Bulan Yang Hilang…
Satu bulan ini aku selalu menyiapkan pesta pernikahanku dengan Rio. Mamanya Rio sekarang sudah pulang dari luar negeri. Orang tuaku dengan orang tua Rio menjadi sangat dekat sekarang. Bahkan pernah Mamanya Rio menggossipkan Edward yang dekat denganku. Aku merasa bersalah dengan Edward karena dia merasa asing dengan aku dan keluargaku. Tapi Papa kekeuh masih ingin Edward tinggal sampai pesta pernikahanku. Akhir-akhir ini aku juga jarang have fun bareng dengan Edward, aku selalu berlibur dengan Anak Pelangi dan sibuk dengan persiapan pernikahanku walaupun aku juga tak ingin. Aku jarang bersama Edward malah tidak pernah, Rio selalu menempel padaku. Tapi Mbok-ku sering cerita kadang-kadang Edward suka menangis dan setiap malam selalu di atap sambil menangis. Dan kalau tak ada orang dirumah dia seperti bermuram durja. Dia juga jadi jarang masuk ke klinik, sempat Viona memberitahukanku kalau Edward sangat lesu dan tak bersemangat. Aku jadi sangat bersalah padanya. Pesta pernikahanku akan digelar pada tanggal 22 September. Aku jadi tak pernah bertemu dengannya lagi.
Bulan sudah memasuki bulan September minggu pertama. Semakin sempit pulan aku bertemu dengannya, Anak Pelangi seperti tak boleh mempertemukan aku dengannya bahkan orang tuaku juga seperti itu. Mbok-ku juga cerita semenjak masuk bulan September, Edward tak pernah keluar dari kamar (kamar dirumahku selalu pakai kamar mandi). Dia juga jarang makan, sekalinya makan hanya tempe dan nasi satu sendok saja. Mbok-ku saja sampai miris melihatnya. Aku penasaran apa yang dilakukan Edward di dalam kamar. Aku juga kangen dengannya, aku merasakan kalau bulan-ku yang dulu telah hilang. Bulan-ku telah meninggalkan bintang ini sendiri lagi, setiap aku merindukan dan menginginkan bulan-ku disampingku dia tidak pernah ada. Aku jadi yakin sekarang kalau Rio bukanlah orang yang satu-satunya aku cintai dan sekarang rasa cintaku telah memudar seiring berjalannya waktu. Aku sering merasakan kalau cintanya Rio padaku dikarenakan untuk mendapatkan aku dan ingin menang dari Edward bukannya tulus mencintaiku. Tapi saat ini aku tak bisa melakukan apa yang aku inginkan, malah pernah dia memarahiku dan mengatakan perkataan yang kasar padaku. Aku tak tahu kalau Rio sangat emosional juga. Bertentangan dengan sikap Edward yang selama lima tahun ini tak pernah berbuat kasar.
Sudah mau memasuki bulan September minggu kedua. Bahkan sampai menjelang pernikahanku aku tak pernah melihat Edward lagi… Sesekali Rio menanyakan Edward tapi setelah aku menjawab tak tahu dia malah tersenyum penuh kemenangan dan tertawa dengan puas. Kadang aku jengkel dengannya. Tapi hanya Ran yang kasihan dengan Edward, menurutnya dia sangat kalut karena aku mau menikah dengan Rio,. Aku benar-benar kehilangan Edward yang selama ini menjadi penolong-ku, menjadi bulan-ku. Aku gak tahan kalau lama-lama tak melihatnya,.. Saking rindunya, memasuki hari pernikahanku yang akan diselenggarakan dua hari lagi aku menyempatkan untuk memandangi langit di atap, siapa tahu aku bisa melihat Edward..
Setelah aku ke atap, tak ada Edward di atas sana. Atap itu kosong tak berpenghuni. Karena aku sangat rindu dengan Edward aku mulai menangis di atas sana sambil memandangi hamparan langit yang tak ada sama sekali bintang, sama seperti hatiku yang sedang kosong dan tak ada yang menempati.. Sama sekali tak ada bintang yang berkelip dengan indah, tak ada bintang yang bersinar dengan terang, tak ada karena bulan yang selalu menjaga mereka telah hilang bagaikan ditelan bumi. Sekarang di langit hanya ada ruang yang gelap dan hampa menangisi kepergian bulan dan bintang, merindukan ruangan yang kosong untuk segera di tempati oleh cahaya yang bersinar terang. Aku ingin percaya kalau bulan itu akan hadir kembali menjaga bintang ini bersinar. Bintang yang tadinya redup mulai bersinar lagi dengan adanya bulan disisinya. Tanpa bulan, bintang ini tak mungkin bersinar terang, tak mungkin kembali berkelip, dan tak mungkin bisa mengisi ruang kosong yang sekarang sudah gelap dan hampa. Bahkan matahari dan pelangi pun tak mampu mengisi ruang kosong yang terhampar di langit yang biru. Dengan adanya bulan dan bintang, langit yang tadinya biru indah akan bertambah indah bagaikan pelangi dengan pesona warnannya yang indah bahkan lebih terang dari sinar matahari sekali pun. Dengan adanya bulan dan bintang, akan mengisi malam yang gelap menjadi terang akan sinarnya yang menghangatkan dan sinarnya yang indah. Tapi tanpa bulan dan bintang, langit yang indah akan berubah menjadi hitam dan menakutkan. Satu-satunya cahaya yang menghiasi malam yang gelap dan dingin. Hanya kabut yang akan melayang menyebarkan ketakutan dan kedinginan. Satu-satunya sinar yang akan menghiasi seseorang yang sedang bersedih dan satu-satunya sinar yang akan menerangi hati kita yang kosong dan hampa.
Aku mulai terisak semakin keras karena bulan itu benar-benar telah hilang… “Bulan. Kenapa kau pergi?” tanyaku pada langit “Kenapa kau meninggalkan bintang ini bersinar sendirian?” tanyaku lagi, “Kenapa kau membiarkan bintang ini redup lagi?” aku semakin terisak dan berteriak semakin kencang “KAU DENGAR AKU BULAN, BINTANG INI MEMBUTUHKANMU. AKU MEMBUTUHKANMU EDWARD, KAU JANJI AKAN SELALU MENJAGAKU TAPI SEKARANG KAU MENJADI PENGECUT DAN MEMILIH PERGI MENINGGALKANKU SENDIRI. KALAU KAU BENAR-BENAR MENCINTAIKU, REBUT AKU, PERTAHANKAN AKU. JANGAN BIARKAN AKU MENJADI MILIK ORANG LAIN, JANGAN BIARKAN BINTANG INI DIAMBIL OLEH TATA SURYA YANG LAIN.” perbuatanku sungguh konyol, tapi aku sengaja melakukannya karena aku yakin Edward berada disini tapi dia tak mau menemaniku. Aku hanya mengeluarkan semua unek-unek yang ada dihatiku sekarang. “BULAN, AKU MENCINTAIMU..” aku sesegukkan sekarang, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward disana. Walau begitu aku tetap tak ingin beranjak dari sana, aku kembali duduk dan bersandar di bangku masih meneruskan tangisku..
“Edward.. aku kangen padamu.” aku semakin terisak dan sekarang aku memeluk lututku dan membenamkan wajahku disana.
Seseorang berjalan menghampiriku, tapi kelopak mataku tak mau terbuka. Badanku lelah dan lemas, aku hanya bisa mendengar suaranya saja. Berjalan gontai menghampiriku dan mencium rambutku.
“Nadya… aku juga kangen padamu.” kata orang itu padaku, tapi tetap saja mataku tak bisa terbuka.
“Mungkin aku bodoh karena sudah lari dari semua ini, aku bukan bulan yang pantas kau dapatkan. Teruslah bersinar.” lalu dia menggendongku dan membawaku pergi dari atap. Aku dibawa olehnya kebawah, aku mendengar semua orang terpekik kaget. Apa karena aku digendong oleh Edward.
“Berikan dia padaku.” kata Rio dengan kasar. Karena aku tak mau kueratkan lagi pelukanku supaya Rio tak bisa menggendongku.
“Berikan Edward.” kata Rio sarkatis, “Tapi dia tak mau.” jawab Edward dengan tenang. Kubenamkan lagi wajahku di dadanya lebih dalam, mungkin semua orang tak percaya dengan sikapku saat ini tapi mataku memang tak mau terbuka.
“EDWARD.” kata Rio murka sekarang, “Aku akan membawanya ke kamar.” kata Edward dengan tenang lagi. Aku lega Edward sudah berada di sampingku sekarang.
Setelah sampai kamarku, Edward tidak meninggalkanku tapi dia malah duduk di ranjangku dan membelai rambutku. “Maafkan aku.” katanya masih membelai rambutku dan pipiku. Kuraih tangannya dan kugenggam tangannya. Edward mencium keningku dengan lembut dan mengucapkan selamat malam padaku.
“Edward.” aku terbangun, sebelum Edward pergi lagi,
“Iya.” dia masih berdiri di tempatnya.
“Kemana kau selama ini?” tanyaku padanya,
“Melakukan hal konyol karena kehilanganmu.”
“Konyol?” tanyaku lagi,
“Kau tak akan percaya, aku membuatkan ini.” Edward mengambil sesuatu dari sakunya dan kulihat sebuah gelang cantik berpadukan manik-manik yang bergambar hati, matahari, bintang, dan bulan menghiasi gelang itu. Edward menyerahkannya padaku, aku baru bisa menatap matanya kali ini. Matanya sayu dan berat, seperti tak pernah tidur dan tampangnya kacau.
“Kau bilang ini konyol?” tanyaku lagi, kalau menurutku ini bukan suatu hal yang konyol bahkan ini suatu yang cantik.
“Kubilang kau tak akan percaya.” katanya sambil tersenyum, “Aku pergi.”
“Edward.” katakan Nadya, “Jangan jadi pengecut, kalau kau tak ingin bilang saja jangan pernah membenam rasa itu.” kataku padanya. Edward berdiri tegang dan dia berjalan keluar, air mata langsung jatuh dari kelopak mataku menatap kembali bulan yang hilang.
Pengecut…
Edward
“Dasar bodoh. Kau tak maukan Nadya menikah dengan Rio.” kataku sambil meninjukan tanganku ke tembok di atap. “Sekarang kau mau menatap orang yang kau cintai menjadi milik orang lain, come on Edward jadilah lelaki.” kataku lagi pada diriku sendiri “Tapi aku mau Nadya bahagia, mungkin bersama Rio si keparat itu.”
“Kau menyebut Rio apa?” tanya orang dibelakangku,
“Ran, kau?” tanyaku tak percaya,
“Aku lagi menginap di rumah Nadya, tadi kau menyebut Rio apa?” Tanya Ran lagi,
“Keparat? Bagaimana kau bisa diatas sini?” tanyaku lagi,
“Karena Nadya aku jadi suka langit yang ditabur bulan dan bintang.” aku tersenyum “Kau tahu Edward, Nadya tak bahagia.” katanya.
“Maksudmu?”
“Dia tak mau menikah dengan Rio.” aku terperangah mendengarnya.
“Dan dia ingin kau menahannya.” jeda beberapa saat…
“Selama ini Nadya selalu cerita kepadaku mengenai kau, selama lima tahun kau dan dia hidup bersama dan waktu menyadarkannya kalau dia sangat mencintaimu. Selama ini dia kangen denganmu, dia juga cerita kalau kalian berdua ibarat bulan dan bintang yang ada di langit itu…” Ran menunjuk satu-satunya bintang yang ada di langit “Saat dia membicarakanmu raut mukanya sangat bahagia, tapi setelah dia tahu kau tidak mempertahankannya dia sangat kecewa dan sedih. Dia sangat merindukanmu Edward.”
“Jadi aku harus apa?”
“Cowok memang tidak peka ya, rebut dia. Pertahankan dia Edward.”
Kata-kata Ran menyadarkanku kalau aku tak ingin Nadya menderita dan aku tak sanggup kehilangan dia.
“Kau sudah sadar, bro. Besok lakukan yang terbaik untuk sahabatku, aku mendukungmu.” kata Ran lagi,
“Kau tidak mendukung Rio?” tanyaku kaget,
“Tidak, aku tak setuju kalau Rio bersama Nadya bukannya cemburu tapi karena… aku sangat tahu sifat abangku.”
“Abang?” aku semakin heran dengan ini semua,
“Dia abangku, tapi lain Ibu… Ayahnya menikah dengan Ibuku bahkan Rio tak tahu kalau aku adalah Adik Tirinya, aku juga tahu setelah masuk Universitas. Ayah Rio dan Ibuku menikah pada saat aku dan Rio duduk di bangku SMA kelas 3, tapi hal itu dirahasiakan dari kami. Ibu Rio juga tak tahu, makanya aku sangat tahu semua sifat Rio.” jelas Ran.
“Memang sifat si keparat itu apa?” tanyaku penasaran,
Ran tersenyum “Dia memang pantas dapat julukan itu, Rio itu seorang playboy dan dia hanya ingin menang darimu untuk mendapatkan Nadya.”
“Tunggu… ini bohongkan?”
“Enggak kok, Nadya juga berpikiran hal yang sama… jadi pertahankan dia.” Ran pergi dan meninggalkanku dengan semua skenario yang telah dibuat oleh Tuhan. Aku masih terpaku menatap kepergian Ran dan mencerna semua omongan tadi. Apa ini udah takdir dari Tuhan? Apa akan berakhir seperti ini? Entahlah aku tak tahu, tapi yang paling penting aku harus mempertahankan Nadya.
pelangi dengan tujuh sahabat (part 16)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar