Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 15)

Ulang Tahun…

Tak terasa sekarang sudah tanggal 10 Agustus. Yup, hari ini aku berulang tahun tepat 25 tahun. Tapi anehnya, rumah sangat sepi hari ini. Mama dan Papaku jelas berangkat ke kantor, Adik-ku pergi ke sekolah. Mbok belanja ke pasar tapi dimana Edward. Tanpa pemberitahuan dia pergi begitu aja, kemana dia? Apa ada yang mau mengerjai aku? Tapi kok perasaan gak enak gini ya? Udah lah mungkin aku parno aja. Tapi anehnya tak ada yang memberikan selamat ulang tahun padaku. Orang tuaku bahkan Anak Pelangi pun tak ada yang menelpon, meng-sms, sampai kirim email. Tak ada kejutan, tak ada yang meriah. Tipu muslihat apa lagi ini. Sudahlah, aku toh tak berniat kemana pun hari ini. Benar-benar full sendirian sekarang…
Tapi pada sore harinya pukul 16.00, aku dijemput oleh Gita dan Ran katanya ada surprise party. Menyebalkan, aku seperti diculik dan aku tak tahu apa-apa. Pasti dari Anak Pelangi deh. Untung aku udah mandi dan udah mengeringkan rambutku. Aku diculik ke daerah Lembang, Bandung. Kenapa sih gak di Jakarta aja, suasananya sejuk sih. Dan masih banyak pegunungan pasti tema kali ini garden party (pikirku). Tapi kok aneh ya, rasanya pernah lihat jalanannya… Sesorean penuh aku dirias oleh Gita dan Ran, aku hanya pasrah kalau udah dirias oleh mereka… Kulihat hari udah malam dan waktu menunjukan pukul 20.00…
Setelah kubuka mataku dan melihat ke arah cermin seorang wanita cantik berdiri dengan gaun putih panjang dan sepatu kaca berdiri dengan anggun bak Cinderella. Apa ini aku? Astaga, bebek menjadi angsa yang cantik jelita. Dengan riasan yang sederhana dan lips glose yang bening menyempurnakan penampilanku…
“Gita.. Ran..” kataku sambil terpukau,
“Cantik kan?” kata mereka hampir berbarengan..
“Temanya apa?”
“Princess…” mereka pun sekarang telah berubah memakai gaun merah dan ungu yang sama. Pesta pun segera dimulai, dengan mantap aku keluar dari kamar rias dan berjalan ke anak tangga yang sudah siap menungguku…
Aku berjalan dengan mantap menuruni satu per satu anak tangga, dibawah sudah menunggu Rio dan Edward. Mereka luar biasa tampan, Rio dengan busana ala kerajaan yang mewah sementara Edward masih tetap Edward-ku yang dulu. Simple dengan tampilan jas hitamnya yang membuatku masih migren. Aku disambut tepuk tangan para hadirin yang datang tapi Edward lebih memilih pergi keluar. Ada apa dengannya ya? Waktu tiup lilin pun tiba, sebelum itu aku make a wish lalu aku mengembungkan mulutku dan meniup lilin yang ada di kue tart-ku. Kuenya juga kayak kue kerajaan, bertingkat dan berwarna jingga. Lalu aku memotong kue pertamaku dan aku berikan kepada Mamaku kemudian Papaku. Potongan kedua aku berikan kepada Rio sebagai ucapan terima kasih. Potongan berikutnya aku berikan kepada semua Anak Pelangi. Begitu selesai, mataku tetap menjelajahi seluruh ruangan untuk mencari Edward. Tapi dia tetap tidak ada disana, terpaksa aku harus mencarinya di luar ruangan dengan membawa potongan kue terakhir yang memang aku khususkan untuknya. Aku mendapati dia sedang duduk memandangi langit dan bintang. Aku berjalan gontai menghampirinya sambil tersaruk-saruk karena gaun yang panjang menyusahkanku untuk berjalan.
“Tak mau meninggalkan kue terakhirkan?” kataku padanya, Edward menoleh dan tersenyum kepadaku.
“Hadiahnya mana?” tanyaku sambil bertampang melas…
“Aku gak tahu harus memberi apa.” jawabnya dengan lesu, raut mukanya berubah menjadi sedih sekarang.
“Edward, makan nih kuenya. Special untukmu.” kataku dengan menyunggingkan senyum terbaikku… Kamipun duduk sambil memandangi bintang-bintang yang bertabur di langit yang gelap.
“Kamu percaya gak kalau bintang itu sekarang ada disamping aku.” kata Edward masih memandangi bintang.
“Aku percaya kok, soalnya bulanku juga ada disini.” mungkin saat ini mukaku telah menjadi merah padam.
“Terima kasih ya.” suasana berubah seketika, Edward mendekati wajahku tapi ada yang memanggil-ku dari belakang. “Sayang.” katanya yang ternyata adalah suara Rio (dasar pengganggu). Kami berdua langsung menghindar satu sama lain (hampir aja tadi kami berciuman).
“Acara belum selesai, aku akan memberikanmu kado istimewa. Ayo, masuk.” ajaknya padaku,
“Edward, ayo ikut.” ajakku padanya tapi dia malah menolak dan akhirnya aku dan Rio saja yang masuk ke dalam.
Di dalam semua sudah menunggu kami. Aku bingung dengan semua ini.
“Malam ini aku mau memberikan sesuatu pada Nadya., wanita disebelahku yang sangat berarti bagiku. Kalian adalah saksi kalau cinta kami sangat kuat dalam kurun waktu lima tahun ini kami terpisah dan hebatnya kami bertahan karena cinta kami yang kuat…” begitulah kata Rio, dia seperti menggantungkan kalimatnya. Tunggu…tunggu… apa maksudnya nih? Lalu Rio menunduk dan berkata…
“Maukah kau menjadi istriku?”
Hah? Istri….? gak salah denger nih… Apa aku udah tuli? Istri berarti menikah dong… Ya, ampun… Aku gak percaya kalau secepat ini Rio akan memutuskan untuk meminangku… Istri…? Istri…? Menikah…? Sumpah aku belum siap untuk menikah, aku memang cinta dengan Rio tapi apa secepat ini dia melamarku. Aku melihat disekelilingku… Mama dan Papa berusaha menyemangati, semua sahabatku mengangguk pasti ke arahku. Lalu Edward? Mana Edward…? Apa dia tahu kalau Rio akan melamarku? Apa dia tak mau mencegahku? Apa dia mundur? Tuhan, sekarang aku malah ingin Edward mencegah ini terjadi. Sementara aku masih bimbang dengan keputusanku sendiri… Rio atau Edward…?
“Maukah kau menjadi istriku?” Tanya Rio lagi dan aku membeku ditempat, akhirnya aku tersenyum lembut kepada Rio dan sekejap cincin pertunangan dipakaikan di jari manis kiriku… Aku ingin pingsan rasanya… Sekujur badanku lemah… Aku seperti kehabisan udara… Apa ini yang dimaksudkan Rio sebagai kado istiwewa… Dan kenapa Edward memilih mundur… Tega benar dia? Tapi aku sendiri masih bingung terhadap perasaanku. Hatiku bagaikan terombang-ambing ditengah samudera… tanpa tujuan… tanpa arah… seperti hanyut tak berdaya… Karena sudah larut malam, aku memilih masuk kedalam kamarku dan menyendiri… Kupandangi cincin yang berada di jari manis kiriku… Karena aku muak, kulepaskan saja cincin itu dan kutaruh kembali kedalam kotak..
“Boleh aku masuk?” ada seseorang mengetuk pintu kamarku dan aku tahu itu suara Edward… aku membuka pintu dan langsung memeluknya erat-erat..
“Kau tega…” kataku sambil terisak,
“Maksudnya…” Edward mendorongku dengan lembut,
“Kau membiarkan aku bertunangan dengan Rio.” kataku pelan,
“Kau mencintainya bukan?”
“Tapi… tapi…” aku tak bisa mengutarakannya lagi, air mataku jatuh merebak seperti hujan yang jatuh. Aku memang benar mencintai Rio tapi aku juga mencintai Edward.
“Nadya, Sayang. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Kamu udah jadi miliknya sekarang.” Edward mengeluarkan sesuatu dari saku jas-nya.
Itu adalah kalung, kalung berbentuk bintang tepatnya.
“Kamu tahu kan aku suka bintang? Ini hadiah untukmu. Kalung ini punya Ibu-ku tapi dia udah meninggal sekarang. Makanya aku suka bintang karena aku begitu menyayangi Ibu-ku, dia sangat berarti untukku sama seperti berharganya kamu di hatiku…” Edward menggantungkan kata-katanya itu dan menyolek hidungku dengan gemas,
“Kamu tahu… sejauh bintang bersinar dan sejauh bintang itu berada aku akan pergi kesana untuk mendapatkannya… tapi Nadya… kamu adalah bintang yang sangat susah untuk didapatkan…” lagi-lagi dia menggantungkan kata-katanya.
“Dengan adanya aku di sana sebagai bulan… aku akan lega karena aku akan terus berada disampingmu… terus.. terus menjagamu… sampai bintang ini jatuh sebagai bintang jatuh di hatiku… Jadi, sejauh kamu dimana pun aku akan tetap selalu berada di hatimu.” Edward mengakhiri kata-kata itu dengan menunjuk hatiku dengan telunjuknya. Entah apa yang membuatku yakin kalau kata-kata Edward sungguhlah bijak, sangat bisa meyakinkanku. Aku pun langsung memeluknya. Edward memakaikan kalung itu di leherku, kalung itu sangatlah indah karena warnanya yang begitu menawan dan berkilau jika terkena pantulan cahaya.
“Aku akan menjaganya, seperti kau menjagaku.” kataku dengan suara yang parau,
“Aku tahu… Aku mencintaimu… Happy birthday.” Edward langsung mencium keningku dan mengucapkan selamat malam padaku… Aku berjanji akan memakai terus kalung itu dan akan menjaganya… selalu…

Keesokkannya, aku pulang dengan Rio kembali ke Jakarta. Edward memilih menyendiri sekarang dan dia seperti menghindariku. Setiap kali ketemu di rumah dan setiap kali ketemu di klinik. Bahkan sekarang Edward mau pindah mencari kost-kostan baru tapi hal itu ditolak mentah-mentah oleh Papaku, karena Ayahnya Edward lagi ada di Los Angeles makanya Edward dititipkan pada keluargaku soalnya Papaku dan Ayah Edward bersahabat dari kecil. Tau gak, sebenernya aku dan Edward dulu mau dijodohkan lhoo… dulu kami memang sering maen bareng tapi kerjaannya berantem terus… tapi semenjak SMP, Edward sering pindah-pindah keluar negeri makanya aku jarang bertemu apalagi berkomunikasi sama dia. Baru kuliah di satu jurusan-lah aku mengenal sosok Edward lagi. Tapi percaya gak, kalau sebenernya Edward jarang banget yang namanya pacaran, apalagi mengenal cewek. Emang sih dia banyak di puja-puja cewek tapi gak ada yang membuatnya jatuh hati (berarti aku cewek yang beruntung dong) satu hal lagi yang aku ketahui dari sikapnya itu. Dia itu gak suka ama orang yang sok kenal sama dia prinsipnya sama kayak aku kalau kita udah benci pasti akan benci terus gak ketulungan. Lima tahun bersama Edward di London membuka mata hatiku tentang satu hal kalau sebenarnya pekerjaan menjadi dokter harus dilakukan dengan penuh dedikasi. Bahkan aku baru tahu kalau Ibu-nya Edward yang sudah gak ada saat ini mengalami kanker otak dan divonis hidupnya gak lama lagi (sama seperti aku ya) makanya sekarang Edward bekerja menjadi dokter, bahkan semua keluarganya menjadi dokter mengikuti Ayah-nya yang sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ibu mereka. Aku jadi tahu banyak tentang Edward, nih pernah ada kejadian yang sangat ironis untukku. Dulu aku tinggal di Bogor dan bersahabat dengan keluarga Edward, tapi karena kondisi Ibu-nya yang udah parah itu memaksa mereka buat pindah ke Seatle, Amerika. Karena aku dan Edward masih kecil kami masa bodohlah dengan yang dilakukan oleh orang dewasa, tapi memang dulu Edward sempat nangis karena Ibu-nya tak juga sembuh-sembuh (nangis dipelukanku lhoo). Seminggu setelah mereka pindah ke Seatle, Ibu-nya menghembuskan napas yang terakhir dan disitu memang keluarga Edward terpukul banget sampai-sampai orang tuaku harus pergi ke Seatle juga untuk merawat Edward dan Kakaknya; Corner. Aku cuma diceritain sama Edward kalau dia hampir pernah nyasar ke hutan dan diculik sama preman, tapi setelah berhasil lolos dia malah nabrakin diri ke mobil yang lalu lalang di jalan raya. Sekilas memang tapi bekas tabrakannya masih ada di kuping kanan Edward dan sumpah deh lukanya bikin jantungan kayak keriput-keriput dan ada bekas luka sobek sama bekas terbakar. Tapi setelah sembuh Edward malah makin senang mainan sama jarum, gunting, dan apalah namanya semacam benda tajam semua. Makanya dari SMP dia sadar kalau cita-citanya itu mau jadi dokter, dan aku sempat takjub sama dia… kalau aku jadi dokter hewan hanya karena senang dengan binatang aja, emang sih buat aku nambah motivasi tapi gak fear aja ya… Lima tahun hidup sama Edward memang fun dan colorful. Dari mulanya aku sempat dirawat selama empat bulan dan koma, dari aku menjadi pianis handal sampai aku berada di usiaku yang 25 tahun ini. Mungkin ini semua emang karunia dari Tuhan tapi tanpa Edward aku bukanlah siapa-siapa. Dan satu kesamaan kami mengenai segala hal, kalau kami sama-sama suka dengan bintang. Bagi kami bintang memberikan cahaya yang mendalam bagi hati kami dan bintang akan selalu bersinar di malam yang gelap dan dingin dengan ditemaninya bulan memang bintang itu bukan siapa-siapa, makanya bulan akan selalu menjaga bintang selamanya karena bintang dan bulan gak akan pernah terpisahkan,. Oh, ya. Satu point lagi kenapa Edward suka sama bintang karena Ibu-nya dulu adalah sarjana astronomi dan dulu ibu-nya pernah bilang kalau bintang ngebuka hati semua orang kalau hatimu akan seperti bintang yang bersinar terang, makanya Edward suka bintang karena baginya ibu-nya adalah bintang yang akan selalu bersinar dimana pun dia berada. Ironis memang tapi aku benar-benar percaya kalau bintang yang bersinar terang datangnya dari hati kamu bukan lah dari hati orang lain…

Udah hampir tiga minggu Edward seperti bermuram durja. Kadang tatapannya dingin dan dia jarang makan, sikapnya sangat aneh untuk seorang anak laki-laki,. Kalau kata Papaku dia lagi dilema karena aku mau menikah dengan Rio. Apalagi Rio seperti balas dendam kepada Edward, dia disuruh memilih kartu undangan dan tempat untuk aku dan Rio akan menikah nanti. Sumpah sikapnya keterlaluan, jujur banget aku sedih dan terluka karena tatapan Edward yang hampa. Aku jadi sebal dengan Rio, kenapa dia harus melakukan ini padanya… Suatu malam yang dingin, Rio mengajakku dan Edward untuk memilih busana pernikahan. Sungguh keterlaluan kan? Bilang iya… (harus bilang iya). Waktu itu aku memilih gaun warna putih dengan hiasan pita di belakangnya, aku menatap ke sebuah cermin dan aku melihat diriku walau tanpa make-up pun aku terlihat fresh.
“Kau cantik.” kata Edward,
“Eh.. makasih.” senyumku langsung merebak,
“Nad, hari ini aku mau meeting dulu ya. Kamu pulang sama Edward aja.” kata Rio dengan entengnya. “Ambil aja baju yang itu.” lanjutnya sambil pergi. Aku menatap calon tunanganku itu. Dasar seenaknya aja, belum jadi suami aja kayak gini apa lagi kalau udah jadi suami. Setelah mengganti pakaian dengan jens belel-ku lagi dan kemeja abu-abu andalanku, aku menghampiri Edward di mobil.
“Mau kemana kita?” Tanya Edward,
“Terserah.”
Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.
Edward membawaku ke sebuah studio… Lebih tepatnya Planet Tarium. Itu loh tempat tata surya di Jakarta, tapi anehnya Edward seperti terlihat sedih berkunjung kesana. Kami melihat pertunjukan bintang dan rasanya benar-benar menakjubkan. Selama pertunjukan Edward tak berhenti menggenggam tanganku, matanya memperlihatkan sorot iba yang membuatku sedih. Apa dia teringat Ibu-nya ya? Setelah menonton kami diperbolehkan petugas untuk memakai teropong bintang di lantai atas. Aku sangat senang bisa melihat bintang sedekat itu tapi disampingku Edward terlihat lesu.
“Edward?” aku pun merengkuh wajahnya, tapi setelah dia menatap mataku, matanya menjadi berair dan dia pun mulai menangis. Aku berusaha menenangkannya dengan memeluknya erat-erat.
“Hei… aku tak mau bulanku redup..” kataku sambil mengusap lembut punggungnya, “Bulanku tak boleh redup.” kataku lagi.
“Nad… aku kangen dia… aku kangen bintang-ku… aku kangen Ibu-ku.” kata Edward semakin terisak,
“Aku tahu… aku tahu… tapi sebagai bulan kamu tidak boleh redup, kamu gak mau kan bintang yang ada diatas sana menghilang selamanya. Aku tahu dia juga kangen denganmu…” aku mulai meneteskan air mataku secara perlahan… Edward berhenti menangis dan mulai melumat bibirku, ciuman kali ini basah karena kami sama-sama menangis. Aku tahu sebagaimana Edward merindukan seorang Ibu-nya, aku tahu kenapa selama ini dia bermuram durja karena dia merindukan belaian lembut dari seorang ibu.
“Aku juga gak mau bulanku meninggalkan bintang ini sendirian di langit yang gelap…” kataku sambil tersenyum (artinya : aku juga gak mau Edward meninggalkan aku sendirian di ruang yang kosong, aku juga kangen sama Edward) mendengar hal itu Edward tersenyum manis dan mulai melahap bibirku lagi.
“Kau akan menjadi bintang-ku yang tak akan tergantikan..,” katanya…
“Janji?”
“Aku janji akan selalu menjagamu dan tak akan meninggalkanmu.”
Kami pun saling mengaitkan jari kelingking kami untuk saling berjanji….

0 komentar:

Posting Komentar