Tamu Tak Diundang…
Edward pergi membukakan pintu dan aku mendengar Edward menyebutkan nama “Ichi.” di ruang tamu. Aku kaget dan langsung berlari menuju ruang tamu. Ternyata benar, Ichi datang seperti tamu tak diundang. Aku dan Edward saling pandang dan tanpa diminta Ichi masuk menyelonong begitu aja dan langsung duduk di sofa sambil menyalakan TV dan memakan berondong jagung.
“Apartemen kalian enak juga.” katanya pada kami, aku dan Edward masih berdiri beku melihat kedatangan Ichi.
“Mau apa kau?” Tanya Edward dengan ketus. Dari awal Edward memang tak suka dengan Ichi karena sifatnya yang menjengkelkan. Raut wajah Edward pun garang kalau berhadapan dengan Ichi. Aku pun harus turun tangan untuk menghindari Edward berbuat yang tidak-tidak.
“Kau tak suka aku kesini?” Nad, kau suka kan aku datang.” jantungku seperti anjlok. Darah mengalir dengan deras dan aku merasa mati gaya dibuatnya. Aku hanya bisa menampirkan senyum terbaik-ku. Karena jujur aku tak suka Ichi datang kemari tanpa diundang. Aku jadi sedikit muak melihatnya, entah karena aku cemburu karena selama ini dia dekat dengan Rio atau aku sudah tak suka dengan sifatnya yang kadang-kadang sok ngatur.
“Aku ada kerja disini. Mungkin sampai kalian pulang.” katanya lagi,
“Kau berusaha memata-matai kami?” Tanya Edward dengan garang.
“Oh, jadi ini sambutan untuk tamu yang datang dari jauh. Gak ada teh atau Milkshake gitu?” sumpah, bukan hanya Edward yang marah sekarang. Perkataannya sungguh membuat urat nadiku menegang, Edward mendesis marah disebelahku dan aku juga jadi sangat muak dengan Ichi. Tindakannya sungguh tolol, apa sih yang dipikirkan oleh mereka mengirim Ichi datang untuk ‘memata-matai’ kami. Sungguh tolol.
Karena kesal Edward pun mengabaikan Ichi dan masuk ke kamarku. Karena aku juga jadi kesal, aku mengikutinya masuk kedalam kamar. Aku melihat Edward mengacak-acak kasur dengan garang.
“Edward.” kataku padanya sambil melotot.
“Gila ya. Aku gak suka dia ada disini.” sambil berkacak pinggang dia mendesis pelan.
“Oke. Aku juga gak suka tahu…” kataku padanya dengan sikap defensive.
“Kita harus usir dia.” kata Edward dengan protektif, aku tahu kalau Edward sudah mengatakan sesuatu, perkataan itu harus dilaksanakan.
“Tunggu…Tunggu… Dia kan sahabatku.”
“Tapi, dia ingin ‘memata-matai’ kita.”
“Kita bilang dia baik-baik, sekarang kau harus tenang.” sebisa mungkin aku menenangkan Edward. Begitu dia sudah agak tenang sekarang, kami keluar ke ruang tamu untuk menemui Ichi. Di ruang tamu Ichi sedang menonton acara TV sambil memakan kripik dan ngakak saking lucunya. Bahkan tak melihat kalau kami datang.
“Ichi.” kataku padanya,
“Iya.” jawabnya tanpa melihat padaku, Edward mulai menegang disampingku.
“Kau mau ngapain disini?” tanyaku denga hati-hati.
“Menjemput kalian.” katanya tanpa ragu,
“Apa?” tanyaku heran,
“Iya.. Rio menyuruhku datang melihat kondisi kalian.” RIO! Astaga, aku benar-benar muak dengan semua ini.
“Untuk apa? Jadi sekarang kau sudah jadi ‘asisten’-nya begitu.” suaraku meninggi sekarang “Dan bagaimana kau tahu apartemen kami?” sambungku lagi.
“Dari Corner. Kami sudah menyiapkan acara ulang tahunmu,” kata Ichi masih tanpa melihat ke arahku.
Aku benar-benar jengkel sekarang, maksudnya apa nih melakukan ini padaku dan Edward. Kami seperti anak kecil yang diawasi ibunya. Sial.
“Lebih baik kau pergi sekarang juga daripada kutendang.” kataku dengan garang, aku benar-benar marah pada Ichi apalagi Rio. “Keluar sekarang juga.” lanjutku padanya, dan Ichi dengan terpaksa keluar dari apartemen kami dengan raut muka yang sedih dan marah. Aku lega setelah dia keluar, aku tak peduli dia mau kemana sekarang. Mungkin ke rumah Corner, masa bodoh dia marah padaku atau tidak. Yang penting dia udah keluar sekarang aku benar-benar sebal dengan sikap Rio.
“Sayang.” kata Edward yang tak percaya dengan sikapku dan langsung memelukku dari belakang dan menciumi leherku. Sumpah, geli banget.
“Aku benar-benar sebel sama dua makhluk itu.” kataku masih jengkel,
“Kau hebat. Kita harus merayakannya.”
Malam ini aku senang sekali, kami minum sampai puas. Sampai-sampai Edward tepar di kasurku tapi aku penasaran apa yang terjadi. Kubuka laptop-ku dan masuk ke dalam email dan blog-ku. Sesuai dugaanku, Rio online.
Rio says : Ichi sudah nyampe??
Iya sudah nyampe dan baru aja kutendang ke jalanan, batinku.
Nadya says : Hmm.
Rio says : Dia baik kan?
Nadya says : Tauk… Paling lagi ngemis diluar..
Rio says : Maksud kamu??
Nadya says : Aku gak suka ya sama sikap kamu.
Nadya says : Kekanak-kanakan tau…
Rio says : Aku cuma khawatir kok!!!
Rio says : Aku takut kamu udah ngelakuin itu sama cowok itu.
Nadya says : Kalau udah emang kenapa?
Aku benar-benar muak, dikiranya aku cewek gampangan apa…
Rio says : Ohh.. Maaf deh, aku salah.
Nadya says : Salah bangeeeetttt……..
Rio says : Ichi dimana?
Nadya says : Engga tau, udah aku usir.
Nadya says : Aku gak suka, aku bukan anak kecil lagi. Paling dia dirumah Corner.
Setelah itu tak ada balasan, mungkin Rio cemas dan langsung menghubungi Ichi atau Corner. Karena lelah, kumatikan saja laptop-ku. Di kasur Edward sudah menggeliat-liat kayak cacing kepanasan, dan aku tahu dia lagi mengigau. Aku pun naik ke tempat tidur dan memejamkan mataku.
Panas matahari membangunkanku. Aku mendapati Edward sudah tak ada di sampingku lagi, mungkin dia sudah berangkat batinku. Aku bergegas ke kamar mandi dan setelah mandi aku menuju ruang tamu. Disana jantungku berdegup sangat keras, Edward sedang bersama Ichi sekarang. Mereka sangat dekat sampai ketawa-ketawa ria. Entah apa yang kurasakan begitu melihat mereka. Kenapa selalu Ichi yang merusak segalanya. Pertama dia merampas Rio dari tanganku dan sekarang dia ingin mengambil Edward dari sisiku, tak akan ku-ampuni. Aku sebal dengannya, aku muak. Edward… Padahal kemarin dia sampai mau mengusir Ichi dari sini kenapa sekarang mereka malah asyik-asyikkan bercanda gurau. Selalu Ichi… Kenapa gak orang lain. Darah mengalir deras dan membuatku menggeram. Aku berkacak pinggang di depan mereka, memperlihatkan tampang jijik kepada mereka. Edward melihatku, tampangnya kaget seperti merasa ke-gap dan seperti melihat hantu pada siang bolong. Oke, aku hantunya. Emang kenapa kalau aku hantunya? Hantu tercantik di dunia (haha, jadi hantu malah bangga) tapi pandangan Ichi memperlihatkan tampang penuh kemenangan dan hal itu membuatku semakin muak melihatnya. Aku jadi sangat benci pada Ichi, apa ini udah skenario dari Tuhan padaku. Segampang itukah merampas semuanya dari tanganku karena aku mau mati karena aku tak bisa bertahan hidup lebih lama. Menjijikan. Sungguh tolol. Fuck!
“Hai.” sapa Ichi padaku sok lugu. Ingin rasanya tangan ini menamparnya. Tapi hal itu aku tahan, tenang Nadya. Kau harus terlihat santai, begitu saatnya tiba baru hakimi dia (tanduk jahatku mulai keluar sekarang, haha). Aku masih berkacak pinggang dan memperlihatkan ekspresi dingin dan menakutkan. Suasana tegang sekarang, apa itu hanya dalam pikiranku saja, masa bodohlah. Edward, sekali lagi aku menatap matanya bisa-bisanya dia menunduk dan menghindari tatapanku (seperti anak yang ketahuan having seks sama satpol PP) Awas ya Edward.
“Mau apa kau kesini?” aku mulai bertanya tanpa merubah raut wajahku,
“Mampir.”
“Oh, mampir minta makanan seperti pengemis.” yes, aku menang.
“Nadya.”
Edward menghampiriku dan membawaku ke beranda,
“Apa?” tanyaku pada Edward dengan garang,
“Maksud Ichi baik.” katanya dengan tenang,
“Maksudnya?”
“Dia ingin tahu kondisi kita. Dia bukan mau memata-matai kita, dia hanya kangen padamu.” aku mendesis pelan, jadi sekarang Edward membela Ichi. Bagus.
“Ehem… Aku ingin bicara.” Ichi masuk dan mengerlingkan mata pada Edward. Melihatnya aku jadi tambah mual, Ichi sekarang menghampiriku.
“Hai, apa kabar?” tanyanya padaku,
“Baik sebelum kau datang.” kataku ketus.
“Aku hanya kangen padamu, dan ingin minta maaf.” aku sempat melirik ke arah Ichi, sorot matanya memang tulus.
“Untuk apa?” tanyaku bimbang,
“Everything… everything I do!”
Sumpah aku mulai bingung apa yang dia katakan, minta maaf untuk apa. Selama ini memang dia berbuat apa? Tau harga diri juga dia..
“Tentang Rio.” lanjutnya,
Oh, maksudnya ini. Soal Rio. Tahu diri juga dia. Dan setelah ini dia akan minta maaf setelah merebut Edward, oke. Tahan Nadya, tenang.
“Soal kau suka padanya?” tanyaku ragu-ragu, dan dia pun mengangguk.
Hening..
“Maaf aku tak pernah memberitahumu, kukira selama ini kau suka dengan Harry.”
What? Harry? Ungkapan konyol,
“Kau ini cewek yang perfect. Kau disukai oleh banyak orang, Rio, Harry, Doni, bahkan Edward. Aku iri sama kamu Nad, bahkan pernah aku kepikiran untuk merusak hidupmu.” kau memang sudah merusak hidupku sekarang, tapi tunggu. Aku masih tercengang tak percaya mendengar pengakuan Ichi, seorang Ichi iri padaku. Imposibble. Dan dia mengatakan kalau aku perfect. Bilang dong kalau aku udah amnesia, bilang aku salah denger, bilang kalau aku udah mabok.
“Kamu tadi bilang apa?”
“Aku bilang… Kau cewek yang perfect. Harry dan Doni sering curhat sama kita-kita tentang kamu, malah mereka tadinya ingin nembak kamu tapi berhubung ada Rio mereka mundur. Emang bodoh sih, aku juga udah cerita sama Edward dan dia juga kagum padamu tapi pembicaraan ku dengan Edward menyadarkanku satu hal kalau kamu… emang cewek yang sempurna.”
Astaga, kenapa jadi gini sih. Nembak… Perasaan aku biasa aja deh, gak sempurna-sempurna banget. Malah aku rapuh untuk seorang wanita, kenapa mereka bisa beranggapan seperti itu. Edward ngomong apaan nih sama Ichi sampai nyadarin nih anak. Seorang Ichi dibukakan pintu penglihatannya, Ichi kan tipe cowok yang batu… lebih batu dan keras kepala dari orang-orang yang lain.
“Hari ini aku cuma mau ngomong itu aja, hari ini aku mau pulang ke Indonesia.” sebelum pergi aku memanggilnya dan aku udah gak bisa mundur lagi.
“Ichi… agak aneh buat aku tapi… terima kasih ya… salam buat yang lain.” aku lega karena udah berbaikan sama Ichi. Perasaan muak, sebal dan jengkel terhapus sudah dalam hati. Aku menyunggingkan senyum terbaik-ku padanya, dan Ichi pun pergi pamit untuk pulang ke Indonesia. Hari ini berjalan sangat lambat, setelah melihat Ichi pergi. Aku pun langsung mencari dimana Edward dan aku mendapatinya di dapur sedang menuangkan susu di atas cappucinno-nya. Dia tersenyum melihatku dan aku segera berlari menghampirinya dan langsung memeluknya. Kesekian kalinya aku tertolong berkat Edward, he is my hero--- yup. Dia pahlawanku dia penolongku. Dengan antusias dan senang aku mencium bibirnya dan menjalari lehernya dan tenggorokannya
“Trims.” kataku padanya,
“Lagi dong.” aku langsung menonjok bahunya dengan lembut kami pun tertawa bersama.
This is my life… my world… I’m here at now… Entah siapa yang tahu, tapi aku sudah jatuh tenggelam begitu jauh kedalam dunia-nya, aku bahkan tak yakin aku lebih mencintai Rio atau Edward. Di satu sisi aku sangat mencintai Rio—tapi aku begitu menginginkan Edward menjadi belahan jiwaku… menjadi cinta sejatiku. Memang konyol kalau di zaman modern ini kita masih menganggap ada cinta sejati—belahan jiwa… Tapi aku tak bisa menghindari apalagi mentiadakan kalau cinta sejati benar-benar ada. Bukitnya ada Adam dan Hawa, ada Romeo dan Juliet yang masih melegenda dan sekarang apa cinta yang sejati akan dilanjutkan oleh aku dan kau? Tapi siapa kau disini? Rio atau Edward…
Aku gak tahu… Dan aku percaya dengan adanya Tuhan disini… Aku akan mendapatkan cinta sejati-ku… belahan jiwaku… tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini… dan aku yakin siapa pun orang yang akan mengisi ruang kosong di hatiku itu adalah orang yang benar-benar special yang akan aku jaga atau malah dia yang akan menjagaku…
pelangi dengan tujuh sahabat (part 13)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar