Kontrol…
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar untuk berbenah dan mandi, tiba-tiba mamaku masuk dengan ekspresi marah “Dari mana kamu?” Tanya mama padaku, “Kamu tahu, papa sudah mencarimu kesana kemari, mama sudah menelpon Hp-mu dan klinikmu tapi kau tak ada, jangan bikin mama cemas. Kamu tahu kan kamu harus kontrol dan menjaga dirimu.” mama memberhentikan pembicaraannya karena aku terus membereskan bajuku tanpa mendengarkan pembicaraan mama.
“Kamu dengar tidak sih?”
“Aku dengar Ma.”
“Kemana aja kamu?”
“Ma, Nadya sudah besar sekarang. Terima kasih karena kalian telah mengkhawatirkan kondisi Nadya, tapi Nadya baik-baik saja. Bilang sama papa, besok Nadya akan control jantung Nadya.” lalu aku memeluk mamanya erat-erat.
“Aku lelah, biarkan Nadya istirahat.” mama pun mengangguk dan mencium keningku dan pergi ke luar, setelah mama pergi, aku menghela napas dan berbaring di tempat tidur. Tak terasa aku sudah memejamkan mata dan terlelap.
Keesokkannya, aku bangun dengan pikiran jernih. Ku ambil Hp-ku, tak tahunya ada tiga pesan yang tertera di event baru. Aku membuka tiga pesan itu.
Yang pertama dari Rio, yang berisi :
“Pagi, sayang. Bagaimana kondisimu?”
Yang kedua dari Harry, yang berisi :
“Selamat pagi.”
Dan yang ketiga dari Ichi, yang berisi :
“Nad, anak pelangi pada mau ketemuan di food court sore ini. Ada yang mau diomongin, datang ya. See you.” Setelah melihat tiga pesan itu, aku bergegas ke kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian, aku turun untuk sarapan.
“Pagi, semua.” aku menyapa semua anggota keluargaku di meja makan,
“Pagi, nak.” jawab papaku, “Kamu sudah siap control?” Tanya Papa,
“Selalu.” jawabku sambil tersenyum.
“Nadya, jaga kondisimu baik-baik ya.” Mama mulai bicara sambil meletakkan roti berselai coklat ke piringku,
“Sudahlah, Ma. Nadya sudah besar sekarang.” kata Papa tiba-tiba, selama ini memang Papaku lah yang benar-benar mengerti kondisiku,
“Pa, Ma. Sore ini Nadya mau ngumpul sama Ichi dan yang lain. Boleh tidak?” Tanyaku kepada kedua orang tuaku,
“Tidak boleh.” Mama langsung menjawab dengan muka marah,
“Boleh kok, asal jangan pulang kemalaman.” Papa tersenyum.
“PAPA.” Mama kaget mendengar jawaban Papa,
“Ma, yang penting Nadya sudah kontrol.” Papa menjawab dengan tenang,
“Baiklah.” Mama menyerah dan langsung mencium keningku,
“Makasih, Nadya berangkat ke klinik dulu ya. Nadya control jam sebelas siang.” aku pergi tapi sebelum itu aku mencium kening Mama dan Papaku dan membelai rambut Adikku yang bernama Kiky.
Di klinik, aku menerima semua pasien dengan ramah. Banyak pasien yang kangen padaku, apalagi binatang-binatangnya. Hari ini, aku sangat lelah sekali. Sampai pada saatnya jam sebelas, aku minta izin ke sekertarisku untuk pergi control. Selama ini aku memang menderita penyakit gagal jantung, dan salah satu caranya adalah rutin control setiap hari, yang tahu penyakitku hanyalah keluargaku, supir dan sekertarisku saja. Aku tiba di rumah sakit sekitar pukul dua siang, papaku adalah dokter disana, aku diambil darahnya untuk stempel mengenai jantungku apakah membaik atau malah memburuk. Pemeriksaan selesai jam empat siang, akhirnya aku memutuskan untuk makan siang di kantin rumah sakit. Ketika sudah selesai, aku pamit pada Papaku dan pergi ke food court tempat ngumpul Anak Pelangi. Sesampainya disana Anak Pelangi sudah lengkap semua, aku menyapa mereka yang duduk disana.
“Hai?” sapaku pada mereka semua.
“Dari mana aja, neng?” Tanya Ichi agak marah,
“Maaf, banyak pasien di klinik.” aku menjawab sambil tergagap.
“Apa yang mau kalian bicarakan?” Tanyaku kepada yang lain,
“Begini, bukan itu sih, tapi aku mau curhat.” jawab Ichi,
“Apa?” Tanyaku lagi.
“Pasienku.” suara Ichi hampir menangis,
“Ada apa?” Tanya Harry cemas,
“Pasienku punya penyakit gagal jantung, dan siang ini dia….” Ichi menghela napas panjang dan berkata “Meninggal.” air mata Ichi tumpah di pelukan Ran,
“Kau bercanda?” Tanya Rio yang tak percaya,
“Bagaimana bisa terjadi?” Tanya Gita,
“Operasinya gagal, dan memang orang yang punya penyakit gagal jantung hanya bisa menunggu kematian menjemputnya.” jawab Ichi tersedu-sedu, hal itu membuat Nadya shock dan sedih.
“Kami ikut bersedih.” suara Gita menenangkan,
“Aku mau ke toilet.” tiba-tiba aku ingin menangis sekarang.
“Tunggu.” Rio akhirnya mengikutiku dari belakang, sebelum masuk ke toilet wanita, Rio menarik tanganku dengan kasar,
“Lepaskan, Rio.” aku berusaha melepaskannya tapi usaha itu sia-sia karena Rio menggenggam tanganku erat sekali.
“Aku ingin bicara.” nada suara Rio sangat serius,
“Ada apa?” Tanyaku hampir menangis,
“Apa yang kau lakukan siang tadi di rumah sakit. Kau bohongkan?”
“Aku tidak bohong.”
“Katakan….” desak Rio lagi, “Kau keluar dari ruangan pemeriksaan.”
“Aku menemui Papaku.” aku memang tidak berbohong,
“Kau tidak berbohong.” Tanya Rio tak yakin,
“Ya, aku tidak bohong. Papaku memang jadi dokter disana, sekarang bisakah kau lepaskan tanganku.” aku marah sekarang tapi air mata tak kuasa ku tahan tapi untungnya air mata itu tidak jatuh,
“Oke, maaf.” Rio melepas tanganku dan kembali ke meja tempat yang lain duduk.
Aku tiba di rumah jam 20.00, aku bergegas menuju laptopku dan membuka blog-ku. Disana aku bisa menulis apapun yang aku rasakan, aku menulis sebuah kata-kata, yaitu :
Anganku memang sudah hilang,
Waktuku hanya tinggal menunggu,
Detak napas yang aku rasakan,
Sudah hilang bagaikan pasir yang ditiup angin,
Detik demi detik ku jalani tanpa henti
Hanya tinggal menunggu kepastian yang belum pasti
Tak kuasa kutahan rasa sakit yang melanda
Ketika detak ini tak lagi berdetak
Hanya waktu yang berbicara,
Dan hanya waktu yang menahan semuanya,
Ketika diri ini jatuh tak bernapas
Tak terasa air mataku tumpah begitu saja, setelah aku menulis dan aku merasakan badanku lelah aku memutuskan untuk tidur. Belum lima menit aku tertidur, Hp-ku berbunyi. Rio menelpon, dengan malas aku mengangkatnya.
“Halo.” jawabku sambil menguap.
“Hai, udah tidur?” Tanya Rio,
“Kalau aku sudah tidur, telponmu tak akan kuangkat.” aku agak kesal sekarang,
“Uups, aku lupa.” Rio menjawab sambil tertawa,
“Ada apa?”
“Besok ada acara tidak?”
“Tidak ada, aku cuti sebulan di klinik. Kenapa?”
“Aku mau ngajak kau nonton. Bisa tidak?”
“Aku tak suka nonton, kalau filmnya bukan Harry Potter atau Twilight.”
“Kalau begitu, ada kejutan untukmu.”
“Oh, baiklah.”
“Oke, besok aku jemput jam sembilan ya.”
“Ya sudah, ada lagi?” suaraku mulai menguap lagi,
“Tidak ada, terima kasih. Selamat malam, dan mimpi indah.” tanpa pikir panjang aku langsung menutup telponnya dan pergi tidur lagi.
Kebongkaran Yang Bicara…
Keesokkannya Rio benar-benar menjemputku, aku meminta izin untuk keluar. Dan kami pergi dengan mobil, “Mau kemana kita?” Tanyaku pada Rio, “Lihat saja nanti.” Rio menjawab sambil tersenyum. Rio membawaku ke salah satu perayaan, disana ramai dengan pengunjung. Ada yang foto-foto, berbincang, banyak makanan dan permainan disana.
“Dimana ini? Tanyaku lagi,
“Festival.” jawab Rio.
“Kau bercanda?” aku tak percaya menyaksikannya,
“Aku tahu, kau suka dengan festival.” suara Rio penuh kemenangan,
“Trims.” aku senang karena sudah diajak oleh Rio, kami jalan-jalan menyusuri festival. Kadang kami foto-foto, kadang juga kami membeli jajanan kaki lima. Akhirnya hari sudah malam,
“Pulang yuk.” ajakku pada Rio,
“Kau belum melihatnya yang terakhir.” pinta Rio, lima menit kemudian suara ledakan di atas langit memecahkan kesunyian,
“Indah.” pekikku yang terpesona,
“Aku benarkan.” Rio tersenyum tapi ada yang aneh denganku, kepalaku pusing, sulit bernapas rasanya, akhirnya aku pingsan karena tak mampu menahan sakitnya jantung yang terus memompa,
“Nadya.” Rio kaget melihatku yang jatuh tak berdaya, Rio langsung menggendongku ke mobil dan pergi ke rumah sakit.
Ruangan itu putih, silau rasanya melihatnya. Ada orang yang bercakap-cakap di luar, dan dia menghampiriku yang terbaring lemah di tempat tidur.
“Kuharap itu jadi pengalaman untukmu, Nadya.” dokter itu berbicara padaku, “Aku akan memberitahu ayahmu.” kata dokter itu lagi.
“Jangan.” pintaku yang hampir menangis,
“Aku mohon jangan beritahu mereka, aku tak ingin membuat mereka khawatir. Aku janji akan menjaga kondisiku lebih baik.” air mataku tumpah karena tak kuat menahannya,
“Baiklah, berjanjilah pada dirimu sendiri. Aku sudah memberitahukan pada temanmu yang membawamu kemari.” setelah bicara, dokter itu langsung keluar dan mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalam. Aku lupa ada Rio disini.
“Rio.” suaraku melemah dan air mata membanjiri pipinya sekarang.
“Kenapa?” suara Rio sedih, sambil menghapus air matanya.
“Maaf. Bukannya aku tak mau, tapi aku tak bisa.”air mataku kini jatuh lebih deras, “Aku tak percaya.” Rio menggenggam tanganku dengan erat,
“Maafkan aku.” aku terisak dan napasku seperti orang yang sehabis lari marathon, “Aku sayang kalian.” suaraku kini tidak terdengar lagi.
“Cukup, jangan menangis. Aku tak akan memberitahukan kepada siapa-siapa. Tapi maukah kau berjanji?” Rio masih terus menggenggam tanganku, “Apa?” aku masih tersedu-sedu tapi aku berusaha untuk berhenti menangis,
“Kau harus bilang padaku kalau kondisimu tidak baik, aku janji akan selalu menjagamu.” Rio berhenti bicara dan mencium keningku lama sekali, aku mulai menangis lagi. “Aku janji.” suaraku hampir tak terdengar di situlah Rio melepas ciumannya dan mulai menyeka air mataku yang tak mau berhenti,
“Sssst. Berhentilah. ssst.” Rio berusaha menenangkanku, “Kau boleh pulang sekarang, aku sudah minta izin pada dokter.”
Rio menggulurkan tangannya, dan aku mengambil tangannya yang hangat, dan Rio memeluk pinggangku dengan erat. Aku sadar karena tubuhku bergetar hebat dan aku menerima pelukan Rio. Kami berjalan menuju mobilnya, disana sudah menunggu supir yang biasa mengantar Rio “Kenapa kau tidak menyetir?” Tanyaku tiba-tiba, “Karena aku ingin terus menjagamu.” suara yang begitu lembut menenangkanku, kini aku sadar Rio orang yang sangat pergertian dan aku sudah menerimanya dengan sangat baik.
Sesampainya di mobil, kami duduk dalam diam. Malah sekarang, Rio memelukku lebih erat, sebenarnya aku tak kuat menahan kelopak mataku untuk terus terbuka, akhirnya aku membaringkan kepalaku didadanya, kukira dia akan menghindarinya tapi tidak. Rio memelukku lebih erat dan aku bisa merasakan kalau bibirnya menyentuh kepalaku. Entah apa yang aku rasakan; aku begitu nyaman di dalam pelukannya, aku merasa senang sekaligus sedih.
Aku tidur lebih dalam sekarang, tak terasa mesin mobil berhenti menderum dan pintu mobil menjeblak terbuka. Aku bisa merasakan badanku diangkat, tapi kelopak mataku tak mau terbuka. Rio menekan bel, ada seorang wanita yang kaget dan cemas melihat kedatangan kami. Aku tahu itu mamaku, pertama mamaku kaget karena melihat artis yang ia kagumi berada di depan matanya, mamaku emang penggemar berat Rio karena akting Rio sangatlah bagus, mamaku juga sudah tahu kalau Rio adalah sahabatku, tapi aku yakin mamaku lebih kaget karena Rio datang dengan menggendong putrinya yang tidak berdaya.
“Ya, tuhan.” aku bisa mendengar Mamaku kaget, mungkin kalau aku jadi beliau aku akan mati berdiri, “Papa.” Papa menghampiri Mama yang tak percaya apa yang dilihatnya. Mereka berdua melihat Rio dengan tampang keheranan.
“Malam, Oom. Tante.” suara Rio memecahkan kebisuan, “Bolehkah saya membawa Nadya ke kamarnya, dia sangat lelah hari ini.” lanjut Rio lagi.
“Tentu,” aku bisa merasakan Rio berjalan melewati Mama dan Papaku, sesampainya di kamarku. Rio meletakkanku dengan sangat hati-hati, diletakkannya selimut dia atas badanku. Rio hampir saja mau pergi, tapi aku langsung menyambar lengannya dan memaksa kelopak mataku untuk terbuka, “Terima kasih.” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. “Sama-sama, tidurlah.” Rio berkata sangat lembut bagaikan beledu. Rio keluar dari kamarku dan menuju ruang tamu.
“Oom, tante. Maafkan saya sudah membuat kalian kaget, saya janji akan menjaganya lebih baik lagi.” permintaan maaf itu tidak digubris oleh Papa Nadya,
“Duduklah,nak.” Papa Nadya dengan sopan mempersilahkan Rio duduk di ruang tamu, “Ada yang ingin kami bicarakan.” kata Papa Nadya lagi. Rio duduk dengan sopan, dan Mama Nadya datang dengan membawakan minuman untuk dua orang.
“Tak perlu repot-repot, saya sudah mau pulang.” Rio tidak enak melihat Mama Nadya membawa cemilan, “Tak apa.” Mama Nadya menjawab dengan enteng. Papa Nadya mengambil minuman itu dan meminumnya. Semua duduk dalam diam.
“Jadi, kau sudah tahu penyakit anak kami.” Mama Nadya memecahkan kebisuan, “Ya, tante. Saya sudah tahu.” hal itu dijawab oleh Rio dengan sangat baik, “Aku tak percaya Nadya memilihmu. Dikira dia akan memilih Ichi.” mendengar pengakuan itu membuat Rio kaget bukan main.
“Maksud Oom?” Rio bertanya lagi, “Begini nak, Nadya sudah menderita gagal jantung dari dia duduk di bangku SMA. Pada saat itu hanya Ichi yang menjadi teman dekatnya. Nadya memang sudah cerita kalau dia punya sahabat-sahabat yang baik. Tapi sampai saat ini, dia belum pernah cerita pada siapa pun mengenai penyakitnya.” Mama Nadya menjelaskan dengan penuh kesabaran,
“Jadi maksud Tante, Nadya sudah menyimpan rahasia ini begitu lama pada kami?” Rio lebih kaget dan tak percaya dengan sikap Nadya yang luar biasa.
“Itulah yang terjadi, Oom dan Tante saja sampai khawatir dengan kondisinya sendiri karena kondisinya sampai saat ini tidak kurun membaik malahan tambah buruk.” mendengar penjelasan Papa Nadya, Mama Nadya tak bisa menahan air matanya itu.
“Jadi, Oom mohon padamu, Rio. Jagalah Nadya dengan sangat baik, jangan buat kami kecewa. Oom dan Tante berharap, kondisinya akan membaik setelah ada sahabatnya yang tahu mengenai hal ini.” kini Papa Nadya mulai menenangkan Mama Nadya yang berada di pelukannya.
“Selama ini yang dilakukan Nadya hanyalah control terus dan akhir-akhir ini dia diam dan tak mau bicara.” lanjut Papa Nadya lagi.
“Saya berjanji, saya akan menjaga Nadya dengan sangat baik.” Rio meyakinkan kedua orang tua Nadya dengan penuh, “Bolehkah saya bertanya?” tiba-tiba Rio ingin sekali menanyakan hal ini. “Tentu.” jawab Papa Nadya,
“Apakah umur Nadya masih lama? Saya mohon maaf atas pertanyaan ini.” tapi pertanyaan itu tidak membuat Papa dan Mama Nadya heran apalagi kaget, Papa Nadya malah tersenyum dan berkata,
“Itu sudah menjadi pertanyaan kami selama ini, tergantung dia mengontrol emosi dan kesehatannya. Tapi kami harap dia tidak akan pernah pergi lebih jauh dari kami.” hal itu dimengerti oleh Rio, dan akhirnya karena sudah larut malam, Rio pamit pulang dan berjanji akan kembali besok untuk menemani Nadya untuk pemeriksaan.
Pelangi dengan tujuh sahabat (part 2)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


4 komentar:
aseeeekk novelis ni ye wk
hahaha pasti cape bacanya :p
iye kagak gue baca malah wkw
wooo nana jahat :(
hahahah
Posting Komentar