Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 10)

Hidup Tanpa Mereka

Ketika aku bangun ternyata malam yang buruk itu bukanlah mimpi itu nyata. Dan aku masih mendapati Edward masih tertidur dengan lelap disampingku. Apa dia yang ditakdirkan untukku? apa dia yang selalu ada untukku, membantuku dengan senang hati dan penuh cinta? Edward masih menggenggam tanganku lebih erat, aku tersenyum sendiri melihat cara tidurnya. Lucu tapi membuat hati lega, dia memang teman yang baik. Karena dia tidur pulas aku tak tega membangunkannya. Aku mengelus kepalanya, pipinya sampai lehernya. Aku kagum dengan Edward, entah apa yang membuatku merasa seperti ini.
“Ketahuan.” tiba-tiba saja Edward terbangun dan mengagetkanku. Kami pun tertawa bersama menyambut datangnya pagi yang akan memulai hari ini.
“Terima kasih.” kataku setelah selesai ketawa,
“Untuk?” Tanya Edward padaku sambil bersikap linglung.
“Semuanya. Kau boleh meminta apapun yang kau mau.” kataku padanya sambil mengubah posisi badanku dari tertidur menjadi duduk.
“Emm, aku memang ingin melakukan satu hal.” jelas Edward sambil duduk di atas ranjangku, “Apa?” aku bertanya dengan antusias dan kami saling memandang sangat lama. Posisi badan Edward menjadi menunduk dan makin lama semakin maju padaku.
Edward merengkuh wajahku, aku bisa merasakan napasnya menyapu pipiku. Aku pun menutup mataku dan jantungku terlonjak seperti mau anjlok. Bibir Edward melumat bibirku dengan antusias dan bergairah tapi masih terkesan lembut dibibirku, aku pun merespons ciuman itu dengan lembut. Ciuman itu terkesan mendalam dihatiku, sangat berbeda dengan ciuman Rio. Sekarang jari-jari Edward sudah masuk kedalam rambutku, dan turun ke pinggangku. Bibir Edward belum juga selesai melahap bibirku tapi aku tidak menarik bibirku darinya, kami seperti anak muda yang dimabuk kepayang. Agar tak goyah, kurangkul saja lehernya.
Entah sampai kapan kami akan berciuman, Edward seperti lupa diri. Seseorang menerobos masuk ke dalam kamar sampai pintu menjeblak terbuka dan membentur pintu dengan sangat keras, dia berdiri terpaku menatap kami. Karena Edward tak berhenti menciumku, akhirnya kubuka mataku dan melirik tamu yang datang tak diundang. Ternyata itu Rio, astaga. Tapi ciuman Edward makin ganas sekarang sampai-sampai aku tak bisa bernapas dan mendesah pelan, kutarik bibirku darinya secara paksa tapi masih terkesan lembut. Edward akhirnya melepaskan bibirnya dan berdiri menatap Rio, tak ada yang bergerak selama beberapa menit.
“Jadi?” Tanya Rio padaku dengan sikap tak percaya, ingin rasanya aku mengeluarkan air mataku dan memeluknya tapi itu tak akan kulakukan.
“Apa maksudmu?” Edward balik bertanya,
“Kenapa kau lakukan ini?” Rio bertanya lagi dan menatapku lekat-lekat karena marah,
Edward tertawa mendengar pertanyaan itu, aku dan Rio langsung melirik ke arah Edward, “Dasar bodoh. Harusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri.” suara Edward makin meninggi sekarang dan terdengar nada mengejek dari kata-katanya itu.
“Apa maksudmu?” Tanya Rio sambil melangkah maju lebih dekat pada kami.
“Sok lugu. Nadya masuk ke rumah sakit ini gara-gara kau tolol, kau mau mengatakan kau amnesia dengan sikapmu semalam.” nadanya terkesan murka dan ketus, aku masih belum bisa menjawab ataupun melerai siapa pun saat ini.
“Itu… itu tidak sengaja.” jawab Rio sambil terbata-bata, Edward maju sampai mereka bertemu satu sama lain. Tak diduga Edward melayangkan pukulan yang cukup keras padanya sampai darah keluar dari mulutnya, seketika itu juga Ichi dan Harry masuk kedalam ruangan.
“Nad.. itu hanya ciuman seorang…. sahabat.” lanjut Rio, mendengar perkataan itu membuatku tak tahan dan menjatuhkan air mataku,
“Gak, Rio— “ Ichi langsung mencela begitu aja, “ -–bagiku itu ciuman seorang kasih karena kue itu untuk seseorang yang aku cintai.” jujur Ichi kepada kami semua, Rio kaget dan tak percaya.
“CUKUP..” akhirnya aku bisa mengucapkan kata-kata yang cukup keras, Edward menghampiriku dan berusaha menenangkanku.
“Rio, kau sayang padaku kan?” aku mulai bertanya dan dengan antusias Rio mengangguk pertanyaan itu.
“Dan kau pernah berjanji akan melakukan apapun semua permintaanku—“ rasanya aku tak kuat mengatakan ini, disampingku Edward merangkul pinggangku dan memelukku erat.
“Kau harus mau---menjadi kekasih Ichi.” kalimat yang membuatku merasa tersiksa dan membuat api itu terbangun membakar semua organ tubuhku, “Dan, aku tak mau bertemu dengan kalian semua---selamanya, tak mau dan tak akan mau.” aku mengakhiri kalimatku dengan membenamkan wajahku kedada Edward dan terisak didadanya.
Rio, Ichi, dan Harry bergidik mendengar perkataanku barusan, tapi terpampar kata tak percaya dari raut wajah mereka.
“Kau bercanda kan?” Tanya Ichi,
“Dia tidak bercanda, Ichi.” Edward menjawab pertanyaan Ichi,
“Bohong! Bagaimana kau tahu?” sekarang Ichi sudah menangis di dalam pelukan Harry.
“Dia akan berobat ke London… bersamaku.” nada Edward tenang dan lembut,
“Aku serius, guys. Aku akan berobat kesana dan belajar menjadi pianis handal. Kalian tahu kan, aku suka main piano.” kataku dengan suara parau seperti tercekik.
“Katakan kalau ini bohong, BOHONG.” Rio menangis dan terduduk di lantai mendengar kata-kataku, aku tak tega melihatnya seperti itu untung ada Edward yang mau meminjamkan dadanya untukku. Harry berusaha menenangkan Rio dan berusaha membawanya keluar sementara Ichi sudah berlari keluar karena tak tahan mendengar kata perpisahan yang jelas-jelas memukul hatinya.
Begitu mereka keluar, tangisku makin menjadi-jadi didalam pelukan Edward. Satu sisi aku lega karena mampu mengatakan semuanya tapi aku tak tega melihat apa lagi mengatakan nada perpisahan, tapi itu memang yang harus kulakukan demi mereka. Penyakitku sudah diketahui oleh sahabat-sahabatku karena semalam Papaku akhirnya menceritakan kondisiku yang semakin memburuk dan semakin lemah, anjuran berobat ke London itu juga disarankan oleh Edward dan Papanya karena Kakaknya Edward; Corner, mendirikan rumah sakit yang bagus disana yang memungkinkan mampu mengobati penyakitku ini yang semakin parah.
Tapi aku tidak sendirian, aku bersama Edward karena Edward akan melakukan pendidikan disana sekaligus menambah wawasan.

***
Well, sudah banyak yang aku alami selama aku berada di Indonesia dan aku akan melakukan hidup baru di London, Inggris. Aku akan berangkat ke sana dua minggu lagi dan kabar baiknya setelah aku pulang dari rumah sakit, kondisiku mulai stabil dan seperti biasa aku melakukan rutinitas sehari-hari di klinik. Udah tiga hari setelah aku pulang dari rumah sakit aku tak pernah berkomunikasi dengan Rio, tapi aku emang tak pernah berpikir untuk menemuinya. Aku pikir dia masih shock dan aku tak ingin mengganggunya.
So, aku juga gak ambil pusing dengan semuanya. Aku menerima dengan lapang dada semua yang telah terjadi tempo lalu. Untungnya aku masih berkomunikasi dengan Harry karena dia satu-satunya yang masih ingin menghubungiku. Dan sekarang aku juga sudah rileks dengan penyakitku ini, menerima dan melanjutkan hidupku untuk orang-orang yang aku cintai. Memang aku sekarang kangen dengan Rio dan kangen ngumpul bareng dengan Anak Pelangi tapi aku tidak kecewa karena aku tahu mereka toh sudah mempunyai hidup baru dan aku tahu betapa sibuknya mereka saat ini. Seminggu sudah aku menjalankan hari-hariku tanpa menangis, entah saking sibuknya atau aku sudah tak peduli. Tapi aku sadar akan satu hal, aku tak bisa jauh dari orang-orang yang aku cintai; keluarga dan sahabatku. Yah, hanya satu orang yang terus berada di hatiku saat ini, Rio. Dia orang pertama yang ingin aku temui dan jujur aku tak sanggup hidup tanpa dia, aku kangen dengan semuanya. Kangen berada disampingnya, mendengar suaranya yang menurutku lembut seperti beledu dan menyenangkan hati, well aku kangen berciuman dengannya. Tapi toh aku tak ingin memberikan beban padanya sampai aku sembuh total, sampai aku bisa hidup selamanya bersamanya. Sahabat menjadi cinta? Kalau dipikir-pikir, lucu memang tapi itulah yang terjadi di antara kami disini. Bahkan Doni dan Ran sampai tak mau tahu dan masa bodoh dengan kami semuanya, kalau aku boleh menilai mereka marah pada kami.

Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke klinik dan aku memberi kejutan pada Viona karena aku lebih dulu sampai di klinik daripada dia. Viona, dia memang sekertarisku tapi aku sudah menganggapnya kakakku, kakak perempuanku. Karena dia selalu memberi support padaku dan selalu menemaniku dalam keadaan senang maupun sedih. Mungkin aku sangat senang kalau dia benar-benar menjadi kakakku. Jam istirahat pun tiba, karena hari ini Edward tak masuk akhirnya aku makan siang sendiri di taman belakang. Lima hari lagi aku akan berangkat ke London dan mungkin aku akan mampir ke Amerika (mungkin tidak, mungkin juga iya), aku melamunkan kegiatanku di London, kota tempat Harry Potter melakukan syuting. Tak menyangka aku bisa kesana, tapi aku kesana bukan mau pariwisata atau menjadi turis. Satu tujuanku datang kesana yaitu berobat, yah berobat untuk menyembuhkan penyakitku.
Ada seseorang menepuk pundakku,
“Ada apa?” tanyaku pada Ichi. Oh, ternyata yang datang Ichi. Aku baru sadar ketika melihat mukanya yang serius, (dia memang selalu serius).
“Bisa bicara?”
“Dari tadi aku memang sudah bicara.” kataku sambil pura-pura memperlihatkan gurauan, dan Ichi langsung duduk di sebelahku.
“Aku mau mohon padamu—“ Ichi memulai duluan. Karena aku diam saja dia pun melanjutkan. “Temui Rio, dia---“ sejenak dia bernapas panjang dan memejamkan matanya “---kalut.” terdengar seperti desahan panjang menyertai kata-kata itu.

Aku tak percaya Rio sedang kalut, dia-kan main di beberapa sinetron akhir-akhir ini dan aktingnya bagus. Apa selama ini Rio pengecut? Apa selama ini Rio takut? Apa yang selama ini Rio lakukan? Apa aku jahat padanya? Apa aku salah tak menemuinya? Oh, Tuhan. Kenapa hidupku jadi tambah buruk.
“Jadi… aku harus melakukan apa?” akhirnya aku bisa berkata juga,
“Temui dia---dan kau jangan pergi.” Ichi berusaha meyakinkanku untuk menemuinya.
“Baik, aku kan pergi—aku akan pergi bersama Edward.” aku yakin dengan omonganku karena Edward pasti mau menemaniku.
“Tapi, kenapa harus bersama Edward?” Tanya Ichi padaku,
“Karena dia… orang yang tepat.” setelah menimbang-nimbang aku akhirnya menemukan kata yang cocok, (gak mungkinkan aku bilang kalau dia pacarku) “Jadi tidak?” lanjutku,
“Oke, besok kau datang ke rumahnya jam 09.00. Kami semua ingin bicara denganmu, sampai besok.” tanpa basa-basi Ichi pun langsung pergi meninggalkanku sendiri.

Malamnya, aku pulang jam 19.00 tepat sebelum makan malam. Setelah mandi dan makan malam bersama, mama dan papaku langsung menonton TV di ruang keluarga. Aku pun ikut nimbrung dan menemani adikku belajar.
“Mama.” aku duduk disebelah mamaku dan langsung memeluknya,
“Apa, Nak?” Tanya mamaku sambil membelai rambutku dengan lembut,
“Apa sahabat-sahabatku akan benci padaku?” pertanyaan itu keluar begitu saja dan tak terasa air mata sudah jatuh dan membasahi pipiku,
“Tidak mungkin, Nak. Sahabatmu pasti akan lebih menyayangimu.” mamaku berusaha menghiburku tapi aku tahu dari suaranya terdengar nada ragu melintas,
“Aku mau tidur.” tanpa pikir panjang aku langsung naik ke atas dan menuju kamarku. Sejenak aku tak tahan ingin mengeluarkan air mataku tapi aku harus menelpon Edward untuk memintanya menemaniku besok. Kuambil Hp-ku dan mencari nama Edward di kontakku lalu kupencet “call”, aku menunggu tiga deringan dan pada deringan keempat terdengar suara Edward yang senang bukan main.
“Hai,” sapanya padaku, “Ada apa, Sayang?” kata-katanya membuatku bisa tersenyum lagi dan sejenak bisa melupakan air mataku,
“Besok kamu mau nemenin aku engga?”
“Kemana, Sayang?”
“Kerumah… Rio.”
Hening.
“Edward?”
“Oh, untuk apa?” pasti Edward ragu dengan permintaanku,
“Entahlah, Ichi memintaku menemuinya. Kau mau tidak?”
“Baiklah, my princess. Jam berapa aku bisa menjemputmu?
“Jam delapan aja, benar nie gak apa-apa?” aku sempat ragu dengan permintaan ini,
“Tak apa-apa. Besok kan klinik tutup, maklum sedang berduka cita atas meninggalnya Gus Dur, hehe..” aku ikut tertawa mendengar leluconnya.
“Makasih ya, Ed. Lagi apa?” pertanyaan bodoh, tapi aku memang tak mau mengakhiri percakapan ini.
“Lagi di atap, memandangi bintang. Indah lhoo.”
“Kau suka bintang?” tanyaku padanya, dikira hanya aku saja yang suka memandangi langit apalagi memandangi bintang.
“Aku suka banget say, soalnya bintang itu mengingatkan aku pada seseorang yang sedang berbicara denganku.”
“Gombal deh, aku juga suka bintang. Bintang itu membuat suasana hati tentram dan damai. Bener gak?” aku jadi ikut-ikutan membuka jendela dan memandangi langit,
“Kamu betul, Yang. Aku paling suka bintang yang namanya Nadya.” begitu mengatakannya Edward langsung terkekeh,
“Kamu itu yaa, terus-terusan manggil aku ‘Sayang’, padahal kita belum jadian.”
“Jadi… mau kamu kita ‘jadian’ ya?” Edward mulai meledekku nih,
“Enak aja, kamu tuh…. Udah ah.” aku jadi salah tingkah gini, sih.
“Kita emang gak jadian tapi kita akan tunangan.”
“Idih, pede inbox nie.”
“Haha… Kamu lucu yah, Sayang.” akhirnya kami pun tertawa.
“Sayang, ada bintang jatuh. Cepet, buat permintaan.”
Tanpa pikir panjang aku langsung memejamkan mata dan mulai memohon. Hening sesaat.
“Kau memohon apa?” Tanya Edward padaku,
“Rahasia.”
“Wah, Yayangku pelit.”
“Biarin…” kataku sambil meledeknya,
“Mau tahu permohonanku engga.”
“Engga tuh,” aku pun tertawa mendengar desisan pelan dari mulut Edward.
Hening..
“Marah nie? Ya, udah apa?” aku pun menyerah kalau lagi bercanda dengan Edward.
“Aku memohon agar aku dan kamu bisa bahagia selamanya.”
Hening lagi.

“Nad?” Edward membangunkanku dari terkejutanku,
“Iya.” kataku dengan suara yang pelan.
“Kau memohon apa?” tanyanya kemudian,
“Aku… ingin sembuh dan-- bisa melihat orang-orang yang kucintai bahagia selamanya—tanpa diriku.” Aku bisa merasakan Edward kaget dan terdiam sesaat.
“Aku gak suka Bintang-ku jadi lemah, aku gak suka Sayang-ku sedih, aku gak suka princess-ku menderita. Kita kan udah pernah ngebahas ini kan, aku mohon Nadya, please jangan pernah buat hal ini tambah buruk dengan kamu ngelakuin ini padaku.”
“Aku ngerti kok, my prince. Maaf ya.”
“Ya, udah. Selamat tidur ya, aku cinta kamu.”
“Bye, met bobo juga.”

----KLIK---

Keesokkannya, aku bangun jam 06.00 tepat. Setelah aku mandi dan sarapan, aku naik lagi dan menuju laptop-ku di meja belajar. Kubuka blog-ku beserta email-ku yang sudah jarang aku buka. Waktu menunjukan pukul 07.30, akhirnya aku bergegas berpakaian pergi dan berdandan sedikit (hanya pakai bedak dan hand body) dan aku kembali duduk melihat laptop-ku. Aku membuka inbox pada email-ku, ada tiga pesan masuk yang belum aku baca.



Yang Pertama dari Rio: Kenapa?
From: Rio Saputra <007_chipmunks@yahoo.com>
To: Nadya Daniarti
Subject: Kenapa?

Dear, my Lovely.
Kenapa sih, kamu masih aja kayak gini?
Kenapa sih, kamu masih ngeraguin aku?
Kenapa sih, kamu gak pernah bicarain ini semua sama aku?
Kenapa sih, kamu gak pernah cerita?
Secepat inikah kamu memutuskannya, kenapa sayang????


Yang Kedua dari Rio Saputra: Kangen kamu…
From: Rio Saputra <007_chipmunks@gmail.com>
To: Nadya Daniarti
Subject: Kangen kamu…

Dear, my princess…
Kangen banget ama kamu…
Kangen berat ama kamu…
Aku cinta kamu!!!! (selalu dan selamanya)


Yang Ketiga dari Harry Prapanca: Dia nunggu…
From: Harry Prapanca
To: Nadya Daniarti
Subject: Dia nunggu…

Hai, Nadya…
Apa kabar?
Kami semua nunggu kamu lhoo.
Apalagi Rio, dia kalut banget selama ini,
Temuin dia ya, kami semua sayang kamu…

Setelah membaca tiga pesan itu, mobil Edward mengklakson rumahku. Aku kelabakan dibuatnya, akhirnya aku merapikan pakaian dan barang-barang lalu langsung turun untuk menemui Edward. Setelah mendapatkan ijin dari mama, kami pun pergi kerumah Rio. Perjalanan dari rumahku kerumah Rio menempuh waktu satu setengah jam, akhirnya kami tiba tepat pukul 09.00 karena dijalan Edward sempat mampir untuk sarapan sejenak.
Rumah Rio tampak sepi dari luar, seperti tak pernah ditempatin. Akhirnya kami bertemu pembantu rumahnya Rio dan kami dipersilahkan masuk karena yang lain sudah menunggu. Disampingku Edward memeluk pinggangku dengan erat seperti tak ingin melepasku begitu saja, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Rio dan yang lain telah menunggu di taman dekat kolam renang, memang rumah Rio jauh lebih besar dan kami dulu sering main di taman itu. Aku dan Edward memasuki taman itu, ternyata benar mereka semua sudah berkumpul disana dengan serius. Aku memandangi mereka semua dengan heran bahkan mereka menatapku seperti aku ini mangsa yang enak untuk dimakan, aku mendapati Rio duduk dipinggir kolam dengan muka yang pucat dan bibir putih seperti beku kedinginan dan dia sedang melamun seperti tak pernah makan selama berabad-abad seperti merindukan sesuatu yang telah hilang puluhan tahun lalu, sekilas aku tak tega melihat mereka semua apalagi Rio seperti itu. Aku tak kuat, untung aja Edward menarikku ke dadanya lebih erat seperti tahu kalau aku tak kuat menahan berat tubuhku sendiri. Ada apa dengan kalian? Beritahu aku yang sebenarnya..

“Hai.” akhirnya setelah sekian lama berdiri dalam diam Edward memberanikan diri untuk memecahkan kesunyian ini, tapi tak ada respons. Aku tak kuat melihatnya, tetes demi tetes air mataku jatuh membasahi pipiku dan isak tangisku terdengar sangat keras. Aku pun makin mengeratkan diriku kedalam pelukan Edward. Hanya untuk menenangkan hati saja.
“Kenapa?” Rio memulai sambil menitikkan air mata yang tak terlihat, matanya tak terarah kepadaku melainkan kedalam air kolam renang,

Hening lagi.
“Cukup, kenapa kita gak selesain masalah ini? Nadya kan sudah kemari.” Gita akhirnya memecahkan kesunyian.
“Yah, memang itu yang jadi intinya dia kesini.” Ran menimpali,
“Kalian ingin berbicara apa?” aku mulai menyusun kalimat satu demi satu karena suaraku masih teredam tangisku,
“Kumohon jangan menangis, Nad.” Doni berusaha mendekatiku tapi Edward membawaku mundur beberapa langkah, “KAU.” Doni marah melihat sikap Edward yang berusaha menjauhkanku darinya,
“Jangan Doni.” suara Harry melerai terjadinya konflik,
“Apa yang ingin kalian bicarakan?” Tanya Edward dengan sinis,
“Ini gak ada urusannya denganmu.” jawab Doni ketus,
“Katakan saja, Edward berhak tahu.” kataku yang sudah agak tenang.
“Oke, kami ingin tahu--- apakah… kau masih---sayang dengan--Rio?” Tanya Harry terbata-bata berusaha tak ingin menyakiti hatiku, sekilas pandanganku tertuju dari Rio ke Edward, dan dari Edward ke Rio lagi. Aku bingung mau jawab apa.
“Kenapa kalian menanyakan itu?” nada suaraku meninggi sekarang,
“Hanya ingin tahu saja, kenapa kau memutuskan untuk pergi?”
“Aku ingin berobat kesana, oh. Jadi maksud kalian aku tak boleh berobat dan aku harus tetap disini menunggu ajal menjemput dan say GOOD BYE kepada-NYA. BEGITU?” aku meledak sekarang untung aku masih bisa mengontrol detak jantungku,
“Tenang, Sayang.” Edward membisikkan kalimat di telingaku dan aku yakin hanya aku seorang yang bisa mendengarnya,
“Bukan itu yang kami maksudkan. Kami hanya heran kenapa yang ikut bersamamu adalah dia?” Harry menunjuk Edward dan langsung memalingkan muka,
“Aku ikut karena Nadya akan melakukan pengobatan di rumah sakit milik kakakku dan aku memang sudah ada rencana ingin pergi ke London sebelum Nadya disarankan kerumah sakit itu karena aku ingin melanjutkan kuliah disana, Jelas bukan?” sekarang Edward yang menjelaskan semuanya,
“Tapi itu butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya, Nad. Pikirkan itu kami juga ingin bersamamu.” hanya Harry yang mampu menjelaskan maksud dari pertemuan ini,
“Dan apa maksudmu untuk ‘tidak mau bertemu dengan kami lagi’? sekarang Ran yang mulai bicara,
“Karena… haruskah aku memberitahukan kalian?” aku tak tega membiarkan mereka tahu yang sebenarnya, aku pun mulai berbohong.
“Kami ingin tahu.” suara Ichi sekarang yang bicara,
“Karena… kemungkinan aku tidak akan kembali lagi atau pergi untuk selamanya.” aku memberanikan diri untuk mengatakannya, aku ingin tahu respons Rio seperti apa.
“Kau bercanda. KAU BICARA APA?.” Rio sekarang berdiri dan berjalan kearah Harry seolah-olah seperti meminta penjelasan, disampingku Edward mengusap lenganku dengan lembut berusaha menenangkanku.
“Katakan itu tidak benar.” Ichi sekarang sudah maju juga dan menenangkan Rio untuk kembali duduk.
“Ya, itu mungkin saja. Aku tak mau merepotkan kalian, terutama kau Rio.” aku mengatakannya dengan sangat hati-hati,
“Nadya, Sayang.” Rio menarikku kedalam pelukannya, “Kau sama sekali tidak merepotkanku selama ini, sungguh. Aku malah berterima kasih padamu karena telah memberikan pelangi dihatiku, Sayang.” Rio memelukku erat sekali sampai aku tak bisa bernapas,
“Rio,, maafkan aku.. Tapi aku pelangi yang tak mempunyai warna yang indah, warna itu telah redup untuk selamanya.” setelah aku berkata begitu Rio melepaskan pelukannya. Aku bisa melihat jelas sorot matanya, dia bukan Rio-ku yang dulu. Sorot matanya tajam tapi memperlihatkan sorot kesedihan dan kepedihan di bola matanya, sorot matanya seperti meminta penjelasan akan suatu hal yang telah hilang dan tak kunjung kembali.
“Rio.” aku mendesis pelan, “Kau harus mencari yang lain yang lebih baik daripada aku.” aku menjelaskannya dengan penuh minta maaf dan air mataku kembali mengenangi kelopak mataku,
“Tak ada yang lebih baik dari pada kamu. Aku yakin itu.” Rio memelukku lagi dan kini aku bisa merasakan Ran dan Gita menangis melihat kami berdua. Hening lama sekali, tapi aku sudah kembali kesisi Edward sekarang.
“Kapan kau akan pulang?” sekarang giliran Ichi bertanya,
“Entahlah, sampai aku sembuh.”
“Kenapa kau tidak berobat disini saja, agar kami juga bisa menjagamu Nad.” Doni berbicara lagi,
“Karena… aku kan sudah menjelaskannya tadi, tolong jangan ungkit tentang kematian.” sumpah, membicarakan ini membuat perutku serasa jungkir balik, darah seperti mengalir deras dari ujung kaki hingga kepala.
“Karena penyakitnya sudah sangat parah, belum tentu rumah sakit disini mampu.” Edward-lah yang menyelesaikan kalimat itu, lalu aku tersenyum padanya mengungkapkan terima kasih.
“Kau tak bisa tertolong lagi.” Tanya Ran penuh tahu,
“Tanyakan saja pada Ichi, dia yang lebih tahu.” Edward menujuk Ichi yang dari tadi mukanya sudah agak pucat,
“Cuci darah pun tak akan bisa membantu,” Ichi dengan iba mengatakannya,
“Tolong, aku hanya ingin merasakan hidup yang baru. Aku tak mau kalian sedih karena memikirkanku, guys.” aku berusaha merasa ceria lagi agar aku bisa meyakinkan sahabat-sahabatku.
“Aku akan ikut.” kata Rio padaku,
“Tapi… tak bisa.”
“Kenapa?” Tanya Rio padaku, tapi aku tak bisa menjawab,
“Karena dia ingin fokus berobat dan belajar menjadi pianis handal, bukannya main-main bercinta denganmu.” walau agak ketus tapi perkataan Edward membuatku sedikit lega,
“Kalian harus percaya padaku, aku akan baik-baik saja. Lihat saja nanti, ketika aku pulang nanti pada ulang tahunku aku akan memainkan permainan piano yang hebat untuk kalian semua.” sekilas aku bisa membayangkan aku bermain piano dengan gaun yang indah dan semua mata penonton tertuju padaku,

“Aku percaya.” kata Ran,
“Aku juga percaya.” Gita tersenyum kepadaku,
“Aku pun begitu.” kata Doni lagi,
“Aku akan percaya 100%.” kata Harry memberi semangat,
“Aku percaya kalau kau bisa menjaga dirimu.” Ichi ikut mendukungku, tapi hanya Rio yang diam saja.
“Aku juga percaya kalau kau mampu, Edward—“ sekarang Rio mendukungku dan dia berbicara pada Edward sekarang “Jaga Nadya baik-baik ya.” sekecil senyuman terpampar dari wajah Rio dan aku senang karena sahabat-sahabatku mendukungku dan aku lega karena mereka memang my best friend, yang akan menghadirkan pelangi yang sangat indah di hatiku untuk selama-lamanya….

Karena tak ada yang ingin disampaikan lagi, aku dan Edward bergegas untuk pulang. Sesampainya di mobil, Edward bukannya sesegera mungkin membawa mobilnya tapi dia hanya duduk diam dengan tangan meremas stir mobil dengan pandangan terfokus kedepan. Aku tak berani memandanginya,
“Kenapa kau masih mengungkit masalah itu lagi” tanyanya padaku,
“Tentang apa?” aku balik bertanya,
“Nadya, tadi kau membicarakan tentang kematian.” sekarang tatapan Edward padaku tajam dan dingin,
“Maaf.” hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari kerongkonganku,
“Jangan pernah membicarakan itu lagi, kau pasti sembuh.” Edward sekarang sudah merengkuh wajahku,
“Iya… Tapi…” belum sempat aku menyelesaikan kalimat itu Edward dengan antusias dan bergairah telah melumat bibirku, ciumannya memang berbeda dari ciuman Rio. Apakah aku telah jatuh cinta padanya?
“Ayo.. kita pergi.” setelah Edward selesai menciumku, Edward menancapkan gas dan pergi dari rumah Rio. Perjalanan ini bagiku sangat lama, tapi aku tahu kalau Edward membawaku bukan kearah rumahku melainkan kearah Bandung, aku hanya bisa diam saja tanpa berkomentar apapun kepada Edward.

Akhirnya kami sampai di pelosok Bandung yang pemandangannya masih hijau dan sejuk. Terpampar sawah dan bukit-bukit yang asri menjulang dengan indah yang akan menyejukkan hati dan pikiran. Tapi perjalanan kami belum sampai, kami harus berjalan lagi melewati jalan setapak yang masih bertanah dan melewati jembatan penghubung. Aku bisa mendengar ada suara air terjun dari sana, apa Edward tahu kalau aku suka pemandangan yang indah. Ternyata benar, ada air terjun yang sangat indah menghiasi akhir perjalanan kami. Edward sudah membopongku agar sampai ketengah air dan kami duduk dibatu di tengah-tengah air terjun.

Hening…
“Edward?”
“Ya.”
“Ini dimana?” tanyaku karena penasaran,
“Ini di Curuk. Kau suka.” aku pun mengangguk karena tempat ini sangatlah indah,
“Kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku padanya,
“Ada yang ingin aku sampaikan.”
“Apa?” posisi tubuhku sekarang sudah berdiri didasar danau, dengan sangat hati-hati aku menoleh kebelakang dan udara sejuk yang dibawa air terjun menerpa wajahku hingga seluruh badanku. Bajuku sudah basah karena terpaan angin yang sangat kuat.
“Nad.. kau bisa mendengarku?” Tanya Edward padaku dan aku mengangguk pelan karena suara Edward sudah sangat keras sekarang.
“Aku… cinta… sama kamu… Maukah kamu menjadi… pacarku?” sekilas aku tak bisa mendengar suara Edward tapi aku bisa mengartikan bibirnya membentuk kata cinta dan aku langsung tahu maksud dari semua ini. Entah sensasi apa yang membuatku menjadi dilema seperti ini, pertama karena aku masih mencintai Rio, kedua karena aku sadar saat ini aku juga mencintai Edward dan yang ketiga aku tak mau menyakiti hati siapa pun mau itu Edward atau Rio.
“Edward.” aku mencoba melihat matanya dan aku mulai merengkuh wajahnya supaya aku bisa dengan jelas melihat wajahnya lebih dekat.
“Maaf,,, tapi aku memang tak ingin. Maaf.” sudah berapa kali aku menolak cinta dari Edward, aku sekarang juga bingung mau memilih yang mana. Aku terlanjur cinta pada mereka berdua.
“Katakan saja…” suara Edward menyadarkanku,
“Ed… Aku cinta sama kamu… Tapi aku tak bisa… Maaf.”
“Nad… Kau lebih memilih dia?”
“Aku tak tahu. Aku mencintai kalian berdua, tapi aku tak mau menyakiti hati siapa pun disini, Maaf sekali lagi.”
“Tolong katakan padaku… Cium aku.” aku mencerna kata-kata Edward barusan, sampai-sampai aku mengernyitkan dahi.
“Cium aku.” kalimat itu keluar, dan Edward langsung menciumku dengan ganas tapi masih terasa lembut dibibirku. Tangannya sekarang sudah masuk kedalam rambutku dan aku mulai menjambak rambutnya. Kami berciuman sangat lama, sampai aku tak bisa menghirup udara disekelilingku. Edward melepas ciumannya dan aku bisa menghirup udara lagi, karena sudah mau sore kami pun memutuskan untuk pulang.

0 komentar:

Posting Komentar