Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 9)

Ulang Tahun Ichi…

Keesokkannya, aku teringat ulang tahun Ichi yang semakin dekat. Aku pun menghubungi Harry untuk menanyakan. Sempat terlintas di pikiranku untuk membuatkan pesta kejutan untuknya. Sorenya kami semua berkumpul kecuali Ichi tentunya di food court untuk membicarakan pesta kejutan.

“Nah, semua sudah berkumpul.” kataku pada mereka semua,
“Apa tema kali ini?” Tanya Ran,
“Bagaimana kalau detektif.” usul Harry,
“Kita sudah membuatnya tahun lalu. Di hari ulang tahunku.” kata Doni,
“Bagaimana kalau Night Baron?” usul Gita,
“Emm, terlalu susah.” kata Harry,
“Kalau Lupan?” usul Harry lagi, tapi itu digelengkan oleh yang lain,
“Bagaimana kalau kita buat tema yang mengarah ke pada remaja, selama ini kan kita selalu membuat tema detektif, sekarang kita buat yang berbeda.” aku terpikirkan sesuatu yang menarik,
“Seperti apa misalnya?” Tanya Rio,
“Bagaimana kalau pesta topeng?” itulah ide yang aku pikirkan, “Kita kan sudah remaja, kita adakan pesta dansa disana. Pasti menyenangkan.”
“Kau bercanda?” Tanya Harry heran,
“Itu ide bagus, Nad.” kata Ran terkejut,
“Siapa yang setuju.” tanganku mengacung ke atas, diikuti Ran. Gita, Rio, dan Doni. Hanya Harry yang ragu, tapi akhirnya tangannya ikut mengacung ke atas. Dan tema kali ini adalah pesta topeng.

Kami semua mulai menyusun semuanya, tapi yang benar-benar menyusun adalah aku, Harry, dan Doni. Karena yang lainnya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ulang tahun Ichi sudah hampir dekat, untung saja perlengkapan pesta sudah selesai semua. Hanya tinggal menghubungi orang-orang saja. Hari sebelum pesta Ichi, aku, Ran dan Gita menyempatkan membeli gaun dan hadiah untuk Ichi. Kami pergi ke Mall untuk membelinya, akhirnya kami berhasil mendapatkan gaun dan hadiah untuk Ichi. Malamnya kami pergi ke tempat pesta yang akan diselenggarakan besok. Kami mengecek kembali dekorasi, pita-pita, kue, dan juga cathring yang akan membuat pesta tambah indah. Kami pulang pukul 23.00 malam. Walaupun badan kami capek tapi untuk Ichi kami rela membuatnya dengan penuh cinta.

Hari yang ditunggu pun datang, kami semua berangkat pagi-pagi untuk memberi kejutan kepada Ichi. Setelah bersenang-senang bersama, tibalah malamnya pesta yang telah kami persiapkan. Sebelum itu kami pulang ke rumah masing-masing dan nantinya Doni akan menjemput Ichi dirumah dengan gaun yang indah karena Doni berpura-pura untuk mengajak kencan Ichi. Pukul 20.00 tepat Doni membawa Ichi ke pesta dan kami semua menunggu kedatangannya. Kami semua dibalut dengan topeng seperti tema pesta kali ini. Ichi masuk dengan digandeng Doni dengan mata tertutup. Ichi terlihat takut dan dengan perlahan Doni membuka tutup matanya dan kami semua bersorak “Happy Birthday” lalu balon-balon turun dari atas dan suara terompet dan petasan menyambut Ichi dengan meriah.
Aku bisa melihat Ichi menangis dan Ichi mengucapkan terima kasih kepada kami semua. Acara dibuka dengan tiup lilin dan tukar kado. Kadonya sangat banyak dari orang tua Ichi, kami para Anak Pelangi dan semua teman-teman yang telah datang. Acara pun ditutup dengan dansa, alunan lagu mengalun dengan lembut tapi aku memutuskan untuk tidak berdansa. Ran sedang berdansa dengan Doni dan Ichi sedang berdansa dengan Rio, sedangkan Gita hanya mengobrol asyik dengan Mamanya Ichi. Aku hanya berdiri memandang sahabat-sahabatku yang sedang berbahagia, sampai kapan aku akan melihat ini semua. Aku tak kuat lebih lama bertahan hidup “Nadya.” ada seseorang memanggil namaku dan aku tersadar dari lamunanku. Orang itu Harry, aku kaget mendengar namaku disebut.
“Kita berhasil.” kata Harry padaku, tapi aku hanya tersenyum.
“Mau berdansa?” tanyanya dan aku pun mengangguk, kami pun pergi ketengah-tengah lantai dansa dan mulai berdansa. Pertama-tama memang canggung tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Waktu pemotongan kue pun tiba, Ichi sudah berdiri didepan kue tartnya dengan dikelilingi oleh orang-orang tercinta.
Pada saat pemotongan kue, kue pertama jatuh ketangan orang tua Ichi dan kue kedua jatuh ketangan Rio. Mataku terbelalak kaget melihatnya, darahku memompa sangat deras. Tapi anehnya Rio malah senang menerima kue itu dan sorak tepuk tangan pun menyemangati. Tanpa pikir panjang Rio langsung mencium Ichi tepat di bibirnya, air mataku langsung jatuh membanjiri. Mereka sangat senang sekali, apa maksudnya ini.
Apa ini balas dendam atas kesalahanku? apa yang sudah terpikirkan olehnya saat ini? kenapa dia tega membuatku jadi seperti ini? apa aku pantas menerima ini semua? apa aku sanggup menerimanya? Entahlah, hatiku kacau seperti kaca yang pecah menjadi serpihan kecil. Hatiku hancur seperti kayu yang sudah terkena air hujan dan digerogoti oleh binatang. Hatiku terluka seperti daging yang sudah dikoyak-koyak. Semua lebur menjadi satu seperti adonan kue yang diaduk, perasaan sedih, hancur, hampa, sakit, pedih menjadi satu. Kalau mereka bahagia itu membuatku senang bercampur marah seperti susu dituang dengan darah. Mungkinkah dengan membiarkan semua terkenang akan membuatku menjadi kuat? membuatku menjadi tegar? Mungkin hanya ini salah satu jalan terbaik. Toh, nyawaku sudah tak akan lama lagi. Hanya satu anganku menjadikan orang-orang yang menyayangiku bahagia selamanya.
Kakiku melangkah tanpa tujuan menembus malam yang gelap dan dingin, dengan air mata membanjiri pelupuk mata dan pipi. Entah aku berada dimana sekarang, aku tak peduli tempat dan waktu sekarang. Aku bersandar di tembok dan menatap awan gelap yang terbentang di angkasa, menatap langit yang mendung bagaikan tahu perasaan hatiku bagaikan mencari seseorang yang hilang entah dimana, menatap bintang dan bulan yang mungkin akan menerangi hari-hari yang sunyi; hampa dan merindukan sesuatu.
Aku lega karena aku sendirian disini, mencoba merasakan leburnya hatiku bagaikan air mendidih yang panas dan membakar semua organ tubuh. Semakin kuisak tangisku semakin pula hatiku menangis. Bodohnya aku bisa merasakannya, bodohnya aku merasa sedih, entah apa yang kurasakan saat ini. Marah kepada siapa? diriku atau dirinya? api itu sudah terlambat dipadamkan, api yang sudah menjalari semua bagian tubuh, api yang berkobar sangat dahsyat sampai tak ada yang bisa memadamkan, bahkan diriku sendiri tak bisa menahan pedihnya. Satu ciuman yang membuat hatiku terluka sedemikan rupa, satu ciuman yang membuat api murka, bahkan air mata pun tak bisa memadamkannya.
Tubuhku tak kuat menahan panasnya api yang sudah kalang kabut, napasku sesak seperti mati. Mati… Mati… Aku hanya ingin mati dan mengakhiri semuanya, perjuangan yang telah kulakukan hanya akan membuat tubuh ini makin lemah tak berdaya. Jantung yang berdetak tak akan kembali berdetak, badan yang selama ini lembut akan menjadi kaku. Suhu yang tadinya panas akan menjadi dingin sedingin es di Kutub Utara, mata yang terbuka akan tertutup selamanya. Semua akan mati tak tersisa, saat ini detik ini juga aku bisa merasakan jantungku berhenti berdetak.
Tubuhku jatuh ketanah tak berdaya, badanku melayang seperti digendong. Ada seseorang yang meraih tanganku, merangkulku dengan erat dan membawaku ke dalam cahaya yang menerangi malam yang gelap.


Aku Belum Mati…

Putih, tapi panas. Hanya satu ketakutanku selama ini, apa aku akan jatuh ke surga atau neraka? Detak jantungku masih belum mau berdetak, panas membakar tubuhku seperti racun yang menjalari semua bagian tubuhku. Apa aku kuat menerima semuanya? Bagaimana keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kucintai? Apa mereka sudah siap menerima kalau aku sudah tiada? Apa semua ini hanya mimpi? Kalau ini sebuah mimpi kenapa sampai saat ini aku belum tersadar juga. Mimpi yang selalu membawaku dalam damai serta peperangan. Seseorang menggenggam tanganku sangat erat, napas yang tadinya berhenti mulai kembali normal seperti biasa, jantung yang tak berdetak kembali memompa seperti sedia kala.
Ya, Tuhan. Mengapa kau berikan aku hidayah yang aku tak sanggup menjalaninya, memberikan seseorang yang tak pantas aku terima, membiarkan hidup ini berlalu tanpa tujuan. Aku mencoba membuka mataku secara pelahan, “Dia hidup.” ada seseorang yang meneriaki entah siapa.
Aku berada di ruang putih yang familier, yang baunya sering kukenal. Tapi aku gak tahu aku sekarang berada dimana. Kulihat seseorang disebelahku yang masih menggenggam tanganku, Edward. Dia tersenyum melihatku kembali sadar, “Selamat, Nak. Kami kehilangan kau selama tiga menit terakhir ini. Ayahmu pasti bangga,” kata salah seorang dokter yang berada disampingku, lalu semua dokter yang tadi membantuku meninggalkan aku dan Edward diruangan itu.
“Selamat datang kembali,” sapa Edward dengan ramah, aku masih belum pulih untuk menjawabnya yang kubisa hanya menarik bibirku ke belakang seperti sebuah senyuman.
“AKU INGIN MELIHATNYA SEKARANG.” ada seseorang yang meneriaki di luar kamar,
“Kau gak boleh melihatnya.” seseorang menyahuti teriakannya.
“Apa kau mau bertemu seseorang?” sekarang Edward bertanya kepadaku dan aku pun menggeleng pelan menjawabnya.
“Baiklah, aku akan memberitahukan kepada mereka. Aku akan kembali.” Edward keluar kamar selama dua menit dan kembali menemaniku di kamar dengan pintu terkunci.
“Sudah ku bereskan,” jelas Edward,
“Apa yang terjadi?” baru sekarang ada kata-kata keluar dari kerongkonganku, dan aku lega masih bisa berbicara.
“Kau sempat… mati, aku kaget melihat kau tergeletak tanpa napas di taman belakang.” Edward sudah duduk di bangku sebelahku dan menggenggam tanganku lagi, aku hanya bisa tersenyum.
“Aku berutang budi lagi ya?” tanyaku setelahnya “Tak usah khawatir, untung aku ada disekitar situ.” jawab Edward dengan lembutnya.
“Edward.”
Tapi Edward hanya tersenyum kepadaku, “Apa?”
“Aku tak ingin bertemu dia lagi.” mudah-mudahan dia tahu apa yang kumaksud.
“Aku tahu, sikapnya sangatlah konyol tadi. Aku saja tak percaya dia akan melakukan hal itu, aku kenal Ichi dia anaknya temen ayahku, dan Ichi sering curhat tentang kalian ke adikku Nessie tapi yang sering dibicarakan tentang…” Edward berhenti karena melihat reaksiku yang berubah sedih dan aku tak bisa menahan air mataku jatuh dan membasahi pipiku.
“Maaf.” suaranya seperti sedang tertahan biji salak di kerongkongannya.
“Ichi suka padanya?” tanyaku yang masih mempertahankan suaraku tetap tenang dan Edward dengan enggan mengangguk seperti merasa bersalah. Kepedihan yang aku rasakan barusan sempat hilang tapi kini sudah kembali lagi, dan hatiku hancur menjadi serpihan yang lebih kecil lagi.
“Nadya… kumohon jangan lakukan ini.” Edward berusaha menenangkanku dan aku pun bisa berhenti menangis.

Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dan aku berdoa agar orang itu bukan dia. Untung yang masuk adalah kedua orang tuaku, aku lega dan senang melihat mereka. “Sayangku..” Mamaku masuk lebih dulu dan langsung memelukku dengan lembut sementara Papaku berterima kasih kepada Edward karena pertolongannya.
“Kau baik, Nak.” Mamaku kini sudah mengeluarkan air matanya,
“Kau hebat Sayang, kami salut padamu.” Papaku mulai bicara padaku tapi aku tak bisa menjawabnya. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah hanyalah menangis dan melupakan semuanya.
“Mama, Papa. Aku lelah, aku mau istirahat.” kataku sambil menguap.
“Baiklah, Nak. Tapi kamu gak mau bertemu dengan Rio?” mendengar nama itu saja sudah membuat aku mati rasa bagaimana kalau bertemu dengannya, akhirnya aku pun menggeleng dan Mama serta Papaku keluar dengan meninggalkan dua kecupan kening di dahi.
Setelah orang tuaku pergi aku langsung menarik tangan Edward “Jangan pergi.” hanya kata itu yang membuatku tenang “Aku akan tetap disini kok.” suaranya membuatku nyaman kembali dan mataku pun terpejam dengan detak jantung yang masih berdetak.

0 komentar:

Posting Komentar