Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 4)


Hiking…

                Malamnya, kami semua hanya nyanyi tak jelas. Kami seperti reunian, bernyanyi, cerita seram. Tapi bagiku ini sangatlah berarti bagiku, aku sangat senang karena berada di sekeliling sahabat-sahabatku. Tiba-tiba ada yang memanggilku, aku mengikuti suara itu. Tapi tak ada siapa-siapa disana. Aku takut, hawa dingin menusuk sekarang. Paru-paruku seperti mau berhenti bernapas, air mataku keluar. Aku terus berjalan tapi tak tahu arah dan tujuan, begitu aku mendengar suara air aku senang dan menghampirinya. Aku seperti berlari, karena tak melihat jalan aku terjatuh kedasar jurang yang seperti sudah menungguku untuk siap dimakan. Aku teriak tapi aku terus jatuh kedasar jurang.
                 Badanku terpental kesana-kemari, badanku sakit semua. Aku kehabisan napas darah keluar dari kaki, mulur dan hidungku, pada saat itu juga aku melihat Harry, Doni, Ran, Gita, dan Ichi. Mereka mengitariku, sekilas aku senang mereka datang untuk menolong. Tapi aku langsung sedih ketika mereka semua menertawaiku, aku bingung dibuatnya. Rio datang, dia memaki-makiku dalam sekejap hatiku sangat hancur. Seketika itu juga aku berteriak dan semua lenyap begitu saja.
               
                Aku terbangun, disekelilingku gelap gulita. Badanku dibanjiri keringat. Rio terbangun dan langsung menghampiriku. Napasku terpingkal-pingkal, aku butuh udara yang banyak sekarang.
        “Sayang..” Rio berusaha menenangkanku, disaat itu juga Rio memelukku dan aku juga memeluknya. Cuma mimpi, hatiku lega. Aku menangis di dalam pelukan Rio.
        “Ada apa?” Tanya Rio yang cemas, “Mimpi—buruk.” kataku yang masih mengontrol napasku.
        “Tenanglah, sudah.” Rio mempererat pelukannya, “Kenapa gelap?” tanyaku padanya “Lampu padam karena hujan, yang lainnya pergi mengecek ke kepala desa. Maklum wilayah terpencil.” aku bisa merasakan bibirnya menyentuh kepalaku. “TIdur lagi.” katanya dan aku membaringkan kepalaku di bantal “Kau mimpi apa?” tanyanya tiba-tiba, “Aku melihat kalian pergi jauh, apa aku harus mengatakan penyakitku pada mereka?” tanyaku pada Rio, dan hal itu membuat Rio tersentak kaget “Kalau kau siap.” dia tersenyum padaku.
                Tiba-tiba Hp Rio bunyi, Rio mengangkatnya. Setelah menutup teleponnya dia bicara padaku “Yang lain tak bisa pulang, ada badai sekarang. Mereka akan kembali besok, ban mobil mereka juga bocor.” seketika itu juga petir menyambar, aku terpekik dan mempererat pelukanku, “Aku bisa menemanimu tidur disini.” katanya lagi padaku, aku menyetujui permintaan itu tanpa pikir panjang Rio langsung masuk kedalam selimut yang aku pakai. Rio memelukku lebih erat “Maaf.” kataku padanya “Untuk apa?”
        “Kau pernah bilang padaku kau menyukaiku tapi aku mengabaikan perasaanmu. Dan sekarang aku malakukannya padamu.” kubaringkan kepalaku di dadanya, aku menangis didalam pelukannya,.
        “Tak masalah, aku tahu kau juga menyukaiku.” Rio tersenyum,
        “Pede benar kau.” aku langsung menatapnya, dan dia mengangkat bahu dan berkata lagi “Sudahlah, tak usah dipikirkan. Tidur saja lagi.” dan aku langsung tidur lelap di pelukannya.

                Paginya Rio masih tidur bersamaku, dan aku benar-benar tidur di dadanya. Aku tak percaya begitu melihatnya, aku pun membangunkan Rio. “Pagi.” sapa dia yang masih mengantuk, aku pun tersenyum padanya.
           
        “Kita harus sudah bangun sebelum yang lain datang” kataku padanya, dan dia langsung bangun dan berdiri untuk keluar dari kamarku. Aku pun ikut bangun dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Rio sudah duduk di teras, sambil memegang koran yang sedang ia baca, di meja terdapat dua teh masih hangat.
            Aku langsung menghampirinya “Hai.” aku duduk di sebelahnya “Oh, hai. Aku sudah membuatmu teh panas, silahkan.” Rio menawarkanku dan aku langsung meminumnya “Kemana yang lain, belum pulang?” tanyaku lagi.
        “Belum, katanya mereka mau ke kota ingin belanja.” dia menjelaskan padaku.
        “Katanya nanti sore kita akan jalan-jalan hiking ke hutan dan gunung, kau mau ikut. Tapi aku tak yakin Nadya—“ dia berhenti membaca korannya dan menatapku lekat-lekat.
        “Apa?” tanyaku makin heran “Aku mau.” lanjutku lagi “Aku takut kau tidak---kuat.” dia menjelaskannya. “Ada kau ini.” kataku sambil tersenyum.
        “Baiklah, aku akan memberitahu yang lain kalau kita ikut. Tapi kau harus janji padaku—“ muka Rio sekarang sangat serius,
        “Apa?” tanyaku lagi “—bilang padaku kalau kau sudah tidak kuat, oke!” aku mengangguk pelan dan Rio langsung membelai rambutku. Dia melanjutkan membaca korannya,
        “Kau mau sarapan apa?” tanyaku padanya sebelum aku masuk.
        “Apa aja, honey.” dia masih membaca korannya, dan aku pun masuk untuk membuat sarapan. Kubuatkan saja nasi goreng untuk aku dan Rio. Ketika sarapan sudah jadi aku langsung memanggil Rio untuk sarapan,
        “Emm..” kata Rio yang mencium bau masakanku “Kelihatannya enak.” dia lalu mencium rambutku dan duduk untuk makan “Pelan-pelan.” aku memberitahukannya sambil tersenyum, “Mereka belanja apa?” tanyaku padanya “Perlengkapan hiking.”
                Rio masih melahap masakanku seperti orang yang belum makan selama seminggu. Setelah selesai makan, Rio berterima kasih dan duduk di ruang keluarga dan menyetel TV, sedangkan aku mencuci piring bekas makan kami berdua dan secangkir teh yang kami minum. Aku merasa seperti aku istrinya saja, tadi malam tidur berdua dan sekarang makan berdua. Apa jadinya kalau anak pelangi yang lainnya tahu, sudahlah masa bodoh dengan mereka.
               
            Setelah selesai mencuci piring, aku pun bergabung dengan Rio untuk menonton TV, aku duduk di sebelahnya dengan majalah teen ditanganku. Tiba-tiba Rio merangkulku, dasar cari-cari kesempatan dalam kesempitan. Bola mataku berputar melihat tingkah laku Rio, lalu aku berdeham kecil dan memasang muka bete. Langsung saja muka Rio memerah dan melepaskan rangkulannya.

                Kami berdua mendengar bunyi suara mobil, aku dan Rio tersentak kaget mendengarnya. Kami berdua pun langsung bergegas menuju teras.
                Mereka pulang dengan membawa peralatan yang sangat banyak “WOW…” Rio kaget melihat bawaan mereka yang banyak sekali, tanpa pikir panjang aku dan Rio langsung membantu mereka menurunkan bawaan dan menaruhnya di ruang tamu “Banyak sekali.” kataku pada mereka “Hiking gitu lhoo..” kata Ichi seperti kehabisan napas “Aku capek sekali.” kata Gita yang langsung tiduran di ruang tamu “Kemana Harry dan Doni?” tanyaku pada Ran, aku baru sadar hanya ada mereka bertiga yang telah sampai dirumah “Mereka sedang menyewa kuda.” kata Gita yang sambil menguap, “KUDA?” tanyaku dan Rio hampir berbarengan, “Yah, kuda. Kita akan naik gunung dan turun gunung, melewati air terjun, menghirup udara yang segar, melewati kebun teh, menyapa penduduk sini. Ah, pasti menyenangkan.” jawab Ichi yang seperti membayangkan hal yang dia katakan, aku dan Rio bertatap muka saking herannya.
        “Tau nie Ichi, sesampainya di rumah kepala desa dia malah bertanya apakah boleh melakukan hiking atau tidak.” kata Ran yang masih tak percaya,
        “Lhoo, kan biar ada kesan kita pernah disini. Lagi pula aku bawa camera digital kok, kita bisa berfoto bersama. Dan yang penting kita sudah diizinkan oleh kepala desa dan mendapatkan pinjaman kuda.” Ichi lalu menguap karena saking capeknya,
         “Aku mau ke kamar dulu” kata Gita kepada kami,
        “Aku juga,” Ran ikut bersama Gita,
        “Aku akan bangunkan kalian kalau sudah mau berangkat.” suara Ichi seperti berteriak. “Kau beli apa aja?” Tanya Rio kepada Ichi .
        “Perlengkapan hiking lah, aku belikan untuk kalian berdua.” lalu Ichi memberikan perlengkapan itu pada kami berdua. “Wow.” kataku begitu saja, tiba-tiba ada suara mobil yang berhenti didepan cottage kami. “Itu pasti mereka.” kata Ichi yang langsung melompat keluar, aku dan Rio langsung mengikutinya.
        “Oh, my god.” kata Ichi yang tak percaya,
        “Maaf, kami hanya dapat empat ekor.” kata Doni yang cekatan menurunkan kuda-kuda itu,
        “Tak masalah, kalian bisa berdua-dua menaikinya.” kata Ichi yang langsung membantu Doni dan Harry menurunkan kuda-kuda itu, ‘Kalian’ batinku berarti Ichi menaiki kuda itu sendiri. Ya, ampun ni anak.
        “Hei, kalian berdua. Bantu kami dong.” suara Ichi memecahkan lamunanku. Aku dan Rio langsung bergabung dengan mereka.

                Setelah kuda-kuda itu diturunkan dan diikat. Kami semua langsung masuk kedalam, Harry dan Doni langsung tiduran di sofa ruang tamu, sementara Ichi merapikan perlangkapan hikingnya dan meletakkannya di sudut ruangan.
        “Kalian istirahat saja, biar aku yang memasak makan siang nanti.” kataku pada Harry dan Doni. Tanpa pikir panjang mereka langsung bangun dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Ichi masih sibuk dengan peralatan kami, Rio sudah kembali ke depan ruang keluarga untuk menonton TV, sementara aku membantu Ichi beres-beres.
        “Kau tidak lelah?” tanyaku pada Ichi,
        “Tidak, banyak yang harus aku siapkan untuk nanti.” kata Ichi bersemangat “Pergilah kekamar, baringkan badanmu sebentar.” kataku lagi “Kau yakin, setelah ini aku mau memberikan makan kuda-kuda itu dan memandikannya.” katanya lagi tapi sekarang dengan wajah agak cemas.
        “Biar aku saja.” kataku asal saja “Baiklah, tolong ya.” Ichi memelukku dan bergegas masuk kedalam kamarnya, setelah ia pergi aku menghela napas panjang-panjang.
               
                Hari ini aku sangat sibuk sekali, setelah masak untuk makan siang. Pekerjaanku bertambah karena janji bodohku pada Ichi, aku harus memberikan kuda-kuda itu makan dan satu lagi MEMANDIKANNYA. Bayangkan saja aku harus memandikan kuda-kuda itu, mimpi apa aku semalam. Tapi dalam benakku hal itu pasti sangatlah menyenangkan, bermain air dengan kuda-kuda itu. Aku tertawa geli memikirkannya, aku keluar melihat kuda-kuda itu. Aku mengambil selang di belakang dan menarik kuda pertama dan kedua yang akan kumandikan duluan. Ternyata benar, rasanya menyenangkan.
                Aku tertawa memandikan mereka. Tidak susah memang, tapi aku harus basah juga. Tiba-tiba Rio mendekatiku, aku kaget. Dia menggelengkan kepala sambil berkacak panjang.
        “Apa?” tanyaku keheranan,
        “Kau kurang kerjaan atau apa?” tanyanya lagi,
        “Emang kenapa?” tanyaku balik, “Kau mau diam saja disitu atau membantuku memandikan kuda-kuda yang lain?” kataku lagi dan melanjutkan memandikan kuda pertama dan kuda kedua. Kukira Rio akan masuk kedalam tapi tidak, dia menghampiriku dan membantuku memandikan kuda-kuda yang lainnya.

                Kami tertawa senang bersama, kami seperti anak kecil kurang bahagia. Bermain air bersama kuda-kuda, bukannya kudanya yang disiram malah diri kami yang kami siram. Aku bisa tertawa lepas hanya bersama Rio, tak terasa pekerjaan kami memandikan kuda sudah selesai. Pekerjaan kami ditutup dengan memberikan kuda-kuda itu makanan agar mereka kuat saat hiking nanti.
                Tiba-tiba kuda keempat yang sedang diberi makan oleh Rio bersin, kuda itu bersin dihadapan Rio. Tepat didepan matanya Rio, aku tertawa terpingkal-pingkal melihat muka Rio sehabis dikerjai oleh kuda itu.
        “Nadya…” lalu Rio mengejarku dan menyemprotkan air ke arahku, aku tertawa makin geli.
        Lalu Rio menangkapku, “Awas kau ya.” Rio menggelitikku, aku makin bahagia bersamanya.
        “Rio—ampun.” kataku pada Rio. Akhirnya Rio melepaskanku dan kami berdua tertawa bersama.
               
                Setelah aku dan Rio selesai memberikan kuda-kuda itu makan, kami masuk kedalam cottage. Jam 14.00 tepat, kami pun pergi ke kamar kita masing-masing. Setelah mandi, aku menghangatkan makanan yang tadi aku masak dan Rio mulai membangunkan yang lainnya untuk makan siang. Makanan sudah siap ketika mereka datang ke meja makan, “Wow.” kata Ichi dan Ran hampir berbarengan.
        “Aku sudah memandikan dan memberi makan kuda-kuda. Dan aku juga telah merapikan perlangkapan hiking kalian.” kataku pada mereka semua,
        “Kau benar melakukannya?” Tanya Ichi yang tak pecaya, dan hal itu aku langsung mengangguk.
        “Oke, kita berangkat jam tiga.” kata Ichi yang langsung melahap makanannya.

               

Jam 15.00, kami sudah siap melakukan perjalan hiking.
        “Oke, aku akan naik kuda pertama sendiri. Ran dan Harry naik di kuda nomer dua, Gita dan Doni di kuda ketiga. Dan—Nadya dan Rio di kuda nomer empat.” begitulah Ichi memberitahukan instruksi.
        “Kita harus terus bersama, di dalam tas kalian sudah berisi minuman, kompas, bekal, pokoknya perlengkapan hiking. Kita akan naik dan turun gunung, jadi tetap hati-hati.” Ichi mengakhiri percakapan itu sambil naik ke kudanya dengan angkuh.
                Seperti mau perang saja batinku, yang lainnya sudah berada di kudanya masing-masing. Aku dibantu Rio menaiki kuda kami, dan Rio naik setelah aku.
        “Bagaimana perasaanmu.” bisik Rio padaku yang aku yakin hanya aku yang bisa mendengarnya,
        “Well, agak takut tapi aku senang.” aku mengatakan perasaanku dengan jujur dan Rio tersenyum mendengarnya.
        “Let’s go.” suara Ichi sangat bersemangat. Aku memegang tali kuda itu dan Rio juga memegangnya.
         “Jangan takut.” bisiknya padaku, kuda kami jalan mengikuti arah kuda Ichi.
        “Kau tidak takut?” tanyaku padanya “Tidak, aku pernah naik kuda sebelumnya.” kata Rio.
        “Oh, begitu. Pantas.” kataku lagi, sekarang Rio makin mendempetkan badannya dengan badanku “Pemandangannya indah.” kata Rio lagi “Kau benar.” aku setuju dengan pendapat itu.
        “Mau menguji adrenalin?” tanyanya padaku, belum sempat aku menjawab. Rio sudah menyuruh kuda yang kami tumpangi untuk melaju sangat cepat, kuda itu sekarang berlari melewati kuda Doni, kuda Harry, dan hampir menghampiri kuda Ichi “RIO.” kataku hampir berteriak “Tenang saja.” katanya dengan enteng, aku menggenggam tali itu lebih kuat.
                Tiba-tiba kuda kami berhenti, dan aku menghela napas panjang.
        “Welldone, Rio.” kata Ichi pada Rio yang diacungkan jempol olehnya dan ditepuk tangani oleh Doni dan Harry. Aku sadar sudah sangat jauh kuda kami berlari, tapi aku bisa menyaksikan ketegangan muka Ran dan Gita.
        “Bagaimana?” tanyanya padaku,
        “Gila!” kataku padanya, “Kau mau membuat jantungku copot apa?”
        “Maaf, aku hanya kehilangan kendali.” kata Rio sambil mengacak-acak rambutku, kuda kami berada di antara sawah yang hijau.
               
                 Kami mendaki ke atas gunung, melewati perkebunan teh, dan tibalah kami di air terjun yang sangat indah. Kadang kami behenti untuk berfoto-foto. Aku sangat terpesona oleh pemandangan itu, yang lain sudah turun dari kudanya.
        “Kau mau jalan-jalan?” Tanya Rio padaku, langsung saja kuda kami berjalan menjauhi air terjun. Kami tiba di atas bukit yang lebih indah, dengan rumput hijau ditanah, dan didepan kami hamparan bunga liar bermekaran dengan indah. Langit begitu biru dan angin sepoi-sepoi menerpa wajahku.
        “Inikan yang kau suka?” Tanya Rio lagi. “
        “YA.” kataku dengan suara lembut. Tiba-tiba kuda kami berjalan lagi dan diam di tengah-tengah hamparan bunga-bunga, aku berteriak kencang-kencang. Rio tersenyum melihatnya,
        “Aku suka banget.” kataku lagi,
        “Aku juga suka.” Rio turun dari kuda dan membantuku turun juga, kami kayak sedang bermain di Hollywood. Kejar-kejaran, petak umpat, benar-benar menyenangkan.

                Tiba-tiba aku berlari tanpa melihat jalan “NADYA…” Rio berteriak kepadaku, tak tahunya aku sudah terguling-guling kedalam jurang yang tidak dalam tapi langsung membuatku luka-luka. Darah mengalir dari kakiku dan mulutku, semua hitam pekat. Aku bisa merasakan mimpi itu seperti terulang lagi, napasku terpingkal-pingkal, sesak rasanya.
                Jantungku sakit “Rio.” aku memanggil tanpa suara, tiba-tiba ada suara yang memanggilku dan sosok itu menghampiriku tapi semuanya lenyap.

                Rio menggeletakkan badanku, aku mulai tersadar. Sekelilingku sudah gelap gulita sekarang.
        “Nadya.” ada yang memanggilku dan aku sudah sadar sekarang.
        “Kau tidak apa-apa?” Tanya suara itu. Begitu aku melihatnya, dia adalah Rio. Aku lega karena sudah melihatnya, aku tersenyum dan berkata “Dimana kita?” tanyaku masih sedikit pusing “Masih ditempat tadi, yang lain pasti sudah pulang.” kata suara itu dengan cemas.
               
            Lalu Rio menggendongku dan menaruhku di atas kuda, Rio naik ke kuda dengan gesit. Kepalaku bersandar di dadanya, kuda itu berjalan perlahan. Badanku sakit semua, letih rasanya.
            “Bertahanlah.” kata suara itu lagi, aku kedinginan. Udara pegunungan sangatlah membuatku beku, aku sesak napas lagi. Tapi Rio langsung mengenakan jaket yang ia pakai ke dalam tubuhku dan Rio memelukku untuk melindungiku. Aku menggigil kedinginan, badanku gemetar.
        “Nadya..” kata suara itu makin cemas,
        “Tenang ada aku disini, bertahanlah.” suara itu begitu lembut tapi bisa menenangkanku, aku memeluknya lebih dalam sekarang. Kulihat sekilas, wajah Rio sangat cemas dan pucat.
        “Rio.” kata suaraku entah dia dengar atau tidak,
        “Apa sayang?” katanya lagi sambil melihat ke arahku.
        “Kau sakit.” suaraku khawatir sekarang.
        “Tidak.” suara itu melemah, “Berhenti.” kataku tiba-tiba, kuda itu berhenti.
        “Bisakah kita cari rumah terdekat?” tanyaku padanya, Rio tersenyum
        “Tak mungkin, Sayang. Ini pegunungan, tenang aku hapal jalannya.”
        “Kau yakin?” tanyaku lagi, “Aku yakin, kita akan selamat.” aku memandanginya dengan cemas, kaki rasanya mati rasa.
Hujan tiba-tiba menguyur kami, astaga. Tambah berat penderitaan kami “Rio.” suaraku terhalang derasnya hujan “Apa?” Tanya Rio “Maukah kau berhenti, kita berteduh.” kataku hampir berteriak “Sedikit lagi.” kata Rio.

0 komentar:

Posting Komentar