Sensasi Yang Tak Biasa
Keesokkannya, aku bangun sambil menguap lebar-lebar. Aku kaget karena Rio sudah duduk manis di kursi kesukaanku sambil membaca buku.
“RIO.” suaraku hampir seperti teriakan,
“Oh, pagi.” tapi Rio malah tersenyum dan berdiri menuju kasurku dan mencium keningku sambil mengacak-acak rambutku, “Hei.” aku masih beku karena kaget, “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku pada Rio,
“Hari ini kau ada control kan, aku ingin menemanimu.” jawab Rio dengan enteng, “Aku tak mau control, aku bosan.” suaraku seperti mengajak perang.
“Jangan bilang kau takut.”
“Aku tak takut.” tapi aku sadar itu hanya remehan yang tak berguna supaya aku pergi control, “Aku tak akan pergi.” aku menarik selimutku lagi tapi hal itu sudah dicegah oleh Rio, “Bagaimana kalau sehabis itu aku ajak kau jalan-jalan.” permintaan itu langsung aku gelengkan “Aku traktir es krim?” tapi aku menggeleng lagi, “Oke, aku menyerah. Kau mau apa?” memang hal itu yang aku mau, aku pun tersenyum mendengarnya kena dia batinku senyum sumringah, aku pun tertawa
“Aku akan pergi control tapi ada syaratnya.”
“Apa?” suara Rio terdengar cemas sekaligus gelisah,
“Rahasia, aku mau mandi. Tunggulah di luar.” aku langsung menuju kamar mandi dan Rio pergi ke luar dengan pasrah sekaligus senang, di luar Papa Nadya langsung menanyakan sesuatu “Apakah Nadya mau pergi control?” Tanya Papa Nadya pada Rio, “Mau Oom.” Rio menjawab dengan sopan.
“Wah, kamu hebat. Baru kali ini Nadya mau pergi tidak dengan paksaan.” Papa Nadya mengacungkan jempol plus untuk Rio “Terima kasih Oom.” Rio mengatakannya dengan sedikit malu. Mereka pun pergi ke ruang tamu untuk menunggu Nadya selesai mandi. Dua puluh menit aku mandi, begitu selesai aku langsung turun untuk menemui Rio yang sudah menungguku.
“Ayo berangkat.” kataku sambil menarik Rio,
“Tidak sarapan dulu.” mamaku mengingatkan tapi aku menolaknya,
“Da, aku berangkat ya.” aku sudah tak sabar untuk pergi,
“Saya permisi dulu Oom, Tante.” aku menarik Rio sangat keras sekarang, seperti biasa hari ini Rio tidak menyetir sendiri. Aku dan Rio duduk di bangku belakang dan kami pergi menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, aku langsung menarik Rio masuk kedalam,
“Sabarlah, sayang.” tapi hal itu tidak aku gubris aku terus menarik Rio. Setibanya di dalam ruangan dokter, aku menggenggam tangan Rio sangat keras, ketika dokternya pergi sebentar Rio menanyakanku
“Kau takut ya?” setelah bertanya Rio langsung ketawa tertahan,
“Enak saja, aku engga takut.” tapi begitu aku ingat jarum suntik, aku jadi keringat dingin.
“Tuh, kan. Bener,” karena tak terima aku mencubit tangan Rio keras-keras, tapi hal itu aku hentikan karena dokter telah masuk bersama papaku.
“Papa?” aku kaget melihat Papaku datang untuk memeriksa kesehatanku, aku berbaring di tempat tidur dengan Rio berada di sebelahku ketika Papaku menekan jarum suntik ke lenganku dan mengambil darahku, aku memejamkan mataku karena kesakitan. Rio yang berada di sampingku langsung menggenggam tanganku erat sekali. Ketika sudah selesai, aku lega karena sudah berakhir dan Rio membantuku untuk berdiri.
“Welldone.” Papaku berkata dengan bangga,
“Kau boleh pergi Nadya, dan terima kasih Rio karena sudah menemani anakku.” lanjut Papaku pada kami berdua. Kami keluar dari ruangan itu dengan tenang, tapi tangan Rio masih menggenggam tanganku erat.
“Ehem..” aku berdeham kecil yang langsung membuat Rio melepas genggamannya,
“Maaf.” Rio tampak malu mengatakannya, “Well, syaratnya.” Rio bertanya padaku, tapi aku pura-pura lupa dengan syarat itu.
“Yang mana?” melihat respons Rio aku langsung tertawa geli, “Okeh, aku mau menunjukan sesuatu padamu.” aku mengatakan maksudku dengan sangat jelas.
“Kemana?” Tanya Rio lagi, “Sudahlah yang penting jalan saja.” aku menarik tangan Rio dan bergegas keluar.
Aku membawa Rio ke tempat dimana aku bisa menjernihkan pikiranku, tempat itu memang seperti hutan, pohon besar masih tumbuh disana. Rumput hijau tumbuh liar disana, jurang sangat curam kalau diperhatikan. Tapi yang paling aku suka adalah, pemandangannya yang sangat indah dengan bunga-bunga bermekaran membuat suasana hati tampak tenang. Aku langsung duduk dibawah kayu ek yang sudah sangat tua, tetapi Rio masih berdiri entah kaget atau keheranan.
“Wow.” suara Rio hampir tak terdengar olehku.
“Indah kan.” aku mengatakannya sambil menghirup udara yang segar itu,
“Nadya.” Rio langsung mendekati wajahku, sangat dekat.
“Kau tahu apa yang kurasakan?” Tanya Rio lagi, napasnya menerpa wajahku.
“Aku tidak-- tahu.” jawabku hampir tergagap.
“Aku merasa sangat senang.” dia mengatakannya sambil menutup mata,
“Jangan bergerak.” katanya lagi, spontan aku terdiam dan memperhatikan gerakannya, “Tahan, sebentar.” aku tidak sadar kalau wajah kita sudah sangat dekat sekarang, sangat, sangat dekat.
Tiba-tiba entah mengapa aku menutup mataku, dan merasakan napasnya menerpa wajahku lebih hangat. Aku bisa merasakan bibirnya menyentuh bibirku, tapi aku tak kuasa menghentikannya. Kini bibir Rio melahap bibirku semakin dalam, ketika aku sadar Rio telah melepaskan bibirnya dari bibirku. Aku merasakan sensasi yang tak biasa.
“Maafkan aku Nadya,” Rio tampak menyesal, “Aku bego, aku bodoh. Aku terbawa suasana tadi. Maafkan aku.” katanya lagi seperti menyalahkan dirinya sendiri, aku heran dengan sikapnya.
“Terima kasih, Rio.” kata-kata itu keluar begitu saja, Rio langsung menoleh ke arahku dengan tampang keheranan.
“Kau tidak marah?” Tanya Rio lagi,
“Untuk apa?” Tanyaku balik.
“Tentang ciuman tadi.” kini suara Rio tampak malu,
“Tak masalah, hanya ciuman seorang sahabat.” aku mengatakannya sambil tersenyum.
“Jadi, arti ciumanku tadi hanya untuk seorang sahabat?” sekarang muka Rio tampak dingin.
“Ya, kita memang sahabatkan?” Tanyaku semakin heran,
“Selama ini kau tidak peka apa? Aku… aku itu…”
“Sahabatmu.” aku mengatakannya dengan penuh kemenangan,
“Nadya, selama ini kau tidak sadar kalau aku---- menyukaimu. Kau tidak sadar apa?” sekarang Rio tampak lebih galak yang pernah kulihat, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu yang aku rasakan sekarang adalah; kaget dan tidak percaya,.
“Selama ini juga aku udah nunjukin rasa cinta itu. Tapi kamu--- sudahlah, toh kamu juga gak akan ngerti dengan perasaan ini, yang kau suka hanya Harry.” mendengar nama itu hatiku semakin hancur. Rio lalu menarikku untuk pergi dari tempat itu, tapi aku menahannya supaya tidak pergi dulu.
“Apa yang kau katakan?” aku mulai sadar dari pikiranku, “Kau ini bego atau tolol, masa dari tadi aku ngomong gak ngerti juga. Aku suka padamu, aku cinta sama kamu Nadya.” perkataan itu membuat hatiku semakin teriris pisau yang sangat tajam, aku tak tahan menahannya. Rasanya aku ingin meledak, akhirnya air mataku keluar dari mataku dan emosiku meluap.
“KAU— tidak pernah tahu ISI HATIKU.” aku marah sekaligus sedih, aku langsung pergi meninggalkan Rio disana tapi Rio mengejarku.
“Nad, maaf.” Rio menarik tanganku sambil memohon.
“Ijinkan aku mengantarmu pulang.” permintaan itu aku setujui. Di dalam mobil kami hanya duduk dalam diam, sesampainya di rumahku aku langsung keluar dari mobil dengan air mata yang semakin deras mengalir, kubuka pintu sekencang-kencangnya sampai papa dan mamaku kaget melihatku dan Rio datang, aku langsung menuju ke kamarku tapi Rio sudah menarikku lagi, aku mencoba melepaskannya dengan sekuat tenaga, untung usaha itu tidak sia-sia. Ketika aku sudah lepas, segera aku berlari menuju kamarku tapi Rio tak mau menyerah dia berlari mengikutiku, sebelum dia menahanku lagi aku sudah membanting pintu kamarku tepat didepan hidung Rio, aku langsung mengunci kamarku dan menangis sekeras-kerasnya. Rio mengetuk pintu kamarku dan berkata “Maafkan aku Nadya, aku tak bermaksud. Please, ijinkan aku masuk dan menjelaskannya.” suara itu tampak begitu lembut dari biasanya dan hal itu malah membuat hatiku tampak lebih hancur. “Pergi, pergi. Aku tak mau melihatmu lagi.” aku berusaha marah tapi aku tak bisa, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis. “Baiklah aku akan pergi, tapi tolong maafkan aku.” Rio menyerah sekarang. Di pikiranku sekarang aku ingin sendiri dan menangis sepuasnya. Rio pergi, tapi Papa Nadya sudah menghadang Rio dengan garang, “Apa yang kau lakukan pada putriku?” Papa Nadya sangat marah sekarang tapi hal itu ditenangkan oleh Mama Nadya “Sudahlah, dia butuh pikiran jernih sekarang.” suara itu membuat hati Rio terbuka “Maaf, Oom. Tante. Saya sudah mengecewakan kalian.” Rio hampir menangis saat itu juga. “Sudahlah Rio, kami mengerti. Pulanglah biar Tante yang akan berbicara pada Nadya.” Mama Nadya membelai rambut Rio, dan Rio pamit pulang dan berjanji akan memperbaikinya.
Tiga hari sudah, aku mengurung diri di kamar. Yang aku lakukan cuma mandi, makan, tidur, dan menulis di blog-ku. Setiap malam aku menangis dan di pagi hari yang aku lakukan hanya diam memandang langit. Mamaku berusaha berbicara padaku tapi aku terus menolak, Rio juga sering menghubungiku dan kadang menemuiku tapi hal itu aku tolak mentah-mentah. Aku masih shock dan tidak percaya, tapi pada suatu malam. Disaat Rio menelponku, ingin sekali aku mengangkatnya. Kujawab telpon itu.
“Halloo.” suaraku terdengar ketus,
“Oh, hai.” jawabnya yang mungkin kaget aku mengangkat telponnya.
“Ada apa?” tanyaku lagi,
“Masih marah?” Tanya Rio padaku.
“Emm…” aku bingung mau jawab apa, “Maybe.” kataku lagi,
“Maaf ya. Please.” Rio mulai memohon padaku.
“Engga janji ya.” suaraku seperti anak nakal sekarang,
“Terserah dech.” suara Rio terdengar kesal, “Lusa, anak pelangi pada mau ke puncak. Ichi berkali-kali menelponmu tapi kau reject.” aku kaget mendengarnya, kukira selama ini yang menelpon Rio tapi Ichi. Astaga, bodohnya diriku.
“Mau ngapain?” tanyaku balik,
“Makanya jangan melamun terus. Ran berhasil menulis novelnya yang pertama, launching-nya di puncak. Yang datang banyak sekali. Mau ikut tidak?” aku masih memikirkan banyak hal sekarang, ternyata selama ini aku terputus dari dunia luar. Bahkan sahabatku sendiri aku sampai lupa.
“Nad.” suara Rio memecahkan lamunanku, “Oh, baiklah.” jawabku.
“Aku sudah minta izin pada orang tuamu, dan aku sendiri yang akan menjemputmu. Yang lain naik mobil Doni dan Harry, Ichi menyerahkanmu padaku.” aku kaget mendengarnya, seperti bingkisan saja pake serah terima segala.
“Ha ha ha ha.” aku ketawa karena memikirkannya “Kenapa kau.” Rio keheranan mendengarku. “Bagaimana?” Tanya Rio lagi,
“Baiklah, aku ikut. Untuk berapa hari.?” tanyaku lagi,
“Kalau anak pelangi untuk lima hari.” jawabnya lagi, “Anything else?” aku menanyakannya. “Nothing.” tanpa salam aku langsung menutup telponnya. Aku menunggu dua hari dengan menonton TV dan bermain bersama adikku. Mama dan Papaku mungkin sudah lega karena diriku balik lagi.
Lusa. Hari ini aku berangkat ke puncak bersama Rio. Jam 08.00, Rio menjemputku di rumah. Aku masih malu dengan kejadian tempo lalu, “Tante, saya bawa Nadya ya.” kata Rio pada Mamaku, “Ya, jaga dia baik-baik.” Mamaku menjawab sambil mendorongku ke pelukan Rio, aku berpamitan pada Mamaku dan mencium pipinya. Kami berjalan keluar rumah, “Gak usah sok baik sama Mamaku.” kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa melihat ekspresi Rio aku langsung masuk kedalam mobil. Aku bisa merasakan Rio kesal dengan sikapku. Rio masuk dua menit kemudian, dia menjalankan mobil dan melaju pergi dari rumahku.
Di perjalanan, kami hanya diam membisu. Tiba-tiba Rio bertanya sesuatu padaku “Bagaimana kondisimu?” aku terlonjak kaget “Baik kok. Kenapa?” aku bertanya balik “Mamamu menelponku terus mengenai kondisimu. Sekali lagi maaf.” Rio berkata tanpa melihat ke arahku. Aku makin kesal karena Mama telah memberitahukan hal itu pada Rio. “Kukira kau sudah tak peduli lagi padaku.” nada suaraku terderngar sinis “Kau masih marah padaku?” hal itu sudah kudengar berkali-kali dari mulutnya.
“Kau tidak capek apa bertanya itu terus padaku.” mimik mukaku terlihat sangat kesal “Tak akan pernah.” jawabnya lagi. “Entahlah…” aku bingung harus berkata apa. Setelah itu kami kembali diam, karena bosan kukeluarkan ipod-ku dan mulai mendengarkannya.
Kami tiba di puncak jam 10.00. Di sana yang lain sudah menunggu kami. Begitu keluar dari mobil aku langsung memeluk Ran dan mengucapkan selamat padanya. “Ayo masuk, biar sekertarisku yang membawa barangmu.” Ichi langsung menyuruh seseorang membawa barang-barangku. Sebelum masuk aku melihat ke arah Rio, dia sudah berkumpul dengan Harry dan Doni. Aku masuk ke kamar yang sudah disediakan, cottage itu sangat besar. Setelah sampai kamar, Ran, Gita dan Ichi pergi meninggalkanku untuk berbenah-benah. Tiba-tiba kepalaku pusing bukan main, badanku keringat dingin, napasku sesak seperti kehabisan udara. Aku memutuskan untuk duduk di kasur dan bersandar. Rasanya lebih baik memang, tidak lagi batinku memohon pada diriku sendiri. Ada seorang yang mengetuk pintu kamarku, Harry masuk ke kamarku. Spontan aku langsung bersikap biasa.
“Suka?” Tanya Harry padaku, sekilas aku tak mengerti maksud dari perkataan itu. Tapi aku sadar dia menanyakan soal kamar ini. “Ya.” jawabku. “Kapan launching-nya?” tanyaku lagi “Nanti malam, kau sudah menyiapkan gaun kan?” tanyanya padaku “Tentu.” aku menjawab sambil tersenyum sumringah. “Aku mau istirahat sebentar. Bolehkan?” suaraku seperti sedang mengusir. “Oh, baik.” Harry meninggalkanku sendiri. Ketika sendiri, kepalaku berdenyut semakin keras jantungku serasa mau copot. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur.
Makan siang. Aku terbangun karena Ran memberitahukan untuk makan siang. Aku kembali segar tapi tetap saja kepalaku masih berdenyut sakit sekali. Aku ke meja makan, disana semua sudah berkumpul.
“Hai.” sapaku kepada mereka semua,
“Bagaimana tidurmu?” Tanya Harry padaku,
“Baik.” aku duduk disamping Rio, aku takut kalau Rio akan melihat kondisiku yang kurang baik. Kami makan dengan nikmat dan setelah makan, kami siap untuk mendekorasi ruangan untuk nanti malam. Sore sudah menyapa, persiapan sudah selesai. Tiba-tiba kepalaku bertambah sakit.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Doni yang menanyaiku “Aku baik.” jawabku sambil tersenyum. “Lebih baik kita siap-siap aja dulu, acara dimulai jam 20.00.” kata Ran yang menjelaskan, kami semua pun kembali ke kamar masing-masing. Ketika aku masuk ke kamarku dengan muka yang kesakitan, kulihat Rio sudah menungguku disana.
Aku kaget dan ingin berteriak “Apa yang kau lakukan disini.” perkataan itu membuatku tambah pusing “Ada apa denganmu?” tanyanya lagi. “Aku baik kok.” jawabku sambil bersikap biasa, “Bohong.” sekarang muka Rio hampir marah “Rio, aku sangat baik. Sekarang tinggalkan aku sendiri.” aku menarik tangan Rio dan mendorongnya keluar. Setelah itu gak tahu kenapa air mataku jatuh begitu saja, aku gak mau bohong sama Rio tapi itu yang terbaik.
Waktu menunjukan pukul 19.30, aku bersiap-siap untuk ganti baju. Jam 20.00 tepat aku selesai berdandan, dengan mengenakan gaun warna merah. Tidak panjang tapi menjuntai indah kebawah, make-upku juga biasa. Rambutku sengaja kugerai. Kudengar orang-orang sudah datang berkumpul dan suara tepuk tangan menghiasi ruang tamu di luar, spontan kepalaku berdenyut lebih keras. Ada seseorang yang mengetuk kamarku dan masuk.
“Nad. Siap?” Harry bertanya padaku, aku langsung bersikap biasa.
“Siap.” kataku sambil tersenyum. Harry mengulurkan lengannya, dan mengatakan “Kau cantik.” pertama aku linglung tapi akhirnya aku meraih tangannya dan keluar ke kerumunan orang-orang yang telah hadir. Ran sudah barada di atas panggung, dia mengucapkan terima kasih pada para tamu. Kami berkumpul untuk melihat Ran, pinggangku dirangkul oleh Harry. Semua mata tertuju pada Ran tapi aku merasakan kalau mata Rio melihat ke arahku, aku langsung memalingkan mukaku. Ketika Ran selesai pidato, acara dilanjutkan dengan membuka botol bir, setelah hal itu dilakukan semua orang di ruangan itu bertepuk tangan.
Entah apa yang terjadi, kepalaku bertambah sangat, sangat pusing. Aku terhuyung beberapa kali, aku berterima kasih karena Harry masih memegangku. Kupegang kepalaku, suasana di ruangan itu membuatku tambah tidak karuan. Semua hitam, badanku lemas, akhirnya aku tak tahan menompang tubuhku. Aku pingsan tapi aku masih sadar, badanku hanya lemas.
“Nadya.” Harry mengangkat badanku tapi aku tak bisa menjawab, aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku, sahabat-sahabatku pun menghampiriku.
“Bawa dia ke kamar.” aku tahu itu suara Ichi tapi ada yang mencela pembicaraan itu “Biar aku yang membawanya.” suara Rio membuat kaget orang-orang dan dia merampas paksa tubuhku dari Harry. Rio benar-benar mengangkatku sekarang, “Nadya.” suara yang aku kenal itu adalah suara Ran “Lanjutkan pestanya, biar aku yang mengurusnya.” Rio membawaku keluar dari kerumunan orang, “Aku baik.” suaraku entah terdengar atau tidak, tapi aku merasa nyaman berada di pelukannya. Rio membaringkanku di pangkuannya, sakitku sudah mereda sekarang.
“Kau udah berjanji kan!” suara Rio terdengar marah,
“Maaf, aku tak mau merepotkanmu.” suaraku parau,
“Kau tak pernah merepotkanku, aku sudah berjanji padamu.”
“Terima kasih.” kini Rio mencium rambutku, dahiku sampai ke leherku tiba-tiba aku merasakan sensasi yang tak biasa lagi. Jantungku berdebar karena gugup, sekarang wajah Rio mendekatiku dan aku bisa merasakan untuk kedua kalinya bibir Rio menyentuh bibirku. Tapi aku tidak menolak, aku malah merespons ciuman itu.
“Kau lebih baik?” tanyanya setelah melepas ciuman itu,
“Iya, dimana kita?” aku sadar kalau ini bukan kamarku, aku dan Rio bersandar di bawah pohon yang besar di depanku ada danau yang indah, banyak lampu-lampu kecil menghiasi tepi kolam kukira aku berada di surga yang nyaman.
“Indahkan?” aku menganggukan pernyataan itu, “Sepertinya acara sudah selesai.” bisiknya kepadaku “Kau mau kembali?” tanyanya lagi, aku mengangguk untuk kedua kalinya tapi badanku tidak dia turunkan melainkan digendong lagi “Rio, aku sudah baik. Turunkan aku.” aku menyuruh Rio menurunkanku, badanku kedinginan akhirnya Rio melepas dan memakaikan jasnya untuk membuatku hangat dan memeluk pinggangku supaya aku tidak jatuh. Kami berdua pun pergi dari tempat itu dan masuk kedalam cottage.
Ketika sampai di dalam, semua orang memang sudah pergi dari sana. Melihatku datang, Ran langsung memelukku begitu pula dengan Gita dan Ichi. “Kau kenapa?” Tanya Gita “Aku tak suka keramaian.” jawabku sambil tersenyum “Ladies, biarkan dia ke kamar.” kata Doni yang dianggukkan oleh Harry sekilas aku melihat ke arah Rio. Mukanya bukan muka Rio yang biasanya. Ichi, Gita, dan Ran meninggalkanku di kamar, langsung saja aku ganti baju dan mengenakan baju tidur. Setelah keluar dari kamar mandi aku tidak kaget ketika Rio sudah menungguku di kasur, aku tersenyum padanya.
“Kau tidak tidur?” aku bertanya padanya,
“Aku ingin melihat kondisimu.” yang juga tersenyum,
“Jangan katakan pada Mama dan Papaku ya.” aku memohon kepadanya, “Engga janji ya.” senyum Rio bagiku adalah senyum kemenangan.
“Oke, aku sudah gak marah padamu. Terima kasih.” mukaku seperti air yang direbus, dan Rio ketawa melihat mukaku. Mau tak mau aku ikut ketawa juga, aku senang punya sahabat seperti Rio karena dialah yang telah membuatku menjalani hidupku yang terbilang hanya menunggu kepastian.
“Aku ingin tidur.” kataku karena dari tadi kelopak mataku sudah tak bisa berkompromi.
“Baiklah tuan puteri. Selamat malam.” sebelum keluar dari kamarku, Rio mencium keningku terlebih dahulu aku pun mencium pipinya dan kucubit sekeras-kerasnya, dia ngibrit keluar kamarku. Kupandangi tingkah lakunya yang membuatku tertawa geli, aku pun naik ke tempat tidur dan terlelap.
Pertengkaran…
Keesokkannya, aku dibangunkan oleh Gita. Jam 07.00 aku baru bangun, dasar kebo. Tumben-tumbenan aku bangun jam segini, mimpi apa aku semalam. Setelah berterima kasih pada Gita, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, aku kaget melihat Doni sudah menungguku.
“Doni.” aku kaget karena muka Doni terlihat sangat kesal.
“Apa yang dilakukan Rio semalam?” Tanya Doni padaku,
“Apa maksudmu?” aku benar-benar kaget dan heran dengan pertanyaan itu, lalu Doni merampas tanganku membantingku ke tembok.
“Katakan…” aku takut sekarang, aku tidak pernah melihat Doni semarah ini, wajahnya sangat dekat sekarang. “Apa hubunganmu dengan Rio?” aku tak bisa menjawabnya, mataku berair.
“Aku melihat kau berciuman dengan Rio di danau, kalian punya hubungan apa?” air mataku keluar sekarang, walau suara Doni terlihat biasa tapi dengan mukanya yang seperti itu membuatku sangat takut dan yakin kalau dia sangatlah marah.
Kepalaku pusing lagi, napasku terpingkal-pingkal, jantungku memompa sangat keras sekarang. Tiba-tiba Doni berusaha menciumku, tapi kutolak ciuman itu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri tapi Doni mencengkramku kuat sekali. Tak banyak udara disini, sesak rasanya.
Aku ingin teriak tapi tidak bisa, “KALAU KAU TIDAK MAU JAWAB, AKU AKAN MENCIUMMU DENGAN PAKSA.” suara Doni membuatku takut, aku meronta sekuat tenaga. Doni berhasil mencium leherku, tangisku makin menjadi-jadi. Kutendang perutnya dengan kakiku, Doni melepaskanku tapi dia tidak menyerah dia masih menarikku lagi dan melemparkanku ke kasur. Rasanya jantungku mau lepas dari tempatnya, Doni menaiki badanku yang teras lemah dan dia masih berusaha menciumku lagi “Doni, jangan.” aku berusaha mengatakannya. Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dengan paksa. Rio datang dan langsung menghajar Doni, badanku lemas seketika. Rio memukulnya sangat keras “APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?” Tanya Rio sangat murka, aku masih terisak di tempat.
Seketika itu juga yang lain masuk, Harry berusaha melerai perkelahian antara Rio dan Doni. Sementara Ran, Gita dan Ichi menenangkanku yang masih lemas di kasur.
“CUKUP, BERHENTI!!” Harry benar-benar marah sekarang, tiba-tiba tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Doni dan Rio “SADAR…” kata Ichi sama marahnya seperti Harry, “Kalian jangan bersikap kayak anak kecil.” omongan Ichi membuatku sadar kalau dia sangatlah bijaksana.
Doni duduk menyandar di tembok sama seperti Harry yang berusaha menenangkan pikirannya sementara Rio menghampiriku tapi hal itu dicegah oleh Gita, “Tenangkan dirimu dulu.” suara Gita membuat Rio melakukan hal yang sama seperti Harry dan Doni. Ichi kembali ke tempat tidurku, napasku tidak wajar. Aku merasa seperti ajal sudah mau menjemput. Tapi Ran memberikanku minuman yang membuatku lebih rileks, Gita dan Ichi membenarkan posisi dudukku dan aku mulai menangis di pelukan Ran.
“Oke, kalian berdua.” Ichi menunjuk ke arah Rio dan Doni,
“Cukup bodohkah kalian untuk melakukan ini?” suara Ichi terdengar lebih tenang sekarang “Dia yang mulai duluan.” kata Doni, Rio menelengkan kepala ke arah Doni “Aku tak akan melakukannya kalau bukan kau duluan yang mulai.” suara Rio sangat garang “Cukup.” kata Ichi menetralkan.
“Doni, apa yang kau lakukan pada Nadya?” Ichi memulai dari Doni “Aku hanya bertanya pada Nadya, itu saja.” Doni menjawab dengan tenang.
“Bohong.” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, “Dia berusaha-- menciumku.” aku melanjutkannya. Ichi kembali melihat Doni “Memang, lalu apa masalahnya?” mendengar hal itu membuat Harry emosi lagi, dia sudah hampir menghampiri Doni tapi untung saja hal itu dicegah oleh Gita.
“Kau keterlaluan, Doni.” suara Ran begitu lembut dan berhasil menenangkanku, “Kemarin malam aku melihat Nadya dan Rio berciuman di danau.” kata-kata itu membuat yang lain menoleh ke arahku lalu ke Rio. Aku pun memasang muka tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Doni begitu pula dengan Rio, “Apa benar begitu Nadya?” sekarang Ichi bertanya ke arahku, aku bingung mau jawab apa.
Sekilas aku melihat wajah Rio yang mengatakan Jangan katakan. Tapi aku tahu apa yang harus kukatakan “Kalau benar kenapa?” Tanyaku pada yang lain.
“Kau bercanda?” Tanya Gita tak percaya,
“Benar. Dia menciumku, tapi itu hanya upaya untuk menenangkanku.” aku harap usahaku tidak sia-sia, “Aku—menciumnya duluan. Bukan Rio yang salah. Itu juga hanya ciuman untuk seorang---“ aku berhenti sejenak, suasana sepi ketika aku berhenti bicara. Sekilas aku melihat Rio yang tak percaya dengan perkataanku dan aku melanjutkan “---sahabat.” dan aku lega telah berbohong kepada yang lain.
“Dan Rio…” sekarang Ichi berbicara kepada Rio, aku takut jawabannya tak sama dengan pemikiranku. “Kenapa kau tidak menolaknya?” pertanyaan Ichi membuat yang lain heran, kupikir Ichi mengetes kami.
“Kenapa tidak. Nadya adalah sahabatku, dan aku tak bisa menolaknya karena--“ Rio melihat ke arahku dan melanjutkan “--- keadaannya sangat kacau semalam. Kupikir itu akan membuatnya tenang, dan dia memang lebih tenang setelah kita berciuman.” aku lega karena jawabannya sesuai dengan pemikiranku.
“Well, aku mengerti.” kata Ichi tiba-tiba. “Dan kau Doni.” aku hampir melupakan sekelilingku, “Aku tak terima dengan perlakuanmu. Dan Nadya--” aku kaget karena Ichi telah berbicara padaku lagi “Hukuman apa yang tepat untuknya?” dia menanyaiku lalu aku mejawab “Kenapa tak kita maafkan saja, kupikir ini hanya salah satu bentuk--- kesalahpahaman.” perkataan itu membuatku senang dan aku tersenyum setelah itu.
“Baiklah, masalah sudah selesai. Ayo kita pergi, kita harus mempersiapkan makan siang. Dan Doni dan juga Rio--” Ichi menunjuk mereka dengan garang “Jangan lupa, berbaikan.” setelah itu Ichi keluar dari kamarku diikuti dengan Gita, Ran, dan Harry. Doni dan Rio bersalaman di hadapanku, setelah selesai bersalaman Doni berkata padaku “Maaf.” dia langsung keluar dan meninggalkanku berdua dengan Rio.
“Kau jenius.” suara Rio hampir tak bisa terdengar tapi hal itu aku mengerti,
“Aku juga heran…” aku tertawa karenanya,
“Bagaimana kau bisa tahu Doni ada disini?” tanyaku lagi.
“Feeling. Perasaanku tak enak, aku terus memikirkanmu.” muka Rio tampak malu, “Oh.” jawabku.
“Nadya,” Rio sekarang duduk di kasurku, “Jangan sekarang.” aku memberitahukannya.
pelangi dengan tujuh sahabat (part 3)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar