Di cottage, orang-orang khawatir dengan kondisi Nadya dan Rio. Semua orang, sampai warga sekitar juga merasa cemas. Gita sekarang sudah menangis sekarang “Ya, tuhan.” pekik Ichi “Hujannya makin deras.”
“Ini salahmu.” teriak Doni kepada Ichi,
“Aku?” Ichi menimpali,
“Ya, kau bilang mereka akan selamat.” Doni marah sekarang.
“Kau juga bilang tinggalkan mereka.” Ichi membela diri, Ran sekarang memeluk Gita yang makin histeris, “CUKUP!” suara itu lebih galak,
“Itu tak akan membuat kondisi lebih baik.” Harry cukup tenang sekarang.
“Dia benar, kita masih bagus masih ada yang mau bantu mencari.” tiba-tiba pak kepala desa dan satpam datang. Ichi, Doni dan Harry menghampiri mereka.
“Bagaimana, Pak?” Tanya Harry “Tidak ada, tak ada yang melihat mereka.” kata Pak kepala desa. “Tolong, Pak. Cari mereka lagi,” kata Ichi “Baik, neng. Kami akan membantu.” kata Pak Kepala Desa dengan sopan “Permisi neng,” mereka langsung pergi. Ichi sekarang hampir menangis “Selamatkan mereka.” akhirnya air mata jatuh di pipi Ichi, dan semua anak pelangi mulai berdoa untuk Nadya dan Rio.
Di perjalanan, Rio mulai menggigil dan dia sempat terhuyung beberapa kali.
“Rio.” suaraku makin cemas “Jangan dipaksakan.” kataku lagi, “Tak apa.” kata Rio, tapi sekarang bibirnya mulai putih badannya beku.
Aku ingin menangis rasanya, kami terus berjalan melewati hujan yang dingin. Sekilas aku melihat lampu dan rumah yang tingkat, senyum langsung bermekaran di mulutku.
“Itu dia, itu cottagenya.” aku senang bukan main “Rio.” panggilku lagi, tapi Rio sudah pingsan sekarang. Aku kelabakan. “RIO.” aku memanggilnya sangat keras sekarang, kakiku masih sakit rasanya. Akhirnya kupaksa kakiku untuk turun, kupegang badan Rio dan aku naik dengan susah payah hanya demi Rio. Bertahanlah doaku dalam hati, aku berganti tempat dengan Rio. Kutunggangi kudaku walau aku tahu kudaku juga sangat lelah, kupaksa kudaku supaya berlari kencang. Kudaku berhasil berlari, benar itu adalah cottage kami. Tapi anehnya banyak orang disana, aku heran dibuatnya.
“Itu dia,” ada seseorang menunjuk kami,
“Neng, mereka datang.” seorang warga memanggil Ichi dan yang lain kalau Nadya dan Rio datang,
“Nadya…” suara itu Ichi, aku tahu. “Guys---“ kataku, aku lega mendengarnya, yang lainnya membantu kami turun. “Kalian—“ suara Ichi tak percaya.
“Kau—berdarah. Rio—pingsan. Apa yang terjadi?” Tanya Ichi padaku. Belum sempat aku jawab, napasku seperti berhenti. Aku pingsan, untung saja Harry cekatan membopongku. Dan Rio, dia dibawa oleh Doni dan warga sekitar. Aku lega rasanya, akhirnya aku benar-benar pingsan dan tidak sadarkan diri.
Aku terbangun. Aku bisa merasakan ada mata yang memandangiku. Sangat silau, sampai-sampai kusipitkan mataku saking silaunya.
“Dimana Rio?” tanyaku tiba-tiba,
“Dia sedang istirahat.” jawab Ichi, “Apa yang terjadi.”dia melanjutkan,
“Aku--- “
“Kenapa badanmu penuh luka dan berdarah?” tanyanya lagi,
“Aku— jatuh ke jurang.” Ichi terpekik kaget mendengarnya, “Maafkan aku.”
“Kau tidak salah. Kita harus berterima kasih pada Rio.”
“Aku mau melihatnya..” kataku memaksa,
“Nadya…” kata Ichi “Kakimu-- cedera.” kata Ichi yang aku tahu dia tak ingin membicarakannya “Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin melihatnya.” aku hampir menangis “Baiklah.” Ichi kalah, dengan sigap Harry menggendongku untuk bertemu dengan Rio. Ditaruhnya badanku disebelah badan Rio.
“Tinggalkan aku.” aku menyuruh yang lainnya pergi “Dan jangan pernah mengintip. Jangan pernah.” nadaku seperti mengancam sekarang, semua orang sudah keluar sekarang.
“Kau boleh membuka matamu sekarang..” kataku yang tahu kalau Rio hanya berpura-pura tidur,
“Terima kasih.” kata Rio langsung dan membetulkan posisi tidurnya menjadi posisi duduk.
“Kau tidak apa?” Tanya Rio padaku,
“Aku baik, jauh lebih baik.” Rio tersenyum mendengarnya,
“Coba kulihat lukamu.” tangan Rio langsung menarik wajah, kaki dan tanganku “Hei.” kataku yang kesakitan “Maaf.” katanya lagi, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Kenapa kau tak pernah menolak ketika aku menciummu?” Tanya Rio tiba-tiba “Karena...” aku terdiam sejenak “Sudahlah—“ tanpa pikir panjang Rio langsung mencium bibirku, aku merasa senang dengan ciuman itu. “Ouw.” tiba-tiba aku merasa kesakitan “Kenapa?” tanyanya lagi,
“Kau menekan lukaku.” kataku lagi, yang sekarang posisi dudukku berubah menjadi tiduran “Maaf.” Rio berhenti menciumku “Bagaimana jadinya ya kalau yang lain tahu.” aku tersenyum mendengarnya,
“Kami sudah tahu Rio.” seseorang membuka pintu dan Ichi marah bukan main pada kami “KALIAN?” kata Ichi tak percaya, tiba-tiba Doni langsung menghajar Rio dengan keras begitu juga Harry.
“Jangan.” kataku tiba-tiba,
“KAU BILANG JANGAN.” Ichi murka sekarang, aku berdiri dan membantu Rio untuk berdiri. PLAK! Ichi menamparku sangat keras, “KALIAN ADA HUBUNGAN APA?” Tanya Ichi, aku bisa merasakan tangan Rio merangkulku.
“KAU GILA--- SAHABAT JADI CINTA—APA ITU? HAH? APA? Ichi marah menjadi-jadi “KALIAN MENUTUPINYA DARI KAMI. APA INI YANG NAMANYA SAHABAT?” Tangan Ichi hampir menampar tanganku lagi tapi hal itu dicegah oleh Rio “JANGAN SENTUH DIA.” Rio marah sekarang tapi tak ada yang melerai kami.
Aku merasakan jantungku berhenti, aku tak kuat menahan lagi. Paru-paruku sesak, “Rio.” aku seperti tercekik memanggil namanya. Rio menggendong tubuhku lagi, aku tak pingsan tapi rasanya seperti mati, yah, aku akan mati sekarang.
“KAU PUAS SEKARANG!” kata Rio kepada semuanya yang lalu pergi membawaku. “Tenang, aku akan membawamu kerumah sakit.” aku bisa merasakan mesin mobil berbunyi dan kami pergi. Di perjalanan tangan Rio tak berhenti menggenggam tanganku, aku tak kuat lagi. Aku benar-benar tak sadarkan diri sekarang.
pelangi dengan tujuh sahabat (part 5)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar