Buscar

Little Author

pelangi dengan tujuh sahabat (part 6)


Mati…

                Putih, silau. Aku terbangun, sekilas aku membayangkan apakah ini surga ataukah neraka? aku tak tahu, yang kutahu aku sudah mati. Aku meninggalkan semuanya dan berakhir dengan tragis, tapi aku senang mati di pelukan orang yang aku cintai. Yah, aku sadar sekarang aku mencintai Rio. Tapi itu sudah terlambat sekarang, aku ingin sekali melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Tuhan, aku tak tahu apa artinya kehidupan dan kematian. Aku akan lebih hidup jika aku mati, aku tak kuat menahan sakitnya jantung ini berhenti. Kehidupan yang aku jalani sangatlah memberikan pelajaran yang amat sangat penting bagiku. Pertama aku mengerti bagaimana seseorang menyayangiku begitu tulus, keluargaku, sahabat-sahabatku. Aku percaya itu tidak akan mengubah semuanya, dan yang kedua aku belajar menerima kenyataan kalau aku hanya seseorang yang berhasil bertahan hidup untuk sementara dan yang ketiga aku belajar mencintai seseorang walaupun itu sahabatku sendiri. Karena dia-lah aku menerima kehidupanku, karena dia-lah aku tersenyum dan tertawa walau hanya untuk sementara. Tuhan, aku tahu aku akan segera kembali kehadapanmu, menjalani kehidupan yang sebenarnya. Aku sangat berterima kasih kepadamu telah memberikanku segalanya.

        “Nadya..” suara yang bagaikan beledu dan lembut itu membuyarkan lamunanku, kulihat sosok yang sangat kukenal. Rio! Tuhan benar-benar baik, aku dipertemukan olehnya lagi, “Rio?” suaraku sangat lemah, “Dokter, dia sadar.” Rio memanggil dokter yang aku kenal, dia Papaku.
        “Oh, tuhan. Terima kasih.” Papaku melihat diriku bagaikan mainan baru, berarti aku belum mati. “Aku akan beritahu Mamanya dulu, jaga dia baik-baik.” Papaku meninggalkan aku dan Rio diruangan itu. Rio duduk dan menggenggam tanganku.
        “Dimana kita?” tanyaku,
        “Kau dirumah sakit, aku tepat waktu membawamu. Kau selamat.” kata Rio yang penuh kegembiraan, dan dia tersenyum.
        “Aku belum mati?” Tanyaku lagi,
        “Ssst… Jangan bicara seperti itu.” katanya lagi dan Rio mencium tanganku, aku salah aku masih hidup. Ya, tuhan.
        “Rio.” perkataanku membuat kerongkonganku kering,
        “Apa?” Tanya suara itu yang begitu lembut,
        “Aku--- mencintaimu.” kata-kata itu terlontar begitu saja,
        “Aku juga, Sayang. Sangat mencintaimu.” Rio langsung mencium keningku, “Tapi, aku tak bisa bertahan hidup lebih lama.” kataku lagi,
        “Kau masih hidup, masih hidup.” sekarang air matanya keluar dan aku ikut menangis juga, “Kau harus mencari penggantiku, aku bukan yang terbaik untukmu.” kata-kata itu terlontar begitu saja.
        “Kau bicara apa? Kau yang terbaik bagiku, kau yang segalanya untukku.”
        “Tapi dirimu tak berarti apa-apa bagiku.” suaraku meninggi sekarang walaupun aku menangis, hanya itu yang terbaik untuknya, yah, aku tidak menyesal mengatakan hal ini. “Biarkan aku menunggu kematian datang menjemputku.” kataku lagi,
        “Nadya… Ssst.. Kau tak tahu apa yang kau bicarakan.”
        “Aku tahu apa yang kubicarakan.” bentakku padanya,
        “Nadya… dengarkan aku.” Rio menatapku lekat-lekat “Jangan pernah berbicara seperti itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Walau badai datang sekaligus, tak akan pernah.” aku menangis menjadi-jadi sekarang “Dan aku mau kau janji padaku” aku berkata pada Rio,
        “Apa?”
        “Lakukan semua permintaanku.” aku menambahkan,
        “Selalu, Sayang.” lalu Rio mencium dahiku sekali lagi.

                Keesokkannya, aku terbangun dan melihat Rio masih berada disampingku. Dia masih tertidur dengan nyenyak, aku langsung membelai rambutnya yang kasar.
        “Oh.” katanya dan hal itu membuatku kaget,
        “Kau sudah bangun.” katanya lagi,
        “Kau pasti lelah.” kataku kepadanya,
        “Sangat, tapi aku tak mau dan tak akan pernah meninggalkanmu.”
        “Pulanglah,”  tapi hal itu ditolak oleh Rio,
        “Hari ini kau boleh pulang, aku sudah membawa barang-barang kita dari cottage. Aku belum menceritakan kondisimu pada yang lain.”
        “Kau serius?” tanyaku tak percaya,
        “Ya, aku pura-pura marah pada mereka.”
        “Mereka tidak curiga?”
        “Aku bilang kalau kita sudah berpacaran.” aku terpekik kaget mendengarnya, “Dan coba tebak—orangtuamu mengizinkan aku menjadi pacarmu.” seketika itu juga darah mengalir begitu deras di dalam jantungku, entah apa yang aku dengar. “Kau bercanda?” tanyaku padanya, “Aku tak bercanda sedikitpun.”
        “Rio—“
        “Ssst… Jangan bicara lagi, kau harus mandi sekarang,” lalu Rio memanggil sekertarisku. “Pagi,” kata sekertarisku yang yang bernama Viona. Setelah Rio memanggil Viona, dia langsung keluar kamar,
        “Apa yang kau lakukan disini, Viona?” tanyaku padanya,
        “Ibu menyuruh saya untuk merawat nona, saya turut sedih dengan kondisi nona. Dan saya pun setuju untuk merawat nona, selama ini nona sudah banyak membantu saya dan Pak Sule. Ijinkan saya nona.” mendengar penjelasan itu membuatku tersenyum.
                Sore ini aku diperbolehkan pulang. Tapi aku harus memakai kursi roda, pertama kerena kakiku cedera dan kedua karena tubuhku sangat lemas sekarang.
                Wajahku pucat, bibirku putih, seperti mayat hidup rasanya. Dan yang paling membuatku aneh, tatapanku kosong. Aku diantar oleh Viona, Pak Sule. dan tentu saja Rio, yah, Rio selalu berada di sampingku. Dia tak pernah meninggalkan aku sendiri, kecuali pada saat mandi. Aku duduk diam di dalam mobil, walau Rio berusaha mengajakku berbicara tapi tatapanku tetap kosong dan mengarah ke langit terus-menerus.
               
                 Kami tiba di rumah, banyak orang pastinya. Mama, Papa, Adikku dan Anak Pelangi. Rio membukakan pintu untukku, dan aku duduk di kursi rodaku lagi. Tatapanku masih kosong, “Welcome.” kata Rio padaku. Semua orang menyambutku dengan semangat, apalagi Mamaku. Tapi yang aku lihat semua Anak Pelangi tampak heran dengan kondisiku. Aku diantar Rio menuju kekamar, setelah dicium oleh Mama dan Papaku pastinya. Yang lainnya mengikuti kami dibelakang, Rio langsung mengarahkanku ke jendela. Aku sangat senang karena sudah memandang langit, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku.
        “Hai.” sapa Ichi padaku, tapi aku tidak menggubrisnya mataku tetap ke arah langit yang biru “Surprise.” kata Ran dan Gita berbarengan. Spanduk selamat datang mereka tunjukan padaku, tapi aku tetap tidak menggubrisnya.
                 Aku merasakan suasana sepi sekarang, aku yakin kalau yang lain heran dengan sikapku. Aku membeku ditempat, dengan tatapan kosong dan perasaan yang hampa.
        “Nadya.” suara yang begitu lembut membangunkanku, aku tersenyum kecil menjawabnya, “Kau kenapa?” Tanya suara itu lagi, aku masih tetap tidak menjawab.
                 Ichi menangis sekarang, dan dia menghampiriku. Baru pertama kalinya aku melihat Ichi menangis. “Maafkan aku.” katanya lagi tapi aku masih tetap memandang langit dengan hampa. Ichi menyerah, dia ditenangkan oleh Ran dan Gita dibelakangku.
                Rio membelai rambutku dengan halus, Doni menggenggam tanganku. Dan Harry berada didepanku.
        “Sadarlah.” kata Harry padaku, tapi Harry juga menyerah. Akhirnya semua Anak Pelangi keluar dan meninggalkan aku berdua dengan Rio.
        “Kau kenapa?” Tanya Rio padaku, tapi aku hanya menggeleng pelan,
        “Jangan bohong padaku.” suaranya meninggi sekarang, tiba-tiba air mataku jatuh. Tangis itu langsung diseka olehnya, rasanya aku lebih baik mati daripada menangis terus-menerus.
        “Apa yang lain sudah tahu penyakitku?” aku memulainya,
        “Belum.” katanya lagi dengan senyuman,
        “Aku mau jalan-jalan.” aku mengatakannya,
        “Kau baru pulang, bagaimana kalau besok. Kau harus istirahat.” suara Rio cemas “KALAU BEGITU, KELUAR SEKARANG JUGA.” aku marah dan aku langsung mengusir Rio keluar dari kamarku. Aku membanting pintu kamarku dan aku langsung tertidur.
                Di luar yang lainnya menunggu, “Apa yang terjadi?” Tanya Mama Nadya pada Rio “Dia hanya lelah.” kata Rio.
        “Dia kenapa?” sekarang Ichi bertanya,
        “Dia baik---kalian tak perlu tahu.” kata Rio lagi.
        “Kenapa kami tak boleh tahu?” Tanya Doni dengan garang,
        “Belum saatnya,” Mama Nadya ikut memberitahukan,
        “Please,” kata Gita dan Ran bersamaan,
        “Jangan.” Rio menggelengkan kepala, akhirnya Anak Pelangi pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya Rio yang masih disana.
        “Tante.” kata Rio, “Besok saya akan mengajak Nadya jalan-jalan. Bolehkah?” Rio melanjutkan “Tentu.” Mama Nadya setuju dan tersenyum padanya.


0 komentar:

Posting Komentar