimu sendiri.” kata Ran padaku, aku kaget apakah aku terlalu menutup diri selama ini. Ya, Tuhan. Diriku kemana selama ini? Aku sampai dirumah pukul sembilan malam, tapi anehnya tak ada yang memarahiku. Apa karena Rio? Sudahlah, aku tak perlu berfikir yang engga-engga. Aku langsung naik ke kamar dan menuju laptop-ku, ku buka blog-ku mengenai hari ini.
Setelah merasa lelah, aku memutuskan untuk tidur.
pelangi dengan tujuh sahabat (part 7)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar