Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 8)

Kedatangan Edward…

Keesokkannya, aku bangun lebih awal.
Karena aku sudah bosan di rumah, aku memutuskan untuk pergi ke klinik hari ini. Aku juga sudah kangen pada hewan-hewan yang aku sayangi. Aku pergi jam 08.00 dengan Pak Sule yang mengantarkanku, aku sampai di klinik jam 09.30 tepat.

Begitu aku masuk aku disapa oleh Viona dan Edward. Yah, Edward adalah dokter hewan di klinikku juga, dia selalu membantuku menangani pasien. Menurutku dia orang yang baik dan pengertian, dia ramah pokoknya sempurna. Kebetulan klinik masih sepi pagi ini.
“Hai.” sapa Edward padaku,
“Hai juga. Maaf aku absent terlalu lama.” kataku meminta maaf,
“Tak masalah, aku bisa mengatasinya.” dia tersenyum padaku,
“Viona, ada berapa pasien kita hari ini?” tanyaku pada Viona sekertarisku,
“Ada 15 orang, mereka sangat kangen pada nona.” jawab sekertarisku,
“Baiklah, terima kasih. Aku akan ke ruanganku sekarang.” aku tersenyum padanya “Dan Edward, terima kasih sekali lagi.” kataku padanya, “Well, itu tak gratis.” katanya, dan hal itu membuatku kaget lalu dia mengajakku untuk masuk ke ruanganku.
“Jadi.”
“Emm---well, kau mau makan malam bersamaku?” tanyanya padaku, spontan aku langsung mengernyitkan dahiku.
“Kencan—begitu?” tanyaku makin heran.
“Well, maybe.”
“Baiklah, kapan?” tanyaku lagi,
“Malam ini. Bisa?”
“Wow, kejutan. Oke,” kataku ragu-ragu,
“Kujemput jam tujuh dirumahmu.” Edward mengedipkan matanya dan pergi dari ruanganku.
Well, sangat banyak pasienku hari ini. Untung ada Edward yang mau membantuku, aku sangat berterima kasih padanya. Dan yang paling membuatku bahagia adalah, hewan-hewan yang kutangani semua membuatku bahagia. Aku dan Edward tertawa melihat polah hewan-hewan itu. Aku rindu saat-saat ini. Tak terasa waktu sudah menunjukan jam lima sore. Waktunya klinik tutup, dan Edward lagi-lagi mengingatkanku akan kencan malam ini. Sepertinya dia sangat antusias sekali, setelah berpamitan pada Viona dan Edward aku pulang dengan Pak Sule ke rumah.

Malamnya aku menunggu Edward sambil memegang Hp-ku. Tiba-tiba ada yang menelpon, Rio menelpon, aku pun segera mengangkatnya.
“Hallo.” kataku,
“Hai, lagi apa?” tanyanya,
“Apa aja boleh.” kataku sambil tertawa, dia pun ikut tertawa.
“Mau pergi tidak?” tanyanya, aku terdiam sejenak. Bagaimana kalau dia tahu kalau aku akan pergi bersama orang yang dia tidak kenal, apa jadinya nanti. Aku bingung setengah mati ingin menjawab apa.
“Nadya.” katanya lagi yang menyadarkanku,
“Emm—aku tidak bisa.” kataku sambil tergagap,
“Kenapa?” pertanyaan itu malah semakin membuatku pusing,
“Aku mau control.” kataku kehabisan akal,
“Aku antar ya.” aku makin bingung dengan respons itu,
“Aku—tak bisa. Sudah ya.” karena panik aku langsung menutup telponku.

Seketika itu juga Edward datang, aku langsung keluar untuk menemuinya. Edward sangat beda kali ini, dia memakai celana jens hitam dengan kaos hitam serta jaket dan sepatu yang membuatku migren. Aku terpana melihatnya sampai-sampai berdiri dengan mulut ternganga, baru kusadari kalau Edward sangat tampan.
“Hai.” sapanya, untungnya aku tidak pingsan,
“Hai, kau---different.” aku mengakui,
“Kau juga.” ya, ampun Edward. Aku hanya memakai gaun malam saja sudah dibilang berbeda.
“Aku salah kostum ya.” kataku yang melihat busana yang aku pakai,
“Tidak, malah kau sangat---cantik.” katanya lagi yang membuatku melayang.
“Silahkan.” dia menawarkanku untuk masuk kedalam mobil. Aku duduk di depan, setelah Edward masuk. Kami pun pergi.
Kami tiba di tempat yang menurutku cukup indah.
“Dimana kita?” tanyaku,
“Kereta gantung, kau lihat didepan kita ada laut. Kalau dari atas sangat indah, ayo.” dia menarik tanganku dan kami tiba di atas. Aku duduk di dekat jendela, aku memandang kebawah, sangatlah indah. Aku terpana melihatnya.
“Kau suka?”
“ Ya, ini sangat indah.”
“Kau belum lihat semuanya.”
“Ada lagi?”
“Yah, mungkin kau akan pulang malam hari ini.” aku mengabaikan kata-katanya yang terakhir dan memandangi lautan lagi. Kami tertawa bersama, aku sangat senang diajak oleh Edward.
Setelah kami turun dari kereta gantung, kami melanjutkannya dengan makan malam di salah satu restoran yang sangat romantis. Ada bunga, ada jembatan kecil dikelilingi kolam, lampu-lampu tergantung menerangi kami, dan yang paling penting. Meja kami berada di tengah-tengah itu semua, aku terpesona melihatnya. Aku duduk disusul oleh Edward. Makanan kami datang, sepertinya Edward sudah mempersiapkannya lebih dulu, batinku.
“Kau—“ aku tak bisa berkata apa-apa, setelah itu ada musik klasik yang mengalun merdu. Tiba-tiba Edward berdiri dan menghampiriku.
“Bolehkah aku?” tanyanya, aku diam sejenak lalu aku mengerti maksudnya. Dia mengajakku berdansa. Aku meraih tangannya, tangan Edward memeluk pinggangku dan tangan yang satunya menggenggam tanganku. Aku merasa melayang, karena Edward lebih tinggi dariku, maka dia mengangkatku lebih tinggi. Muka kami bertatapan, badan kami sangat dekat. Aku bisa merasakan napasnya, aku gugup disitu. Kami berdansa sambil diam, serasa dunia milik kami berdua. Ya, tuhan. Apa yang telah aku lakukan? Maafkan aku Rio, aku telah berbohong padanya, padahal aku tak mau. Bodohnya diriku, aku menatap Edward sangat dekat. Bagaimana kalau Edward tahu kalau aku sudah punya Rio? Bagaimana kalau dia tahu aku mempunyai penyakit gagal jantung? Aku tak bisa membayangkan, tapi pertanyaan itu terus terpikirkan olehku. Aku ingin menangis lagi, tapi kutahan air mataku untuk keluar.
“Kau tahu?” Edward mulai bicara padaku, aku diam.
“Kau cewek yang terus ada di hatiku.” aku kaget mendengar penjelasan itu, apakah ini ungkapan? apa yang harus kulakukan?
“Aku—“ belum bisa Edward menyelesaikan, kami langsung diam dalam posisi berdansa. Aku tersenyum “Jangan katakan Edward.” kataku pelan “Aku tak bisa.” lanjutku. Dia terdiam, kali ini aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aku mengamatinya sejenak, lalu aku langsung dipeluk oleh Edward. Aku kaget tapi aku tak bisa menolaknya.
“Apa karena Rio?” katanya, spontan aku kaget. Kenapa dia bisa tahu nama itu? Apa saja yang dia tahu? Siapa yang memberitahukannya?
“Bagaimana kau tahu?” dia melepaskan pelukannya,
“Aku tahu semuanya—semuanya.” katanya pelan, aku duduk.
“Tapi kau tak suka kan?” pertanyaan itu membuatku tak bisa bernapas,
“Aku—bukan dia.” kataku hampir membentak sekarang,
“Aku punya penyakit---“ aku berhenti, apa yang telah aku katakan. Dasar bodoh.
“Apa?” dia memaksaku sekarang,
“Aku—tak masalah.”
“Ceritakan…” dia mulai mendesakku, air mataku keluar sekarang.
“Well, aku punya penyakit---gagal jantung.” aku menelan ludah, Edward diam sekarang. Aku menutupi wajahku dengan tanganku. Edward menghampiriku dan dia langsung memelukku, aku bisa merasakan bibirnya menyentuh rambutku. Aku semakin menangis menjadi-jadi.
“Ssst… Sudah… Ssst..” dia berusaha menenangkanku,
“Aku sudah mau mati, Edward.” kataku yang masih terisak,
“Aku akan menjagamu—kau tak perlu takut.” katanya lagi, tidak tahu kenapa hatiku sangat lega ketika dia berbicara begitu. Dia menghapus air mataku dan dia menarikku berdiri, “Aku akan menunjukan sesuatu padamu.” tiba-tiba dia menutup mataku dan menuntunku pelan-pelan ketempat yang aku tidak tahu.

Aku merasakan tanah menjadi lembut seperti pasir, suara angin dan ombak mulai terdengar. Pantai! inilkah tempat yang akan ditunjukan oleh Edward, udara sangat dingin sekaligus sejuk yang aku rasakan. Kakiku terasa melayang, aku terus berjalan didampingi Edward. Air yang dingin menuntunku untuk terus berjalan, pasir putih mengiringi jalanku, dan anginnya menemaniku untuk terus berjalan. Mataku dibuka, gelap dan pusing aku melihat. Aku sadar kalau aku dan Edward berada di antara air laut. Aku langsung terpekik kaget dan aku langsung mendekati Edward.
“Kenapa kita kesini?” tanyaku panic,
“Kau bisa merasakannya.” perkataan itu membuatku bingung,
“Kau bisa teriak sepuasnya sekarang dan aku mau kau melupakan semuanya. Tulislah sebuah surat dan kau bisa menenggelamkannya di laut ini, anggap saja surat ini isi hatimu dan air ini adalah air matamu, ketika semua itu sudah dilepas dan dibuang kau akan lebih, jauh lebih baik.” Edward tersenyum dan menyerahkan kertas dengan botol. Aku mulai menulis di punggungnya.
Aku menuliskan semua yang kurasakan selama ini. Kata-kata itu adalah tangisanku selama ini dan memang aku ingin mengeluarkannya. Saat inilah aku akan mengeluarkan semuanya.

Karena sudah larut malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku melihat Rio sudah duduk di bangku depan di taman sambil gelisah. Begitu dia melihat kami, mukanya berubah menjadi dingin. Lalu dia menghampiri kami, aku gugup setengah mati di belakang Edward, begitu dia sudah dekat, Edward bicara “Apa kabar?” sapa Edward pada Rio, tetapi tak disangka Rio malah memukul Edward sangat keras hingga darah keluar dari mulutnya. Aku tersentak kaget dan mentamengi Edward dan mencegah Rio yang ingin memukulnya lagi.
“Sudah, cukup.” kataku padanya
“Kau bohong padaku.” sekarang Rio marah padaku, aku pun tak kuasa menahan air mata ini jatuh.
“Maafkan aku.” kataku padanya tapi Rio mendorong badanku dan pergi dengan muka kesal. Aku mengejarnya tapi dia sudah pergi, aku pun menangisi kepergiannya.
Lalu Edward menepuk pundakku dan mencoba menenangkanku. Edward pulang dan aku mencoba untuk menghubungi Rio sampai larut malam, karena tak kunjung diangkat aku berniat besok akan menemuinya sendiri dan menjelaskannya.

Keesokkannya aku bangun pagi-pagi dan aku bergegas segera ke rumah Rio. Aku sudah menelpon asistennya tadi dan katanya dia sedang tidur pulas. Aku sampai di rumah Rio, rumahnya sangatlah luas dengan taman yang dihiasi kolam ikan. Aku masuk dan aku dipersilahkan masuk ke kamar Rio. Di rumahnya memang hanya ada dia, dan asisten serta pembantu saja. Orang tua Rio pergi dinas ke luar negeri sementara Kakaknya super sibuk. Begitu masuk ke kamar Rio, aku melihat kamar itu seperti kapal pecah. Kurasa semalam dia mengamuk, akhirnya aku berniat membereskan kamar Rio. Aku tahu kalau dari kecil Rio kebo, susah untuk dibangunkan kalau sudah tidur. Begitu sudah rapi, aku mengambil sarapan Rio yang ditaruh didepan pintu dan kutaruh di sebelah tempat tidurnya.
Sungguh menenangkan melihat Rio tidur. Karena aku bosan, akhirnya aku mulai membangunkan Rio. Kerja keras aku membangunkannya. Satu jam aku berada di kamar Rio, akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya di luar. Mungkin dia akan bangun dan menyapaku di luar. Aku duduk di taman dekat kolam ikan, aku bermain saja dengan ikan-ikan disana. Tak terasa waktu menunjukan pukul delapan, apa Rio belum bangun yah? aku bertanya kepada asistennya katanya dia belum bangun. Hari ini usahaku sia-sia, karena aku juga masih banyak kerjaan di klinik aku akhirnya pergi dari rumah Rio dengan wajah kecewa.

Sebenarnya aku tidak niat bekerja hari ini, gak tahu kenapa aku lelah dan gak punya semangat. Setelah pulang dari klinik karena masih siang aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang kusukai sembari menenangkan pikiran. Begitu sampai sana aku langsung membaringkan badanku rerumputan yang dingin. Aku memejamkan mataku dan menghirup udara yang segar.
“Kau tidak berniat untuk tidur kan?” ada seseorang yang membuatku kaget, aku berdiri dan melihat Rio berada di hadapanku.
“Rio.” aku kaget sekaligus senang melihat Rio, tanpa pikir panjang aku langsung menghampirinya dan memeluknya.
“Maaf.” itulah kata yang pertama yang ingin aku sampaikan padanya. Tapi ada yang aneh, Rio tidak merespon pelukanku. Aku pun melepaskan pelukanku .
“Kau masih marah?” tanyaku padanya.
“Menurutmu?” spontan aku langsung mengangguk,
“Maafkan aku.” aku menangis sekarang,
“Sudah kuduga, ngapain tadi pagi kau ke rumahku?” tanyanya,
“Aku mau minta maaf tau.”
“Oh, dan kau langsung pergi.” jawab Rio ketus.
“Kaukira aku tidak punya urusan lain apa,” nadaku kesal sekarang,
“Apa urusanmu itu, cowok yang tadi malam?” Baru kali ini aku dan Rio berantem karena masalah sepele.
“Kenapa kau bohong padaku?” Tanya Rio lagi, aku terdiam.
“Nah, gak bisa jawab kan.” Rio benar-benar marah padaku dan aku hanya bisa menangis.
“Maaf.” aku mengulangi kata-kata itu. “Kau tak bosan apa berkata itu terus?” Rio murka tanpa melihat sedikit pun padaku dan aku hanya bisa menjawab “Tak pernah.”
“Dengar…” sekarang Rio menarikku, “Aku mencemaskanmu, dan setelah aku melihat kau semalam dengan orang lain aku tambah—kesal.”
“Kau cemburu?” kata-kata itu terlontar begitu saja,
“Pikirkan saja sendiri.” Rio melepaskanku dan ingin pergi dari tempat itu, spontan aku langsung memeluknya dari belakang dan menangis di punggungnya.
“Maaf, maaf, maaf…” tangisku menjadi-jadi, kami pun terdiam. Akhirnya Rio melihat kearahku.
“Siapa dia?” tanyanya dengan serius,
“Rekan kerjaku di klinik, tadi malam kami hanya makan karena dia menggantikanku selama aku tidak masuk. Seperti ucapan terima kasih.” kini Rio menatapku lekat-lekat.
“Kau tak bohong?” tanyanya lagi yang langsung aku gelengkan.
“Kau harus percaya padaku.” mendengar kata-kataku Rio langsung memelukku erat-erat.
“Aku ingin ketemu dengannya.” aku tersentak kaget mendengarnya, kami pun pergi ke klinik lagi untuk menemui Edward.

Rio tidak bercanda dengan omongannya, kami benar-benar pergi ke klinik-ku. Sesampainya disana, Rio memeluk pinggangku erat-erat dan kami pun bertemu Edward di dalam. Aku tersenyum melihatnya tapi Edward malah bingung melihat aku datang bersama orang yang telah memukulnya semalam. Begitu melihatnya Rio langsung mengembangkan senyumnya dan menjabat tangan Edward. Aku juga bingung melihat sikap Rio yang begitu ramah, apa karena dia percaya omonganku? atau apa dia mengujiku? entahlah, aku tak bisa memahami pikiran Rio.
“Hai.” sapa Rio ke Edward tapi masih dengan tatapan bosan sambil menjabat tangannya, “Hai.” sapa Edward lagi tapi sekarang tampangnya makin bingung.
“Aku Rio, dan kau?” tanyanya,
“Aku Edward.” dia menjawab masih dengan heran,
“Emm, Sayang. Bisakah kau membelikan kami makanan ringan di supermarket?” Rio mulai berbicara padaku dan aku makin keheranan dengannya, “Ya, bisa.” kataku tergagap “Jadi, pergilah.” aku merasakan kalau Rio memang mengusirku dan aku tampak cemas karena aku yakin kalau Rio ingin berbicara serius dengan Edward. Terpaksa aku pergi meninggalkan Rio dan Edward.
“Jadi, bisakah kita berbicara di taman?” Rio berbicara lagi dengan Edward dan mereka pun pergi ke taman belakang klinik.

Mereka berdua benar-benar ke taman, mereka duduk dibangku taman dan duduk dalam diam.
“Nadya, cewek yang baik ya.” Rio memulai,
“Ya, kau benar.” sahut Edward,
“Dia juga manis dan ramah, aku suka dengan cewek seperti itu.”
“Aku juga suka.” perkataan itulah yang membuat Rio kaget,
“Aha, kau suka padanya kan. NGAKU!.” bentak Rio,
“Kalau iya, kenapa? apa karena dia sudah jadi milikmu, tak akan pernah.”
“Kau minta dihajar ya?” Rio bangkit dari tempat duduknya,
“Aku gak pernah pake kekerasan, bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Nadya.” Edward mengeluarkan usul yang gila,
“Oke, pasti dia akan memilihku.” jawab Rio penuh kemenangan, setelah mereka beradu debat tak lama kemudian Nadya datang membawa pesanan Rio. “Hai.” sapaku pada mereka.
“Nadya… Maukah kau memilih antara aku dan Edward?” Rio langsung saja memulainya. Pertanyaan itu membuatku langsung kaget.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Aku ingin kau memilih antara aku dan Edward.” ulang Rio lagi,
“Aku—kalian ini kenapa sih? Apa itu pertanyaan.”
“Jawab saja.” bentak Rio,
“Aku—memilih…” aku gugup mengatakannya “Rio.” suaraku tak bisa terdengar jelas.
“Kau lihat kan, dia memilihku.” kata Rio yang senang dengan jawaban itu,
“Edward—kau harus pergi ke London kan.” sekarang aku berbicara pada Edward tanpa melihat ke arah Rio yang sedang jingkrak-jingkrakkan.
“Yah, makanya kau tak bisa memilihku.” Edward mengembangkan senyuman yang manis dan aku pun mengangguk.
“Kau bisa jadi sahabatku.” kataku lagi,
“Terima kasih.” Edward tersipu malu dengan perkataanku,
“Sayang, ayo kita pulang.” Rio mengajakku pulang karena sudah sore, aku pun tersenyum “Baiklah, sampai jumpa Edward.” kataku sambil pergi.

0 komentar:

Posting Komentar