Buscar

Little Author

Pelangi dengan tujuh sahabat (part 1)

PROLOG

Ada sekelompok sahabat yang sedang mencari jati diri mereka masing-masing. Mereka berharap persahabatan itu akan menjadi sebuah pelangi yang indah, menjadi matahari yang akan selalu terang selamanya dan akan menjadi bulan di malam hari yang akan menemani di saat gelap dan tentunya akan abadi selamanya.

Mereka tujuh orang sahabat yang saling melengkapi satu sama lain, pada saat suka maupun duka, walau berbeda karakter mereka akan tetap saling melengkapi dan mengisi kekurangan itu dengan tetap bersama. Harry, dia adalah cowok yang pemberani, tak takut dengan apapun, tetapi kelemahannya adalah dia sangat protektif. Dia juga pandai dalam memecahkan kasus dan serba ingin tahu. Nadya, dia adalah cewek yang penyayang, dia sangat suka dengan hewan dan tumbuhan. Kelemahannya adalah dia paling tidak suka kalau ada binatang yang disakiti. Rio, dia adalah tipe cowok yang sabar dan pengertian. Walau demikian dia sosok yang percaya diri, mudah dipercaya dan setia kawan, tetapi kelemahannya adalah dia takut dengan serangga. Ichi, dia adalah tipe cewek yang pandai menyelesaikan apapun, hampir semua temannya yang terkena kesulitan selalu dibantunya, tetapi kelemahannya adalah dia sosok yang ceroboh. Gita, dia adalah cewek yang lemah lembut, tak pernah berbuat kasar. Kelemahannya adalah sering menangis. Ran, dia adalah cewek yang sopan, dia dikenal dengan sebutan kutu buku, dia juga pintar, serba tahu, dan sering mendapatkan penghargaan, tetapi kelemahannya adalah dia mudah dikerjai oleh teman-temannya. Doni, dia adalah cowok yang pengasih. Dia tidak tega dengan pengemis jalanan, pengamen, dan anak-anak yang tidak sekolah. Dia selalu membantu anak langit untuk mencukupi kehidupannya. Dia cowok yang dikagumi oleh semua anak cewek di sekolah, dia juga kaya tetapi dia tidak sombong. Kelemahannya adalah dia mempunyai sifat tempramental.

Aku beruntung menjadi bagian dari mereka, namaku Nadya. Aku bersyukur karena punya sahabat yang begitu hangat. Kami selalu bersama dalam menghadapi apapun, walaupun berbeda karakter tetapi kami selalu tetap bersatu, jika ada masalah dibicarakan dengan cara kekeluargaan dan dibicarakan baik-baik. Tokoh yang kami gemari adalah Sherlock Holmes, comic yang kami sukai adalah Conan dan film yang kami cintai adalah Harry Potter dan Twilight. Kami menyukai pelajaran-pelajaran yang menurut teman-teman kami sulit. Kadang kami belajar bersama untuk menyelesaikan pelajaran yang sulit, dengan dibantu oleh Ran pastinya. Kami juga percaya dengan keajaiban. Kadang kami membantu teman-teman yang kesulitan, menjaga kelestarian alam, melindungi hewan, membuat dana sosial untuk membantu korban bencana alam, kami juga pernah terjun langsung ke lokasi bencana alam, maka dari itu kami sangat dibanggakan oleh guru-guru dan menjadi panutan oleh teman-teman sebagai pejuang bangsa berikutnya. Kami menamai diri kami dengan Anak Pelangi.

Pertemuan Yang Tak Terduga…..

Minggu telah berlalu, bulan telah berganti, serta tahun telah maju. Kami telah menempuh hidup yang baru, dan mempunyai jalan kehidupan masing–masing. Harry, melanjutkan profesi ayahnya sebagai detective. Aku, telah menjadi dokter hewan yang paling terkenal. Ichi, menjadi dokter terkenal yang ramah pada pasiennya, dia juga mempunyai rumah sakit yang besar dan bersih. Gita, menjadi guru taman kanak–kanak terkenal di salah satu TK terkenal dan terkaya. Doni, menjalankan perusahaan milik keluarganya yang tak kalah terkenal. Ran, menjadi duta pendidikan, dia memiliki perpustakaan dan toko buku terbesar. sementara Rio, menjadi artis terlaris dan terkaya.

Kami tidak sengaja bertemu di salah satu desa yang masih diselimuti dengan hutan dan gunung, pada saat itu kami melakukan pekerjaan kami masing–masing. Aku dan Ichi memang telah bekerja sama sebagai sesama dokter, pada saat itu kami sedang melakukan penelitian tentang alam sekitar yang nantinya akan di presentasikan ke London, Inggris yang akan membicarakan tentang “BETAPA KAYANYA KEKAYAAN INDONESIA”. Rio yang pada saat itu sedang melakukan syuting untuk filmnya yang akan ditayangkan di seluruh dunia. Ran yang sekarang telah merambat menjadi penulis ini sedang mencari bahan–bahan untuk buku–bukunya nanti, sedangkan Doni yang sedang mempresentasikan hutan Indonesia kepada Duta Kehutanan Amerika. Yang pada saat itu pula, Gita sedang mengajak murid–muridnya mempelajari kekayaan Indonesia. Sedangkan Harry, yang pada saat itu sedang melakukan penyelidikan mengenai pemburuan liar yang sedang update.

Sebenarnya kami sudah jarang berkomunikasi, semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing–masing. Aku dan Ichi duduk sambil berbicara tentang proyek yang kami jalani.
“Chi, bagaimana ya kabar anak pelangi lainnya? aku kangen dengan mereka.” kataku.
Ichi menjawab “ Iya nie, aku juga kagen dengan mereka, pada sibuk sie.”
Tetapi ada sahutan dari belakang “Aku juga kangen dengan kalian berdua.” Aku dan Ichi kaget bukan main dengan suara tersebut yang sebenarnya adalah suara Harry.
Aku langsung memeluk Harry erat–erat.
“Hei, aku tak bisa bernafas” ledek Harry,
Aku pun melepas pelukanku sambil tersipu malu.
“Bagaimana kamu bisa disini?” tanyaku padanya, tiba-tiba ada yang menjawab pertanyaan itu lagi dari belakang “Dan bagaimana kalian bisa disini?” yang tak bukan adalah suara Doni, tanpa tanya kami berempat langsung duduk di mejaku dan Ichi, sehabis itu kami langsung berbincang–bincang dan membuat suara berisik saking hebohnya, maklum kami memang selalu heboh. “Hei, bisa diam tidak sih, aku kan sedang tidur!” kami berempat kaget karena ada yang memarahi kami tetapi kami lebih kaget waktu tahu ternyata suara itu adalah suara Rio, dan Rio pun kaget bukan main melihat kami dan langsung memelukku, “Rio, sakit tau!” bentakku yang berusaha melepaskan pelukan Rio, “Wah, apa kabar nie?” tanya orang dari belakang yang tak bukan adalah suara Gita, yang langsung bergabung dengan kami, “Ayo, kita duduk dan mengobrol.” kata Doni kepada kami semua. Akhirnya kami duduk dan mengobrol tentang aktivitas kami masing–masing yang kadang–kadang disertai dengan tawa, “Bagaimana dengan Ran ya?” tanya Harry kepada kami semua lalu ada sahutan lagi dari belakang yang kami kenal adalah Ran.
“Ada apa denganku? Wah, aku kehilangan banyak cerita niee,” kami semua kaget melihat kedatangan Ran.
Rio langsung ngomong blak-blakkan “Bravo, Anak Pelangi sudah berkumpul.” yang langsung berdiri mendekati Ran “Silahkan duduk, bu duta.” ledekan Rio membuat kami ketawa, memang dari dulu Rio-lah yang membuat semua anak pelangi bahagia dan melupakan semua masalah yang ada. Harry dan Doni pergi ke toilet sebentar, tiba-tiba Doni bertanya “Bagaimana perasaanmu terhadap Nadya? masih sama kayak dulu,” Harry tampak keheranan dan menjawab;
“Apa maksudmu?”
“Gag usah berlagak bego dech, kamu sukakan sama Nadya?”
“Kok kamu ngomongnya gitu sih, aku emang pernah bilang kalau Nadya adalah cewek yang manis dan baik, tapi gak mungkin aku suka sama dia, kita inikan sahabat!”
“Oh, ya. Bohong.”
“Aku serius, kamu kali yang suka?”
Karena kelamaan aku pun menyusul mereka.
“Kalian ngapain sih?” pertanyaanku membuat mereka tersentak kaget.
“Eng …. eng … enggak kok Nad,” gagap Doni menjawab pertanyaan itu sambil pergi, Harry hanya bisa tersenyum padaku “Sudahlah gak usah dipikirin, ayo kita pergi.” ajak Harry kepadaku. Aku pun membalas senyuman Harry dan kami berdua kembali ke meja kami. Anak pelangi lainnya masih ketawa bersama melepas kerinduan selama ini, dan kami berencana untuk liburan ke villa Ichi di daerah Bandung, maka pergilah kami ke Villa itu esok paginya.

Kami berkumpul di food court yang dulu adalah tempat kami berkumpul. Ichi, Doni, Ran, Rio, dan Gita, menaiki mobil yang sama, sedangkan Harry dan aku disatu mobil dengan membawa barang-barang mereka.
Tiba-tiba Harry bertanya padaku ditengah jalan “Nad, aku boleh bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kamu sudah punya pacar belum?”
“Hah?” aku kaget sambil ketawa keras “Kamu nanya apa sih?” lanjutku.
“Kalau gag mau jawab juga gak apa-apa” jawabnya yang sangat dingin setelah itu.
Aku pun menghentikan tawaku dan menjawab “Belum kok.” disertai senyuman “Emang kenapa?” lanjutku,
“Aku hanya ingin tahu saja” membalas senyumanku.
Kami akhirnya sampai di Villa Ichi sore hari, kami menurunkan barang dan menuju kamar masing-masing. Karena mengirit kamar, kami hanya memakai dua kamar saja tapi gedenya minta ampun. Setelah mandi, aku jalan-jalan keluar Villa. Villa itu terletak di daratan tinggi yang sekitarnya terdapat perkebunan teh dan hutan. Aku menghirup udara yang masih segar itu.
“Emm, segarnya.”
“Kau suka?” tanya Rio yang menghampiriku.
“Iya, aku sangat suka. Jarang kan kita menghirup udara sesegar ini. Masa kamu gak ngerasa, apalagi kan jadwal kamu padat?”
“Emang sih, udaranya segar banget apalagi kita sudah berkumpul. Tambah lengkap kebahagiannya.”
“Ada rencana apa selanjutnya?” Tanya Rio melanjutkan,
“Nanti malam ada Barbeque-an. pasti dingin banget.”
“Oh, iya. Seru dong” yang langsung menggelitikiku.
“Rio, geli tau. Udah ah,” aku pun tertawa geli dan berusaha berlari menghindari gelitikan Rio, setelah lepas aku pun meledek Rio yang masih tersenyum, coba aja dia tahu isi hatiku batin Rio yang melihat Nadya masuk kedalam Villa.

Tak terasa malam sudah tiba, hawa disana sangatlah dingin. Setelah semua sudah siap, kami pun berkumpul di halaman belakang dan memulai Barbeque-an. Karena merasa kedinginan, aku pergi ke atas bukit untuk menyendiri. Karena khawatir Harry dengan sengaja mengikutiku dari belakang.
“Nadya…” teriak Harry dari belakang yang memanggil namaku tapi aku masih melanjutkan langkahku. Sesampainya di atas bukit, tiba-tiba aku terhuyung beberapa kali. Dengan sigap Harry pun menangkap badanku yang lemah.
“Nad?” suara Harry terlihat cemas, aku hanya bisa tersenyum.
“Kamu kenapa?” tanya Harry yang semakin cemas.
“Entahlah…” suaraku terdengar parau, akhirnya Harry membaringkan badanku di tanah dengan kepala tergeletak di dadanya. “Ada aku disini” Harry menenangkanku. “Aku baik-baik saja” jawabku dengan suara parau “Kau tidak baik, ada apa?” suara Harry makin meninggi.
“Aku… Aku…” belum bisa aku menjelaskan, aku langsung pingsan di dalam pelukan Harry. Aku digendong Harry kembali ke Villa yang hangat. Di dalam Villa, orang-orang terlihat cemas. Begitu Harry sampai di Villa, Harry langsung masuk ke kamar dan membaringkanku di kasur. Tak diduga Doni langsung memukul Harry sampai Harry terjatuh ke belakang, darah keluar dari hidungnya, “APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?” tanya Doni murka. Rio dan Gita langsung menghentikan Doni, Ichi melihat kondisi Nadya, sementara Ran membantu Harry untuk bangun. “Cukup sudah!” Ichi membentak mereka semua. Doni dibawa oleh Rio dan Gita ke ruangan depan untuk menenangkannya. Dengan sigap Ran mengambil handuk untuk mengompres luka Harry. Setelah itu Ran langsung membantu Ichi untuk menyadarkan Nadya.
“Apa yang terjadi, Harry?” tanya Ran yang mulai cemas.
“Entahlah, dia langsung pingsan.” Harry menjelaskan sambil meringis kesakitan.

Kubuka mataku secara perlahan, dan hal itu membuat Harry langsung duduk disampingku, mereka tampak lega.
“Hai,” sapaku yang masih pucat pasi, “Jangan bercanda Nad, apa yang terjadi?” suara Ran kembali cemas melihat wajahku.
“Well, I’m fine.” jawabku yang masih terdengar lemas tapi Ichi tahu itu adalah suara yang tidak baik.
“Aku dan Ran akan membuatkan bubur untukmu.” sahut Ichi yang langsung menarik tangan Ran, mereka pun meninggalkanku berdua dengan Harry.
“Emm… Aku?” suara Harry tergagap,
“Terima kasih.” suaraku begitu lemas dan membuat Harry langsung tersenyum. “Kau… kenapa?” tanyaku kepadanya karena melihat bekas darah di hidung dan mulutnya, “Well, I’m fine.” hal itu justru membuatku makin cemas, “Katakan…” desakku kepada Harry. Belum sempat dia mengatakan. Rio, Gita, dan Doni yang tadinya diluar masuk ke kamar “Maaf, mengganggu.” sahut Rio yang masuk lebih dulu, “Kau baik, Sayang,” hal itu membuatku tersenyum sekaligus menyadari bahwa sahabat-sahabatku mengkhawatirkan kondisiku, tapi ada yang aneh Doni langsung duduk di kursi dan diam dalam kebisuan “Makanan datang.” suara Ichi memecah lamunanku “Tak perlu,” nadaku seakan mengatakan terima kasih.
“Makanlah, Sayang. Supaya kau baik.” kata Rio yang dianggukkan oleh Harry, Ran, Gita dan Ichi “Oke, baiklah.” jawabku kalah.


Keesokkannya aku bangun dengan wajah yang masih sama pucatnya seperti semalam, hanya ada Harry disana untuk menungguiku. “Kemana yang lain?” tanyaku yang tampak heran “Mereka pergi ke pasar pagi-pagi sekali.” jawab Harry dengan tenang “Oh, begitu,” senyumku membuat Harry tampak canggung lalu Harry mendekatiku dan duduk disampingku. Tiba-tiba Harry mencium keningku. Aku tersentak kaget, tapi aku membiarkannya dan menutup mataku. Bisa kurasakan jantungku berdetak sangat keras aku berharap suara itu tak terdengar oleh Harry. “Terima kasih.” sahutku setelah Harry melepas ciumannya “Kau tampak lebih baik?” kata-kata itu membuatku jadi lega. “Kau…. kenapa?” tanya Harry lagi “Aku hanya pusing, mungkin aku memang tidak kuat dingin, badanku lemas semalam karena kedinginan.” jawabku masih sedikit lemas “Jangan beritahu yang lain!” perintahku kepada Harry “Kenapa?” tanya Harry yang heran dengan perintah itu “Aku tak ingin membuat mereka khawatir.” aku memberitahukan dengan nada sedikit malu “Oke, baiklah.” Harry menyetujui perintah itu. “Kau mau aku suapin bubur, Ichi sudah memasaknya,” Harry bertanya seolah-olah memohon, “Baiklah.” jawabku yang setuju. Harry bergegas ke dapur untuk mengambil bubur dan kembali dengan nampan berisikan semangkuk bubur, air putih, apel, dan obat.
“Buka mulutmu.” perintah Harry yang tampak dingin, “Kemarin kau kenapa?” tanyaku pada Harry yang masih cemas dengan kondisinya semalam. “Aku baik.” Harry menjelaskan, “Kau bohong. Ayolah, aku kan sudah jujur padamu!” desakku kepada Harry “Semalam aku dipukul oleh Doni karena menghilang bersamamu.” jelas Harry yang agak malu, aku terpekik kaget sambil menutup mulutku dengan tangan “Maafkan aku.” suaraku hampir tak terdengar.
“Tak masalah.” sahut Harry dengan tenang, setelah selesai makan aku bergegas untuk mandi. Harry menunggu di luar sambil membaca buku Sherlock Holmes.
“Hei.” aku merampas buku itu dari tangannya “Aku belum punya buku ini, boleh aku pinjam?” pintaku dengan nada seperti anak nakal, tapi setelah melihat mimik muka Harry yang garang aku pun menyerahkan lagi buku itu kepadanya.
“Maaf.” aku melanjutkan dan langsung masuk kembali kedalam tapi tanganku diraih oleh Harry “Aku tak marah,” Harry menjelaskan dengan nada menyesal “Kenapa buru-buru?”
“Kukira kau marah,” aku menimpali lagi,
“Tak pernah,” Harry mempersilahkanku duduk dipangkuannya “Apa ceritanya?” tanyaku pada Harry mengenai buku itu, “Baca saja sendiri.” ledekan Harry membuatku mendesis dan kesal, Harry pun menertawaiku melihat mukaku yang terlihat konyol.

Tak terasa sudah satu minggu kami menginap disana, pada suatu malam percakapan pun terjadi. “Besok pulang yuk.” ajak Rio pada semuanya, “Ayo, sekertarisku sudah menelpon katanya banyak pasien yang datang ingin bertemu padaku.” Ichi ikut nimbrung membicarakannya.
“Ayo dech.”
“Ntar malam kita siap-siap ya, besok siang kita berangkat.” Malamnya kami gunakan untuk berbenah dan kami tidur lebih sore agar bisa bangun pagi-pagi. Keesokkannya, seperti biasa aku bangun lebih pagi dan melakuni hobiku yang baru, pergi memandang langit, semua orang belum bangun pada saat itu. Jam 06.00, Ran, Ichi, dan Gita bangun dan melihat tempat tidur Nadya sudah kosong “Kemana Nadya?” Tanya Ran kepada Ichi, “Paling memandangi pemandangan, emang itu kebiasaannya kayak mau mati saja.” Ran pun tertawa dengan penjelasan Ichi yang tak masuk akal.
Mereka pun pergi mandi, “Non, sarapan sudah siap.” mbok Rum memanggil Ichi untuk sarapan, setelah mandi mereka bergegas ke meja makan,
“Kemana Nadya?” Tanya Harry kepada Ichi,
“Entahlah, sudah makan saja dulu. Nadya tak akan sarapan, dia paling anti namanya sarapan. Ntar juga balik sendiri”
“Aku mau keluar sebentar.” Rio sudah mau keluar untuk pergi,
“Kau gak makan?” Tanya Gita padanya,
“Enggak, makasih.” sambil mengerlingkan matanya dan seraya pergi,
“Dasar, ada-ada aja.” Doni ikut berbicara, tak tahunya Rio mencari Nadya di bukit yang khawatir akan kondisinya. Aku duduk tenang memandangi langit dengan tatapan kosong seperti menunggu hal yang tak pasti.
“Nad.” Rio memanggil sekaligus menepuk pundakku,
“Oh.” aku tersentak kaget dan terbangun dari lamunanku,
“Sedang apa?” Tanya Rio lagi.
“Memandangi pemandangan. Aku boleh bertanya?”
“Apa?”
“Bagaimana kalau aku punya penyakit yang memungkinkan aku akan mati.”
“Kau ini ngomong apa?”
“Jawab aja, aku butuh jawabannya.”
“Dengar Nadya, walaupun kamu punya penyakit apapun, tapi kamu tetap akan jadi sahabatku yang paling berharga. Dan tolong, jangan berbicara seperti ini. Aku sayang padamu.” baru kali ini Rio berbicara se-serius ini.
“Terima kasih, aku juga sayang padamu. Ayo, kita kembali.” kami pun kembali ke villa.

Sesampainya disana, yang lainnya sudah memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
“Dari mana aja sih.” Ichi marah bukan main kepada kami. Harry, Ichi, Gita, Doni di satu mobil yang sama, sedangkan aku dan Rio di satu mobil yang sama.

0 komentar:

Posting Komentar